Diskusi II


Kok diskusi I tidak ada yang memberikan komentar ya? Apakah pertanyaan diskusi yang ditawarkan kurang menantang? Atau tidak ada solusi yang bisa dipikirkan untuk pertanyaan tersebut? Atau, memang tidak sempat membuat komentar karena akses internet mahal? Atau karena nilainya tidak ditawarkan?

Itu tadi bukanlah permasalahan untuk kita diskusikan sekarang. Ada banyak masalah yang dapat didiskusikan kali ini. Ada banyak pilihan topik untuk didiskusikan kali ini. Politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan. Bila ingin lebih mengerucut lagi, kita bisa menurunkannya menjadi Disiplin, kinerja, inovasi, privatisasi, kemandirian, dan masih banyak lagi lainnya.

Baik, diskusi kita kali ini masih membahas secara bebas, namun dengan topik yang sedikit lebih dalam keseharian. Masih banyak yang harus dicari solusinya demi kelangsungan hidup keturunan kita.

Background

Pada masa sekarang ini, orang lebih suka untuk mendatangi mall hanya untuk sekedar cuci mata atau berjalan-jalan. Sesungguhnya banyak tempat selain mall yang dapat didatangi untuk refreshing atau berwisata. Selain untuk menyegarkan pikiran, berjalan-jalan sekaligus mendapatkan ilmu yang baru dapat dilakukan di museum. Pada masa sekarang ini museum bukanlah menjadi tempat yang favorit untuk didatangi. Ada banyak faktor yang membuat museum tersingkirkan dari daftar tempat yang layak didatangi. Museum akan menjadi tempat yang mengingatkan pada kita dan anak cucu kita mengenai barang-barang atau kepahlawanan. Hanya saja, bagaimanakah kelangsungan hidup museum bila kita tidak memikirkannya sejak dari sekarang.

Problem to solve

Bagaimanakah solusi untuk menghidupkan museum?

Iklan

5 thoughts on “Diskusi II

  1. sebelumnya minta maap ya mas,diskusi kemaren saya mudik,jadi akses internet terbatas di kampung halaman..he..
    museum..
    jujur mas,terakhir kali ke museum tu pas study tour smp…. 😉
    zaman sekarang kan manusia dituntut harus selalu dinamis,tanggap teknologi dan informasi terkini..kalau yang disajikan dalam museum itu2 saja ya gimana ga bosen??museum itu terlanjur identik dengan tempat kuno,bersejarah,dan cuma tempat untuk mengenang masa lalu.ya ibaratnya kalau kita udah pernah datang sekali,udah tau,”o..seperti ini isinya..”
    jadi apa yang membuat kita tertarik untuk kembali lagi?besok atau lusa kita datang lagi juga nasih seperti itu,,gak ada sesuatu yang baru untuk diketahui..(khususnya museum2 sejarah kepahlawanan dan benda2 peninggalan sejarah lainnya,bukan museum iptek atau MURI yang tentunya masih sangat diminati karena menyajikan info2 terkini)
    sebuah organisasi harus mampu beradaptasi dan responsif terhadap kesempatan,tantangan serta mengevaluasi kekurangan kelebihan yang ada saat ini.begitu juga dengan pengelolaan museum.museum tidak akan survive bila tidak menciptakan inovasi2,membuat terobosan baru,berusaha untuk menangkap peluang yang ada bagaimana menarik benang merah antara peristiwa sejarah dan kehidupan masa kini serta menciptakan tambahan2 daya tarik pada museum tersebut.museum tidak hanya tempat bagi orang2 yang serius mempelajari sesuatu,harus ada sarana dan fasilitas lain yang enjoyable dapat dinikmati sebagai sarana refreshing.pengelola museum juga tidak hanya berdiam diri menunggu kunjungan,mereka harus aktif dalam mempromosikan,menggalang kerja sama dengan institusi2 terkait,serta menarik minat masyarakat dengan menyelenggarakan acara2 di museum tersebut.misalnya,museum budaya dapat bekerja sama dengan dinas pendidikan untuk mengadakan sebuah acara dengan tema pelestarian budaya dengan mengadakan lomba2 yang diikuti para pelajar seperti gamelan,nembang jawa,serta dalang masa kini.museum sejarah dan kepahlawanan bisa saja mengadakan seminar2 yang berkaitan dengan sikon politik saat ini dan keterkaitan dengan sejarah budaya politik indonesia. menurut saya yang penting pengelola museum menunjukkan eksistensi dan selalu berusaha menggali sesuatu yang baru sehingga museum dapat dipromosikan dengan menarik minat masyarakat melalui tawaran2 sesuatu yang baru dan mempertahankan agar museum tersebut masih familiar(terdenger gaungnya) di telinga masyarakat sehingga tidak dilupakan begitu saja. tapi tentu saja ada banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan usaha untuk menghidupkan museum kembali.perlu adanya sinergi antara pengelola,pemerintah dan masyarakat tentunya. sungguh dilematis jika ujung2nya selalu keterbatasan dana yang menjadi persoalan.
    sekian mas yang bisa saya sampaikan,moga slalu ada diskusi2 menarik yang bisa membuat saya termotivasi untuk mengungkapkan fikiran2 yang ada.

  2. Yup. Ini yang diharapkan dalam sebuah diskusi. Pemikiran yang lugas, singkat, padat dan jelas. Yang namanya museum itu kan sebenarnya tidak hanya itu-itu saja. Museum sesunguhnya selalu ada penambahan baru setiap menemukan atau memastikan bahwa barang itu bersejarah. Memang bila kita lihat dari museum perjuangan, isinya dari masa ke masa tidak berubah. Namun kita tidak hanya memiliki museum yang bertemakan perjuangan saja. Ada juga museum budaya semacam Affandi yang menampilkan benda seni milik pelukis Affandi. Juga ada museum Biologi yang juga tidak berhenti di situ saja namun akan terus berkembang seiring dengan adanya penemuan baru di bidang biologi.
    Yup. Memang komentar yang sangat menarik untuk didiskusikan. Ada komentar yang berbeda dari teman-teman yang lain? Terima kasih atas komentarnya.

  3. Bagaimanakah solusi untuk menghidupkan museum?

    Sebelum saya mencoba menguak misteri di balik sepinya museun di Indonesia (pada umumnya), saya akan memaparkan komponen-komponen produk pariwisata yang saya dapat pada mata kuliah Pengembangan Pariwisata (Dr. Bambang Sunaryo), yaitu :
    1. tourist attraction and activities
    2. accommodation
    3. other tourist facilities and services
    4. instutional elements
    5. other infrastructure
    6. transportation

    Enam komponen di atas merupakan sudut pandang saya dalam membahas dan diharapkan dapat mengobati sepinya museum di Indonesia.

    1. TOURIST ATTRACTION AND ACTIVITIES
    dalam sudut pandang ini, kita diharapkan dapat menilik dan mengetahui cara pandang dan pengharapan dari calon pengunjung museum. lebih dikenal dengan daya tarik apa yang bisa kita kemas di dalam gedung museum itu sendiri.
    Misalkan saja target kita adalah anak muda, sebagai konsumen kita mencirikan mereka dengan sifat konsumtif dan prestice (gengsi). dengan ini kita dapat memasukkan produk sajian dan daya tarik museum dengan menyediakan piranti-pirati miniatur objek museum. misalnya miniatur manusia purba, kalung tulang purba (gigi hewan purba), seruling, maupun baju / kaos yang bersablon susasana etnik masa lampau.
    Jikalau target, kita khususkan bagi Turism, kita dapat menjlin kerjasama dengan agensi-agensi tour, tentunya dengan menyajikan objek gerak sebagai penunjang objek diam(barang purba). sebagai ilustrasinya, jika museum menyajikan budaya batik jawa, museum dapat mendatangkan pengrajin batik untuk memperagakan cara-cara membatik, tentunya pada hari-hari tertentu saja, sesuai dengan kondisi keuangan untuk menghemat dan menjaga efektif-efisiensi museum.

    2. ACCOMMODATION
    berhubungan dengan lokasi tempat tinggal, tempat penginapan dari konsumen. sebisa mungkin tempat pendirian museum berada dekat dengan tempat tinggal konsumen (aktif). karena budaya kita sendiri sering menempatkan museum pada bagian sub-urban (pinggir kota) bahkan pelosok kota yang tidak terjamah konsumen. kita dapat mencontoh letak museum di luar negeri yang berada dekat dengan city-hall yang lengkap dengan taman rekreasi keluarga ataupun tempat pasangan muda berekreasi.

    3. OTHER TOURIST FACILITIES AND SERVICES
    berisikan fasilitas penunjang dan pendamping dari objek wisata, dalam hal ini museum. ketika kita mendengar kata fasilitas penunjang dan pendamping, saya dapat menyampaikan beberapa ide dalam pengembangan museum.
    Pertama, tentu saja jasa pemanduan yang membawa sekelompok pengunjung museum agar dapat lebih menikmati isi yang dipajang di dalam gedung. disini, pakaian (seragam) dapat disesuikan dengan tema bulanan maupun pajangan sehingga tidak terkesan monoton.
    Kedua, fasilitas istirahat, WC yang bersih dan mudah dijangkau, fasilitas telepon umum, wi-fi internet, dan kampus belajar yang lengkap dengan buku penunjang dari setiap objek museum yang ada.
    ketiga, background music theatrikal atau musik penunjang suasana etnik lainnya.

    4. INSTUTIONAL ELEMENTS
    dalam instutional elements berisikan organisasi ataupun pihak-pihak di luar museum yang ikut mendukung dalam pengadaan, pelayanan, penciptaan suasana pasar yang menunjang.
    Museum merupakan tempat wisata yang sangat memerlukan perhatian pemerintah, perusahaan swasta dan masyarakat. perhatian ini masih sangat kecil jika dibandingkan dengan banyaknya kekayaan peninggalan sejarah, budaya dan alam sekitarnya untuk kepentingan generasi penerus bangsa. untuk meningkatkan peran tersebut dapat saya usulkan berdasarkan konsep good govenance sebagai berikut:
    pertama, menciptakan keadialan baik dari pihak museum, pemerintah (daerah) , swasta, maupun masyarakat melalui pembagian peran yang saling menunjang hingga pembagian hasil kerjasama (kepemilikan saham).
    kedua, supremasi hukum. sama-sama menjunjung tinggi hukum, aturan bersama, maupun akte pendirian agar museum dapat terus eksis dan tidak mendatangkan masalah hukum nantinya.
    ketiga, visi strategis. selalu berpandangan ke depan dan tidak hanya mempersoalkan masa lalu dengan menggandengan agen penggerak dan pengembangan pariwisata, misalnya dalam bentuk kerja sama dengan institusi pendidikan yang ada dalam pengembangan museum. (misalnya saya sebagai mahasiswa adm.negara siap membantu pengembangan museum Indonesia dalam membuat visi strategis semacam ini). hee…
    keempat, berorientasi konsensus. dengan berpikir bersama, kerja sama yang sehat, bukannya memecah belah fungsi good govenance itu sendiri. Hal ini dapat dilakukan dengan mengadakan kerjasama dengan dinas pendidikan dalam hal penyususan kurikulum pendidikan TK (taman kanak-kanak), SD (sekolah dasar), SMP (sekolah menengah pertama), SMA (sekolah menengah atas), bahkan hingga jenjang perkuliahan. baik untuk studi wisata, penelitian-penelitan singkat, hingga penelitian mendalam guna meningkatkan kualitas pelayanan museum itu sendiri. selain itu, perlu juga kerja sama dengan agensi tour yang ada di daerah itu untuk memasukkan situs museum sebagai salah satu resort yang layak dikunjungi.
    kelima, efektivitas dan efisiensi pelayanan museum. baik dalam hal keuangan, pelayanan, dsm. saya dapat mengusulkan mengenai pembuatan tema pelayanan museum di setiap hari atau minggu atau bulan atau yang terlama pertahunnya. dengan tema ini, dapat terfokuskan target konsumen, target pendapatan, target pengeluaran, hingga target-target lainnya yang ingin dicapai oleh museum tersebut.
    keenam, akuntabilitas dalam bentuk kemampuan dan kesiapan mempertanggungjawabkan segala laporan keuangan, pelayanan, dan progres yang ada kepada semua pihak. sehingga museum dapat terus berkembang dengan pasti.
    ketujuh, daya tanggap. menyelesaikan masalah yang ada bukannya membiarkannya hingga akhirnya tertumpuk dan susah (mahal) dalam penyelesaiannya. aspek adaptasi dengan trend masyarakat perlu dilakukan disamping menjaga keutuhan gedung museum (peremajaan dan perawatan).

    5. OTHER INFRASTRUCTURE
    pelayanan publik yang berada dekat dengan museum atau bahkan menunjang pelayanan museum juga jangan lupa diperhitungkan. misalnya, telepon umum, kantin (khususnya air minum), hingga fasilitas keamanan museum yang bekerjasama dengan pihak keamanan masyarakat (polisi).

    6. TRANSPORTATION
    terdiri dari akses calon pengunjung museum untuk dapat masuk dan menikmati sajian di dalam gedung museum.
    Pertama, telah kita pahami, ada tiga dimensi transportasi, yaitu: darat, air, dan udara. dari ketiga dimensi itu dapat kita gunakan sebagai sarana periklanan museum. baik dengan bekerjasama dengan jasa transportasi darat, misalnya pemasangan iklan di badan-badan bus kota; dengan jasa transportasi air (laut), misalnya dengan pemasangan spanduk ataupun penyebaran pamflet museum dengan kemasan peta daerah dimana museum itu berada (dilakukan dengan kerjasama dinas pariwisata setempat untuk menghemat pengeluaran dan penempatan sasaran yang jelas), dan pada jasa transportasi udara dengan penempelan baliho dan spanduk demi meningkatkan pariwisata daerah.
    Kedua, penempatan post pemberhentian alat transportasi yang dekat dengan letak museum, misalnya halte bus. sehingga peluang pasar dari museum dapat lebih meningkat.

    demikian visi strategis yang dapat saya utarakan pada diskusi II kali ini, jika ada salah kata, saran yang terlalu futuristik dan susah untuk dilaksanakan, saya bersedia membantu demi menguak mister yang ada dalam sepinya museum Indonesia. Terimakasih : )

  4. @abah gigin:
    Perbandingan antar museum? Bila membahas museum secara spesifik (berdasarkan isi di dalamnya) akan menjadi sulit.

    Misalnya ketika membahas museum perjuangan dibandingkan dengan museum lukisan. Pasti akan berbeda dinilai dari bidang seni dan sejarah.

    Namun museum secara umum bisa dilihat dari pola public service. Ada service, attraction, performance dan sebagainya. Bila dari sisi bisnis harus ada keuntungan untuk meningkatkan semua itu.

    Kalau dari sudut pandang saya semaca itu. Mungkin kalau abah punya pendapat lain, mari kita diskusikan. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s