Setelah menuliskan posting saya sebelumya mengenai mbuletnya kenaikan BBM, saya kembali kepada diskusi dan perenungan yang dalam berkaitan dengan BBM. Tujuan inti kenaikan inilah yang saya cari. Merenungi dan berdiskusi dari segala macam sisi. Memang berat tanpa adanya dukungan data dan teori yang cukup kuat.
Ternyata ada banyak sudut pandang dalam melihat kenaikan BBM ini. Salah satunya yang sering didengungkan adalah ekonomi yang berpihak kepada rakyat. Ekonomi yang berpihak kepada rakyat ini menuntut adanya banyak subsidi yang digulirkan. Seperti menuangkan sekarung ikan di depan sekelompok orang yang kelaparan saja.
Dalam prinsip tersebut, lebih mementingkan ‘give them what they want, not what they need’. Maksudnya, berikan apa yang mereka inginkan, bukan yang mereka butuhkan. Mereka menginginkan ikan, maka diberikan sekarung ikan untuk merek bagi. Alhasil mereka akan berebut mendapatkan ikan paling banyak. Karena mereka juga ingin adanya ikan untuk esok hari. Bila dalam prinsip ini diberikan ikan untuk mereka makan hari ini, dan untuk besok mereka akan mengharapkan adanya sekarung ikan yang lain.
Dalam prinsip yang lain, ditekankan kepada ‘give them what they need, to get what they want’. Maksudnya, berikan yang mereka butuhkan, untuk mendapatkan yang mereka inginkan. Dalam prinsip ini mereka diberi kail untuk mendapatkan ikan mereka sendiri. Hari ini mereka mencari ikan, besok mereka dapat mencari ikan untuk makan mereka.
Kemudian berkaitan dengan kenaikan BBM. Ini bukan kail untuk mendapatkan apapun kecuali kreatifitas. Kreatifitas rakyat dalam menyiasati kenaikan BBM. Menyiasati penggunaan BBM. Mencari sumberdaya lain yang lebih murah daripada BBM.
Dapat juga dikatakan bahwa ini adalah pemaksaan pemerintah kepada masyarakat untuk berhemat. Sumberdaya minyak menipis karena penggunaan dan eksploitasi yang gila-gilaan. Padahal pembuatan minyak bumi tidak terjadi semudah membalikkan telapak tangan. Dalam ilmu ekonomi, bila pengeluaran lebih besar daripada pemasukan maka itu adalah defisit.
Lah kalau minyak bumi, pengambilan minyak bumi terus menerus yang lebih besar dibandingkan dengan kecepatan bumi dalam memproduksi minyak jelas pada suatu titik akan habis. Ibarat menjual pulsa seluler, bila ingin menaikkan harga, pasti pulsa tersebut sulit untuk didapatkan. Minyak bumi tidak berbeda dengan pulsa seluler.
Juni 1, 2008 at 12:42 am
[...] bbm, mandiri, manja, pemerintah, program | Menyambung diskusi yang ditumpahkan dalam sisi lain kenaikan BBM episode 1 kemarin. Pemikiran untuk menyambung tulisan tersebut mengganggu pekerjaan utama. Setiap saat selalu [...]
Juni 3, 2008 at 2:42 pm
lamo tak jumpo mas…
bttw,ni gak nyambung BBm ya mas…soalnya dah enek,itu2 mlulu..
gni mas,bentar lg kan euro,punya bagan pertandingannya gak mas…
juara per group ampe final nanti!
matur tengkyu