Diskusi Tujuh


Diskusi kelihatannya semakin memanas nih. Baik, sedikit warning bagi yang tidak memberikan komen untuk diskusi online, karena pembagi nilai total untuk menghasilkan nilai akhir adalah sama termasuk diskusi online. Jadi mohon maaf sebelumnya bila nanti setelah terjadi pembagian nilainya tidak mencukupi karena tidak aktif dalam diskusi

Memasuki diskusi ketujuh untuk periode kuliah ini. Dalam diskusi ini akan mengambil tema “Kualitas Pendidikan”.

Latar Belakang

Bangsa Indonesia dikenal secara luas di seluruh dunia sebagai negara yang berkembang. Sebagai negara yang sedang berkembang, Indonesia terus menerus berupaya untuk memajukan dan menyejahterakan kehidupan masyarakatnya. Salah satunya adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikan.

Upaya meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia melalui dunia pendidikan dimaksudkan agar masyarakat Indonesia khususnya generasi muda memiliki daya saing dan daya tawar yang lebih baik di dunia kerja. Salah satu cara untuk memperluas masyarakat berpendidikan adalah dengan mengeluarkan kebijakan tentang wajib belajar yang dahulu enam tahun menjadi sembilan tahun. Ditambah lagi dengan kebijakan mengenai sekolah gratis untuk tingkatan tertentu.

Sekolah gratis tentu saja tidak menunjukkan adanya peningkatan kualitas secara otomatis. Cara untuk mengetahui kualitas siswa adalah dengan evaluasi belajar berupa ujian baik di tengah semester maupun akhir semester. Bila perlu adalah dengan ditambah tugas-tugas atau kuis.

Sebuah evaluasi yang baik akan dapat menunjukkan kualitas apabila memiliki standar tertentu. Standar kualitas ini haruslah dicapai agar dapat dikatakan bahwa yang dievaluasi memiliki kualitas. Sebuah bidang baru dapat dikatakan berkualitas baik apabila standar kualitas tersebut berlaku secara universal. Tentu saja, standar kualitas ini dibuat untuk menyeragamkan atau menyamakan persepsi orang dalam melihat hasil evaluasi.

Permasalahan

Evaluasi dalam bidang pendidikan biasa dikenal dengan ujian. Ujian sekolah yang memiliki standar secara universal adalah Ujian Akhir Nasional. Berdasarkan uraian di atas, permasalahan diskusi kita kali ini adalah “Apakah UAN masih diperlukan?

34 thoughts on “Diskusi Tujuh

  1. kualitas pendidikan…?
    Indonesia memang memiliki banyak sekolah yg bertaraf internasional.namun banyak juga sekolah yang belum ma,pu menjamin anak didknya untuk dapat masuk secara mudah dalam pasar kerja.Standarisasi sekolah dengan instrumen UAN memang dirasa cukup efisien dalam penyeragaman/ penyamaan persepsi setiap orang.Tetapi hal tersebut menjebak bangsa ini untuk memendang kualitas/standar pendidikan berdasarkan orientasi nilai.

    Namun bagaimanpun jga alat ukur jangan di beda-bedakan. Sebagai pengukur, soal-soal UAN mestinya sama untuk semua jenis sekolah baik bermutu dan tidak bermutu. Yang menjadi masalah pada masa kini ialah tidak semua sekolah mendapat kesempatan meningkatkan mutu pendidikan dengan guru yang memadai sekaligus berkualitas, sarana yang lengkap berikut buku-bukunya. Tidak meratanya distribusi penunjang pendidikan inilah yang menjadi sebab mengapa alat ukur yang bersifat nasional tidak pernah memuaskan semua pihak. Yang paling tepat alias bagusss benahi dulu infrastruktur pendidikan seperti gedung, guru, buku, laboratorium baru diadakan pengukuran kualitas pendidikan nasional. Lagi pula pada era otonomi daerah dimana upaya pemberdayaan daerah tengah digalakkan penyelenggaraan ujian berskala nasional dan sentralistis mestinya dihapuskan.
    Sekolah gratis yg di sediakan oleh pemerintah namun tanpa totalitas dalam penyediaan fasilitas/ akomodasi dirasa kurang efektif.

    Sejak tahun 2004, Depdiknas memberlakukan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), yang sampai sekarang pun masih cukup membingungkan bagi para orangtua murid. Selain itu, program Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) juga mulai diberlakukan.Mlah hal ini dapat mmengakibatkan pertentangan UAN dalam kedua kurikulum tersebut (KBK & MBS )

    Seperti diketahui, KBK menekankan persamaan kompetensi dasar murid. Dalam hal ini fasilitas dan kualitas tenaga pendidik juga dapat disetarakan atau diperkecil disparitasnya. Meski demikian, di sisi lain, KBK tetap mengakomodasi muatan lokal. Sedangkan MBS memberikan otonomi kepada sekolah termasuk masalah kelulusan anak didiksehingga lebih mengedepankan asas desentralisasi. Padahal, kebijakan UAN ini justru menafikan realitas disparitas kualitas pendidikan dan bersifat sentralistik.
    wah…spertinya modal ijazah saja gak maen ya jaman skarang ini…???
    Untuk pendidikan di indonesia ini sebaiknya ditambah sistem yg diras mampu/ menunjang hasil pendidikan. Disamping wajib beljar 9 tahun, pendidikan usia dini, perluasan bidang pendidikan, perlu adanya program manajemen pelayanan pendidikan. Program ini bertujuan untuk meningkatkan koordinasi dan kemitraan dalam mengembangkan kebijakan, melakukan advokasi dan sosialisasi kebijakan pembangunan pendidikan, serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan pendidikan.
    Dengan begitu akann meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengembangkan pendidikan….??!!!

  2. congratulation ya mas…akhirnya banyak juga teman-teman yang mengikuti diskusi ini. tapi kog masih itu-itu saja ya? ehm, perlu dipanasin lagi ni di depan kelas… he… g kg bcanda.
    udah sampai diskusi 7 ya. tidak terasa…
    kali ini permasalahannya adalah “Apakah UAN masih diperlukan?”

    UAN ya mas?ehmm…

    loading

    !!!!!!
    !!!!!!!!!!!
    !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! complete…

    sebelum kita membicarakan prihal ulangan, ujian, dan uan tentunya, mari kita bersama-sama mengenang masa-masa indah ketika sekolah…tapi kenangan yang akan saya share-kan, yang sma saja, kenangan yang masih cukup fresh.
    ketika mendaftarkan diri di sma-sma favorit saya melihat istilah sma…terakreditasi A, status disamakan, status diakui, percontohan, terdaftar, hingga ada juga yang sma…status terdengar. untung saja saya berhasil masuk di sma yang cukup terdengar dan diakui akreditasnya sehingga banyak dicontoh sekolah lainnya. hee… loyola semarang namanya…
    disekolah ini, susah sekali mendapatkan nilai di atas 5 (lima koma nol). pelajaran yang membutuhkan keaktifan siswa, pemahaman tingkat tinggi, dan soal-soal ujian harian yang hampir tidak masuk akal kesulitannya. dengan menetapkan standar berbau foreign school, kami dididik dengan kurikulum buatan sekolah sendiri. jika kurikulum KBK mengajarkan b, sekolah saya mengajarkan b adalah huruf setelah a dan sebelum c. jadi lebih mendalam, walaupun kurang efektif dan tidak ada gunanya untuk kelulusan yang berbau syarat nilai minimum.
    dalam pelaksanaannya, saya merasa iri karena sekolah favorit lain di semarang (sama-sama Kbknya – kurikulum berbasis kompetensi-) dengan mudahnya mendapatkan nilai 8, 9, bahkan 10. semua itu mereka dapatkan hanya dengan mempelajari Lembar Kerja Siswa(LKS). diknas pun aneh, mendidik siswa se-indonesia dengan LKS, dimana sudah terdapat resum bahan ajar, latian soal, latian persiapan uanas yang mendekati angka 100% sama dengan soal uanas (tapi kok masih banyak yang nunggak ya?). pemerintah selalu memperbaharui kurikulumnya, namun tidak memperbaharui cara dan pola mendidiknya.
    dengan kata lain, rapor saya sangat mengenaskan, namun uan saya dan teman-teman loyola selalu memegang ranking 1 diwilayahnya.

    kesimpulannya adalah……..
    1. uan hanya formalitas wujud perhatian pemerintah pada dunia pendidikan
    2. uan hanya dibutuhkan untuk lulus tidaknya seorang calon mahasiswa ataupun calon pengagguran nantinya
    3. uan sendiri tidak dapat menjamin mutu dan kualitas pendidikan, karena lemahnya moralitas pelaku pendidikan itu sendiriri. semakin universal, semakin banyak pula kemungkinan dibobol oleh para maling uan (menjual soal-soal)
    4. keberhasilan pada uan tidak menjamin mutu pendidikan itu sendiri. justru berdasarkan pengalaman pribadi saya, test UM UGM itulah standar pendidikan yang benar-benar up to date dan pas.
    5. uan sebaiknya dipasrahkan pada sekolah masing-masing. jika mutu yang mereka pasang tinggi, tentunya siswa-siswinya dapat suvive dalam memasuki dunia perkuliahan ataupun kerja. demikian sebaliknya, jika grade uan suatu sekolah dibuat mudah bin ajaib, biarkan saja mereka lulus dengan rata-rata 9 atau 10 mungkin, namun tidak dapat melanjutkan studi yang lebih baik.
    6. berdasarkan pengalaman gagalnya saya untuk mendapatkan beasiswa di jepang, uan tidak dibutuhkan. syaratnya adalah sudah lulus, nilai rapot 7,7 ke atas (saya gagal karena standar nilai saya yang jauh dibawahnya walaupun rata-rata uan saya 9an).
    7. jadi mari serahkan pada pasar. (kok saya jadi neo-lib gini y?)
    8.biarkan sekolah berkompetisi mendidik murid-muridnya dengan sebaik mungkin. mempersiapkan jaringan perkuliahan seluas mungkin, jaringan kerja sebanyak mungkin, dengan kualitas terbaiknya.
    9. memang efeknya pada biaya pendidikan juga sih, oleh karena itu mari kita memperbaiki fungsi pendidikan nasional ini. baik dari kurikulumnya, cara pembelajaran, sebelum ramalan saya di atas benar-benar terjadi…

    amin…

    maaf ya mas kalau bahasa saya terlalu seronoh, saru, wagu, dsm. habisnya terbawa emosi dan dendam uan semasa sma.

    Ad Moirem Dei Gloriam

  3. Waduh… Pada balas dendam kayanya ya. Pada nulis panjang-panjang. Barengan lagi. Internetnya sebelahan kali ya. Gapapa. Pertanyaannya kenapa harus nunggu nyampe diskusi tujuh sih? Moga-moga diskusi-diskusi berikutnya bisa lebih rame lagi. Kalo di kelas gitu juga donk.

    Woke. Berhubung komennya panjang-panjang saya ambil intinya aja ya. Jangan sakit hati lho. Baik, komentar pertama dari Wahyu. Membahas mengenai kurikulum yang membingungkan, juga menyinggung isu kebijakan sentralisasi-desentralisasi. Lengkap dengan rekomendasinya. Kapan pendadarannya?

    Komentar kedua dari Anjar. Loadingnya cepet juga ya. Kayanya 512Mbps nih. Dibuka dengan mengenang masa indah di sekolah, disimpulkan dengan kekurangan UAN, juga ada rekomendasinya, plus ada ramalan juga. Ternyata ilmunya Anjar ini multiscience ya. Harusnya ambil perencanaan kebijakan nih.

    Dibahas sekarang ya. Nanti kalau ada yang kurang pas komen lagi aja. Namanya juga diskusi.

    Baik, bila dirunut dari kata-katanya, Kurikulum Berbasis Kompetensi atau Kurikulum 2004, adalah kurikulum dalam dunia pendidikan di Indonesia yang mulai diterapkan sejak tahun 2004 walau sudah ada sekolah yang mulai menggunakan kurikulum ini sejak sebelum diterapkannya. Secara materi, sebenarnya kurikulum ini tak berbeda dari Kurikulum 1994, perbedaannya hanya pada cara para murid belajar di kelas.

    Dalam kurikulum terdahulu, para murid dikondisikan dengan sistem caturwulan. Sedangkan dalam kurikulum baru ini, para siswa dikondisikan dalam sistem semester. Dahulu pun, para murid hanya belajar pada isi materi pelajaran belaka, yakni menerima materi dari guru saja. Dalam kurikulum 2004 ini, para murid dituntut aktif mengembangkan keterampilan untuk menerapkan IPTek tanpa meninggalkan kerja sama dan solidaritas, meski sesungguhnya antar siswa saling berkompetisi. Jadi di sini, guru hanya bertindak sebagai fasilitator, namun meski begitu pendidikan yang ada ialah pendidikan untuk semua. Dalam kegiatan di kelas, para siswa bukan lagi objek, namun subjek. Dan setiap kegiatan siswa ada nilainya. (http://id.wikipedia.org/wiki/Kurikulum_Berbasis_Kompetensi)

    Sementara, Manajemen Berbasis Sekolah berarti pengkoordinasian dan penyerasian sumberdaya yang dilakukan secara otonomis (mandiri) oleh sekolah melalui sejumlah input manajemen untuk mencapai tujuan sekolah dalam kerangka pendidikan nasional, dengan melibatkan semua kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan (partisipatif)”. Lebih ringkas lagi, manajemen berbasis sekolah dapat dirumuskan sebagai berikut (David, 1989): manajemen berbasis sekolah = otonomi manajemen sekolah + pengambilan keputusan partisipatif. (http://www.depdiknas.go.id/jurnal/27/manajemen_berbasis_sekolah.htm)

    Sekarang telah ada KTSP yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Tambah bingung ga? KTSP adalah sebuah kurikulum operasional pendidikan yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP diberlakukan di Indonesia mulai tahun ajaran 2006/2007, menggantikan Kurikulum 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi). KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus. (http://id.wikipedia.org/wiki/Kurikulum_Tingkat_Satuan_Pendidikan)

    Penjelasan KBK, MBS dan KTSP di atas memberikan gambara kepada kita bahwa sesungguhnya MBS tidak berkaitan secara langsung dengan kurikulum pendidikan di Indonesia. Bila kita analisa lebih mendalam lagi, MBS itu berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya secara maksimal, demi menghasilkan sumberdaya manusia yang kompeten, mandiri dan tidak tergantung kepada pusat (desentralisasi).

    Dalam KBK, model pembelajaran dalam kelas berubah dari monolog (sentralistik) menjadi siswa aktif (desentralistik). Model KBK ini diharapkan tidak hanya terjadi di dikdasmen (SD, SMP, SMU) saja, namun juga dikti (Perti, Universitas). Sehingga siswa menjadi paham dengan apa yang dipelajarinya. Dengan metode monolog, umumnya siswa hanya mendengarkan sehingga nantinya pada saat ujian akan mengalami kesulitan. Terlebih lagi, dalam KBK siswa diminta untuk aktif mengembangkan ketrampilan secara mandiri, berkompetisi sportif tanpa meninggalkan kerjasama dan solidaritas. Sehingga pada akhirnya siswa akan memiliki kompetensi pada bidang ilmu yang dipelajarinya.

    Dalam KTSP, kurikulum masing-masing satuan pendidikan akan memiliki kurikulumnya sendiri (desentralistik). Bandingkan dengan yang menggunakan kurikulum nasional (sentralistik).

    Berkaitan dengan adanya metode pembelajaran yang baru, maka ada pelatihan tersendiri bagi tenaga pengajarnya. Jadi untuk masalah tenaga pendidik yang kurang setara dapat diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya.

    Tidak dapat dipungkiri bahwa baik KBK maupun KTSP mengandung muatan lokal. Hal ini dikarenakan adanya ketentuan dalam undang-undang bahwa krikulum disesuaikan dengan keadaan daerahnya. Baik dalam hal siswa maupun kebutuhan masyarakat sekitarnya. MBS mendukung sekolah untuk memaksimalkan sumberdaya di sekitarnya agar dapat meningkatkan kualitas lulusannya.

    Kebijakan UAN sendiri dengan standar yang ditentukan sama secara nasional bila disikapi positif akan dapat memacu peningkatan kualitas di daerah. Sementara bila tidak ada UAN dapat mengakibatkan daerah yang telah memiliki lulusan berkualitas semakin meningkat kualitasnya, sedangkan daerah lainnya yang belum banyak lulusan berkualitasnya tidak ada usaha untuk mengejar kualitas lulusannya. Ini bukan masalah ijazah bung, apa gunanya ijazah bila tidak ada kualitasnya.

    Maraknya kasus jualan kunci jawaban beberapa waktu yang lalu sebagian besar disebabkan Kasek dan Guru yang tidak bertanggungjawab berusaha membuat nilai akreditasi mereka tetap baik. Siapa yang dapat menduga bahwa salah satu sekolah yang berani menjual kunci jawaban UAN terakreditasi A.

    Kualitas yang ditekankan dalam kurikulum baik dikdasmen maupun dikti mengacu pada kompetensi lulusannya. Ketika berada di dunia kerja, apa yang menjadi kebanggan ketika menuntut ilmu yaitu nilai tidak akan ada artinya. Bahkan dapat dikatakan bahwa jaringan dapat memberikan informasi yang baik, namun dalam dunia kerja yang sesungguhnya kualitas seseorang lebih menentukan dalam karir. Bukankah lebih baik memiliki nilai E namun kualitasnya diakui oleh banyak orang, daripada memiliki nilai A yang hanya berdasarkan pada hapalan saja.

    Setuju dengan pendapat Anjar bahwa kita menyerahkan kepada seleksi alam. Yang lebih berkualitas pasti mendapat tempat yang lebih baik. Evaluasi diri untuk memperbaiki kekurangan. Dunia kerja menuntut kualitas yang tinggi. Mari bersaing dalam kualitas. Terima kasih.

  4. Maaf mas,saya hanya ingin menanggapi&mengomentari apa yg telah disepakati mas bagus dan anjar.kok saya kurang sependapat ya mas klo pendidikan kita diserahkan kpda seleksi alam/pasar bebas/atayg lain yg semakna.
    kenapa???
    kita berada disebuah negara yg berdiri dengan sebuah”sistem”,dmana ada arah dan tujuan yg jelas unutk dicapai.jadi tidak bisa jikalu sematamata begitu saja kita mengalir dan membiarkan hukum alam yg menyeleksi..

    kita ketahui bersama ya mas problematika dunia pendidikan kita sedemikian kompleks. Kompleksitas persoalan ini melahirkan output/ keluaran SDM yang masih banyak kelemahannya/kekuranganya. tidak sedikit pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang seharusnya dikelola anak bangsa terpaksa diserahkan kepada SDM ahli dari luar( misalnya freeport di jaya pura yg isunya posisi strategis diduduki oleh teknisi asing).

    dan persoalan lainnya kita masih berkutat dengan lemahnya daya saing SDM kita, ya dalam penguasaan iptek,dll( ya tidak semuanya) . Tantangan dan tuntutan era pasar bebas tidak dapat kita antisipasi seara dinamis. Karenanya persaingan pasar bebas lebih melahirkan dampak buruknya dari pada bagi peningkatan kesejahteraan kehidupan masyarakat

    UU tentang pendidikan sudah banyak banged tapi implementasinya belum optimal.dana pendidikan dari APBN yg katanya20% jga blum dapat sepenuhnya terealisasi.

    Jadi yg saya soroti disini adalh penciptaan sistem yg lebih berkapasitas untukpendidikan,entah apa nantinya yg pazti masyarakat indonesia saat ini membutuhkan program yg bersahabat bagi mereka.Bagaimana menumbuhkan kesadaran masyarakat akan arti pentingnya pendidikan tanpa membuat semuanya itu mjdi beban/ “hanya sebatas “mimpi”.bagaimana mau bersekolah diseklah yg berkualitas, dengan harapan biar jadi orang yg berkualitas kalo buat makan aja susah.

    jadi ini sdikit banyak alasan yg bisa saya utarakan mas,knapa saya kurang setuju atas seleksi alam yg membiarkan yg berkualitas mendapatkan tempat yg lebih baik,dengan kata lain yg hanya boleh bersekolah di sekolah berkualitas hanya orang yg mampu mebayar lebih untk itu.
    maaf lo mas…bukannya saya sok gmana….tapi ini hanya ap yg saya rasa dinegara kita ini mas.Jangan diapa-apain lo mas aku…soalnya aku hanya kecil .sama salah satu dari kalian aja aku dah pasti tewas….hE…hE…becanda

  5. Helo Mas Bagus… Dea baru ikutan niy, hehehe… telat gapapa kan asal selamat..^_^
    Mmm asik niy, topik diskusinya menarik banget, soalnya kita sendiri juga mengalami yang namanya UAN, pergantian kurikulum, dll..
    Menurut saya, kualitas pendidikan di Indonesia udah cukup bagus, saya sering denger di berita atau baca di koran kalau wakil Indonesia juara lomba matematik, fisika, dll. Hanya saja, kurang merata. Sekolah2 yang berkualitas (yg selama ini sering saya denger juga) biasanya sekolah2 swasta yang ngga semua lapisan masyarakat bisa menjangkaunya. Emang siy, banyak juga sekolah-sekolah negeri yang bagus, kalo di Bandung ada SMAN 3 bandung, hampir semua muridnya masuk ITB atau PTN favorit. Nah, sayangnya, berdasarkan pengalaman saya, Kepsek yang berkompeten yang dulunya memimpin sekolah negeri “biasa2 aja”, malah dikirim jadi Kepsek SMA tsb, padahal kan, sekolah negeri yang lain yang kualitasnya ga begitu bagus butuh juga sosok kepsek yang inovatif, cerdas dan memajukan sekolahnya. Yah begitulah mas, karena sekolah saya yang jadi korbannya, Hiks!
    Menyoal ttg UAN, Waduh suka sakit hati ngebahasnya… Tapi ga apalah, mental udah siap koq, hehehe…
    UAN… Penting ga ya? penting lah, tapi kepengennya siy standar kelulusan tuh ga hanya dari UAN, yang harusnya dinilai tuh kan prosesnya, bukan hasilnya langsung… Waktu dulu niy, saya punya tmn pinter banget bahasa inggrisnya, eh pas UAN dia malah ga lulus coz nilai matematiknya jeblok, kan kasian juga, namanya orgpasti punya kelebihan n kelemahan, mungkin dia jago englishnya tp matematiknya dia kurang, kasian juga siy apalagi dia sahabat saya, hiks… (lho jd curhat??)
    Selain itu, pemerintah niy hobi banget ya ganti2 kurikulum, belum beres KBK eh udah ada yang namanya KTSP… Yang kasian guru-guru n muridnya, banyak yang belum bisa ngadaptasi n malah banyak banget guru-guru (khususnya daerah) yang masih ga ngerti ttg kurikulum tsb. Oiya ada tambahan bwt UAN, saya setuju banget sama Wahyu, kalo kualitas sekolah harus dibenerin dl (kaya buku-bukunya, bangunannya, dll). Terus banyak banget bocoran dari guru, atau malah kunci jawaban UAN. soalnya waktu itu, saya dapet telpon dari sodara saya yang UAN juga di Jakarta nanyain kode soal, katanya dia punya kunci jawabannya, beli dari temennya gitu. Kan ngga adil ya, ada yang mati-matian belajar en ada juga yang mati-matian nyari bocoran.
    Jadi pada intinya, saya stuju UAN untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, tapi saya ngga setuju kalo UAN dijadikan hasil akhir penentuan siswa lulus atau tidak.
    Thanks ya mas, duh dea minder banget, yg lain diskusinya bagus2 tapi yang dea biasa aja… Yah namanya juga latian, nnti diskusi selanjutnya dea ikutan lagi deh, en kurang2nya di diskusi ini bisa dea perbaikin nanti.

  6. oi mas q juga ikut diskusi ya, walaupun kepaksa ywd de g papa absna kalu g ikut diskusi g dapet nilai,
    langsung aja ya mas, menurut hemat saya, (ciyee) kualitas pendidikan di indonesia tidak merata antara daerah yang satu dengan yang lainnya, ada daerah yang kualitas pendidikannya sudah bagus karena di dukung oleh sarana dan prasarana yang menunjang, tapi ada juga daerah yang bisa dikatakan buruklah tingkat pendidikannya karena keterbatasan sarana dan prasarananya, tapi mas ya saya pernah denger kalo tim olimpiyade fisika kita (indonesia maksudnya) bisa bersaing dengan negara-negara maju seperti china dan amerika serikat tapi menurut saya itu belum mampu mewakili kualitas pendidikan di indonesia karena mereka hanya sebagian kecil dari pendidikan kita. ya tapi paling tidak dimata dunia indonesia g keliatan gobloknya ya mas he…he..he..he..

    sekarang tentang UAN mas, menurut hemat saya lagi (ciyee lagi) itu penting mas karena itu merupakan ujian dari sekian taon kita belajar, selain itu ya mas uan juga sebagai tolak ukur seberapa banyak kita mampu menyerap ilmu yang diberikan bapak dan ibu guru, terus biar lebih bagus lagi kalo standard nilainya di tinggiin, tapi soalnya juga g digampangin, percuma kan mas kalo standard nilainya tinggi tapi soalnya gampang, by the way, any way, bus way, sub way, udahan dulu ya mas coz byk yg ngantree neyh!!!!!! wasalam

  7. hallu mas reno is in da house hehehe

    to the point aj
    UAN???
    uan tu dipake pemerintah buat menilai hasil evaluasi belajar kita selama di sekolah baik SD, SMP, n SMA. dari dulu UAN ganti nama mulai dari EBTANAS, UANAS, UNAS n sekarang jadilah UAN….
    selain namanya yang ganti-ganti, standar nilai kelulusannya juga pasti naik tiap tahunnya….
    bnernya sih standar nilai UAN klo naik tiap tahunnya menurutku sih baik-baik aja coz manusia Indonesia tu perlu diberdayakan otaknya biar SDMnya juga bagus….
    tapi standar nilai itu jgn dijadiin patokan buat menentukan kelulusan siswa coz selain UAN, siswa-siswa itu juga harus menempuh yang namanya ujian praktek, ujian mata pelajaran yang gak masuk dalam UAN n masih banyak ujian lain yang harus dikerjain sebelum masuk ke UAN..
    KLO uan dijadiin standar buat lulus, apa gunanya nilai-nilai ujian yang laen???
    kan kasian juga ma siswa yang sebenernya berpotensi n cerdas gagal gara-gara nilainya yang gak lolos standar kelulusan…
    pemerntah tu klo buat kebijakan kira-0kira dong
    niatnya sih baik n bner cuma manusianya masih gak mampu klo hrus dpt prubahan standar nilai yang langsung naik rastis gitu,,

    pkoknya harus bertahap de
    tapi aq tetep stuju klo standar nilai tu tiap tahun dinaikin tapi jgn lupa ma nilai-milai pelajaran yang lain juga n itu juga harus dipertimbangin plus sikap n perilaku siswa itu selama disekolah pantes pa gak dia buat dilulusin….

    y udah de mas ngambil cucian di rumah desi
    cukup sekian dan trima kasih…….^_^

  8. maaf mas baru bisa ikut sekarang.diskusi ini cukub menarik karena merupakan hal yang fenomenal,menurut saya secara pribadi UAn memang masih sangat diperlukan sebagai evaluasi dari apa yang telah kita pelajari sebelumnya selama masa sekolah,karena tanpa itu kita tidak bisa memnemukan standar yang pas tentang berhasil tidaknya pendidikan yang kita jalani selama ini,mengenai kasus yang sering kita dengar tentang jual beli soal,jawaban DLL,hal itu sangat saya akui keberadaannya karena saya juga mengalami hal tersebut.dimana sya sendiri mengalami yang namanya berkah dari bocornya kunci jawaban UAN tanpa harus bayar.tanpa keluar keringan karena kita dapat dari teman yang berada di kota propinsi kira-kira 1jam sebelum ujian dimulai melalui SMS.terlepas dari segala kontroversi itu dalam kehidupan ini apasih yang benar-benar bersih dan bebas dari kontroversi,makanya saya secara pribadi masih percaya akan masih dibutuhkannya UAN dalam standar penilayan hasil belajar siswa(kelulusan)namun yang perlu kita tekankan adalah mekanisme pengawasan agar tidak terjadi kebocoran,tanpa UAN apayng bisa kitajadikan standar penilayan Hasil belajar?kemampuan skil?bila itu yang menjadi patokan maka tetap saja akan konroversi,karena iyu hanya bersivat obyektif bagi tim penilai,karena saya juga alami saat ujian praktek olahraga dimana saya dengan waktu lari paling lambat saja nilainya sama 9 denagn teman yang larinya tercepat,itu saja menurut saya intinya saya tetap mendukung adanya UAN namun mekanismenya yang perlu diperbaiki.

  9. wadoh.. mepet bgt ni mau ikutan diskusi, gpp y mas, mau ikutan join aja,.

    UAN..??

    bahan diskusi kali ni sangat menarik, karena apa?
    yah karena saat ini UAN tuh identik bgt dengan anak SMU kelas 3 yang bentar lagi mau lulus dan mengejar cita” mereka kedepan, termasuk kita” ini, mengingat kenangan akan UAN kmrn masih tersimpan jelas..

    saya pribadi memiliki pendapat bahwa UAN itu sebenarnya kurang perlu untuk diadakan, statement saya ini bkn hanya statement saja, tapi saya pernah mengikuti sebuah seminar di daerah saya dulu sewaktu saya masih SMU,,
    di seminar itu banyak yang datang karena ketertarikan pesertanya sendiri terhadap permasalahan yang akan dibahas, yah tentang UAN ini.

    dan uniknya, justru yang menolak akan UAN ini tidak hanya para siswa saja, bahkan para guru pengajar juga. UAN saat ini dinilai tidak bisa menjadi patokan apakah seseorang itu berkompeten atau tidaknya, UAN kan dari pemerintah pusat tuh mas, emangnya pemerintah pusat tau bgt pribadi dan aktif atau tidaknya tiap para siswa yang ada?

    maksud saya adalah, sudah banyak contoh bahwa murid atau siswa yang dikenal rajin dan pandai disekolahnya justru tdk lulus UAN, sedangkan bahkan ada yang nakal dan malas”an untuk sekolah justru lulus dengan nilai tinggi, bukankah potret tadi menjadi pandangan yang buruk terhadap UAN?
    saat ini, UAN bukan lagi menjadi “penyaring” untuk siswa yg berkompeten, tetapi menjadi untung”an di dalam kelulusannya.

    yang tahu benar akan kompeten atau tidaknya seorang siswa bukan ditentukan dengan UAN, tetapi dengan prilaku dan peran mereka disekolah, yang tahu benar adalah guru mereka masing”. Karena guru adalah pengawas siswa” itu selama 3 tahun menjenjang pendidikan di SMA, bkn pemerintah pusat.

    yang memegang nilai selama 3 tahun, yang menjadi pengawas murid selama 3 tahun, yang mengenal betul kepribadian para murid” yang ada itu adalah guru mereka masing”, jadi sebenarnya pemegang juru kunci mereka itu adalah para guru pengajar mereka, bukan pemerintah pusat yang hanya menilai perjuangan mereka selama 3 tahun di SMU dngan sebuah ujian nasional.

    Jika kita perhatikan lagi, UAN pun banyak kesalahan” yang terjadi di dalam pelaksanaanya, mulai dari bocornya, sampai adanya kerjasama antar pihak” terkait (pihak pemda). Jadi UAN ni bagi siswa saat ini adalah sebuah untung”an,mas. ada yg malas untuk sekolah, tapi karena saaT UAN ia mendapatkan contekan, jadilah ia lulus. Sedangkan yang pintar dan sepenuh hati dalam mengerjakan UAN itu tanpa contek”an justru tidak lulus, pemandangan yang miris bukan?

    Itulah komentar saya terhadap diskusi kali ini, tetapi walaupun begitu, pengawasan terhadap segala macam ujian untuk para siswa di dalam menentukan kelulusannya harus tetap di awasi dengan ketat, baik oleh pemerintah, masyarakat, maupun para wali murid.

    Terima kasih, mas..

  10. assalamu’alaikum, saya ikut gabung mas bagus
    uan masih saja relevan bagi saat ini di indonesia. namun parameter kelulusan yang hanya 3 atau 5 mata kuliah sebetulnya mematikan sebuah bakat dan minat. usul konkret ke depdiknas agar penilaian terhadap kelulusan adalah berdasarkan semua mata pelajaran dan tiap tahun diadakan peninjauan ulang terhadap hasil tahun lalu, tidak hanya asal naikkan standar agar tidak malu dengan filipina, malaysia, dan myanmar yang telah menyalip kita duluan.

  11. iya,setuju nih sama komentarnya kris..apa lagi klo ngeliat contoh kasus temen2 saya di smsr (sekolah mengengah seni rupa),smm (sekolah menengah musik) dan beberapa sekolah kejuruan lain,,masa meraka harus ngerjain soal uannya bahasa indonesia,inggris dan math,,kan gak lucu,,sehari2 aja belajar nyeni,masa pas ujian harus ngitung2,,hehe
    ya soal standarisasi nasional sih emang cukup perlu,tapi kan gak harus lewat persamaan soal ujian,,,ya kesamaan kisi2nya aja,,bisa kan???

  12. Assalamu’alaikum mas Bagus,,Saya mau ikut gabung nich
    Wah,kayaknya topiknya seru banged nich tentang UAN.Hehe
    Ngiikut ah!!!

    UAN ???????
    Jujur,saya kurang setuju dengan UAN(Ujian Akhir Nasional).Menurut saya UAN tidak lagi diperlukan.UAN tidak lagi konkret dengan keadaan bangsa kita saat ini,dimana masih belum adanya pemerataan dalam bidang pendidikan.Misalnya kita masih sering mendengar istilah sekolah favorit atau unggulan.Apalagi UAN dibuat oleh pemerintah dan ditujukan kepada seluruh siswa di Indonesia tanpa pandang bulu.
    Menurut saya campur tangan pemerintah dalam penyelenggaraan ujian akhir nasional semestinya harus diminimalkan, bahkan ditiadakan sama sekali. Pemerintah sebaiknya hanya konsentrasi dalam penyusunan kurikulum dan penyediaan sumber daya pendidikan seperti tenaga, dana, sarana, dan prasarana. Serahkan saja persoalan ujian akhir nasional kepada masyarakat. .
    Ada beberapa alasan mengapa menurut saya UANAS ini harus dihapuskan dan diserahkan penyelenggaraannya kepada masyarakat. Pertama adalah alasan ideal, yaitu sudah saatnya kita mengembangkan system pendidikan yang demokratis, mengedepankan partisipasi masyarakat, dan mewujudkan desentralisasi serta otonomi pendidikan. Kedua adalah alasan ril, bahwa masyarakat penyelenggara pendidikan adalah pihak yang langsung berhadapan dengan objek didik sehingga mereka lebih mengetahui kemampuan objek didiknya dan standar materi soal yang bagaimana dapat diujikan kepada mereka. Di samping itu, pengalaman masyarakat dalam mengelola sebuah lembaga pendidikan adalah nilai plus yang dapat digunakan dalam menyelenggarakan ujian akhir di lembaga pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya.
    Pemerintah tidak perlu khawatir akan kemampuan masyarakat dalam menyelenggarakan ujian. Selama ini, di hampir seluruh wilayah Indonesia, sekolah-sekolah penyelenggara pendidikan sudah biasa menyelenggakan ulangan umum bersama, yaitu ulangan umum dengan materi soal yang sama untuk beberapa sekolah dalam satu wilayah. Bahkan kegiatan tersebut berlangsung tiga kali dalam setahun, mengikuti putaran sistem catur wulan yang selama ini masih dipakai. Dengan dana hasil patungan antarsekolah peserta, masyarakat pendidikan di daerah telah berperan aktif menyelenggaran ulangan bersama tersebut, dari pembuatan soal yang dilakukan melalui MGMP, sampai penggandaan dan distribusi soal, serta pemeriksaan hasil ulangan yang dilakukan secara gotong royong oleh K3S. Jadi, dari segi pengalaman, masyarakat pendidikan di daerah sudah sangat banyak dan cukup lama.
    Banyak keuntungan yang dapat diperoleh apabila pemerintah rela hati menghapuskan Ujian Akhir Nasional dan menyerahkan penyelenggaraannya kepada masyarakat. Dari pihak pemerintah tentu akan lebih menghemat waktu, dana, dan tenaga. Tidak perlu lagi repot-repot membentuk panitia pusat, provinsi, dan kota yang tentu memerlukan anggaran tidak sedikit sebagai uang lelahnya. Pemerintah juga tidak usah memikirkan pembuatan materi soal, penggandaanya, sampai distribusinya ke daerah-daerah. Sedangkan pihak sekolah penyelenggara jadi berkesempatan untuk mengelola ujian ini bekerja sama dengan sekolah-sekolah lain yang sederajat di satu wilayah. Keuntungan lainnya adalah pihak sekolah penyelenggara dapat menetapkan sendiri standar soal sesuai kemampuan siswanya masing-masing di daerah tersebut.

  13. menurut saya, uan itu tetep penting dan harus dilakukan karena kalau bicara kualitas tentu harus dihitung dari awal mpe akhir atau baik saat proses belajar mengajar maupun ujian untuk menguji hasil dari apa yang kita dapatkan dari proses belajar.
    tentunya hal ini didukung dengan kualitas uan itu sendiri, kenyataannya yang saya lihat dan pengalaman saya sendiri, masih banyak kecurangan dalam pelaksanaan uan. misalnya pengawas yang diem aja padahal dia tahu kalo ada peserta uan yang nyontek, malah ada kabar kalo guru sendiri mbocorin jawaban uan. bagaimana bangsa ini akan maju kalo kayak gtu?
    seharusnya sistem uan yang diperbaiki bukan ditiadakan, misalnya soal2 uan yang dibuat daerah sesuai standarnya karena masing-masing daerah memiki kualitas, kemampuan, atau keterbatasan berbeda tergantung kondisi, mis: di Jawa beda dgn di Kalimantan.

  14. Assalamu’alaikum Wr.Wb
    Wah,,,ni v3a baru ikutan c0z ada warnin9 he…he…!!!!!!
    Lan9sun9 ajw!!!masuk ke diskusinya!!!!!!
    Menurut v3a, UAN (Ujian Akhir Nasi0nal) masih perlu c0z k-l0 tidak ada UAN nanti standar untuk meneruskan ke jenjan9 selanjutnya 9mn d0nk????khan den9an UAN bisa ada skala cie…kayak apa ajw,,,untuk menentukan ke jenjan9 yan9 lebih tin99i(misalnya dari SD ke SMP den9an adanya UAN kan nantinya bisa dilihat den9an hasil UAN itu trus nantinya bisa menentukan ke SMP mana se0ran9 anak itu melanjutkan studinya…)
    Menurut v3a ju9a, untuk sekaran9 ini khususnya di ne9ara kita UAN bisa dijadikan seba9ai parameter yan9 efektif untuk menilai keberhasilan ke9iatan belajar men9ajar baik untuk pelajar maupun untuk pemerintah (selaku penyelen99ara pelayanan publik di bidan9 pendidikan khususnya), meman9 sech UAN untuk tahun 2006 khususnya SMA hanya diujikan 3 mata pelajaran saja!!!tapi menurut v3a itu 9ak menjadi masalah k0k khan selain ada UAN mata pelajaran yan9 lain khan ju9a diujikan melalui UAS(Ujian Akhir Sek0lah) and den9er – den9er mulai tahun ini mata pelajaran yan9 akan diUAN kan tidak hanya 3 mata pelajaran saja!!!
    Intinya : UAN menurut v3a masih perlu c0z k-l0 misalnya 9ak ada UAN pemerintah sulit menentukan parameter dalam melihat k0ndisi 0r perkemban9an pendidikan di ne9ara kita!!!!
    Udah dulu!!!!
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

  15. Aslm
    maaf mas baru gabung, kebetulan semester ini lagi sibuk sana-sini dan gak hanya kuliah jadi mohon di maklum.
    menanggapi masih perlukah UAN di Indonesia??
    hmmm….saya rasa masih perlu, tentunya dengan melakukan evaluasi-evaluasi terhadap hasil sebelum-sebelumnya. agar pemerintah tidak hanya menaikkan standar namun harus melihat dan mencermati juga hasil evaluasi sebelumnya.

  16. whehehe ni laela baru nggabung ni……..

    coir de klo telat……..

    ni nw ngomen ajah soal artikelnya ajeh

    waduwh kok ngomongin soal UAN siii….. rada-rada ilfil jeh klo ngomongin problem atu ni………….
    berdasarkan analisa setelah mengalami Ujian Nasional selama 3x saya gak setuju dengan adanya UAN….. gak adil aja rasanya sekolah capek bertaun-taun kriteria lulus nggaknya cuma ditentuin ama 3 mapel+3 hari ajah,kan gak adil…..terus apa gunanya kita belajar pelajaran banyak-banyak trus kagak nentuin apa-apa.

    telus rasanya aneh aja kalo udah dkasi ujian gtu msi pake standar nlai kelu2san,kasian kan yang pada bodo di pelajaran tertentu hrs berjuang mati2an ngadepin ujian pelajaran yg kagak mudheng blas kan sama aja penyiksaan manusia donk.

    tapi percuma aja kagak setuju ma UAN,wlo udah banyak demo yang nentang UAN tapi pemerintah tetep aja ngadain……yah mw gimana lagi mw gak mw ya harus tetep ngejalani……
    tapi kalo ada UAN ganti aja namanya apa gitu trus jangan pke standar nilai kan kasian kami-kami ini yang rada bodo terus kriteria lulusnya juga pake nilai dari kelas 1-3 jadi kita sekolah tu kagak rugi-rugi banget kayak kuliah itu loh yang klo lulus pke IP kumulatif jadi terasa pengorbanan kita.
    dah ah sgini aja,jujur bingung mw ngomen apa lagi……….
    makasi………

  17. Mas nitip mbuang uneg-uneg yaaaaaa….
    pendidikan lagi……..pendidikan lagi. tentang UAN??????
    Secara pribadi saya tidak setuju dengan adanya UAN. Sebenarnya UAN bukan merupakan indikator yang baik untuk menilai sebuah prestasi ato keberhasilan pendidikan. Karena secara disadari ato tidak hasil UAN merupakan hasil bejo-bejan. soalnya banyak orang-orang bodoh Hweee yang nilai UANnya malah bagus, padahal yang dibela-belain wayangan belajar, les privat, les di bimbel sampai tempat dukun malah hasilnya biasa-biasa aja. lebih mengenaskan lagi malah ada yang ga lulus…..fakta disekolahku dulu dari 17 anak yang gak lulus rata-rata adalah anak yang berprestasi gak neko-neko, malah ada juga yang telah menjadi langganan juara dalam beberapa lomba baik lomba mata pelajaran maupun lomba diluar akademik……Huuuuuuuhhhh klo dipikir-pikir ya nggak adil masak ya iya perjuangan selama 3 tahun hanya dipertaruhkan dalan 3 hari dengan 3 mata pelajaran hwee itu jamanku dulu, tapi kayake sekarang peraturannya dah berubah ding????Mungkin evaluasi setiap akhir bulan atau catur wulan lebih efektif untuk menilai hasil dari belajar dan dijadikan pertimbangan untuk kelulusan juga. Karena klo ga itu apa gunanya ada raport, ulangan, ujian tiap semester udah dibela-belain nyontek lagi…..mungkin sistem baru yang telah ditetapkan dibeberapa sekolah percontohan dengan sistem SKS lebih baik setahap dari pada UAN. jadi kita didorong untuk terus belajar dan mengembangkan pikiran agar mampu mengambil jumlah pelajaran yang maksimal. Klo begitu ada upaya ato motivasi untuk bersaing dan berusaha….klo ga itu ntar ga bisa lulus cepet,yoooo secara logika normal kan malu temen2nya dah lulus masak masih setia menjadi pelajar abadi….kita sekolah kan untuk memperkaya pengetahuan dan sarana untuk mencapai masa depan. Soale dimana-mana klo mw kerja pasti ada lampiran ijazahnya ya jadi mw ga mw harus sekolah. klo kualitas individu cuma terletak pada hasil akhir tanpa memperhatikan proses maka banyak sekali SDM Indonesia yang tidak mempunyai kualitas dan negara ini akan semakin carut marut…….ya mencoba tidak berburuk sangka mungkin aja pemerintah sedang bikin kebijkan tentang pendidikan yang mampu menciptakan SDM yang berkualitas..karena semuanya perlu pemikiran yang tepat agar dapat tepat sasaran dan berhasil guna…asalkan jangan alon-alon waton kelakon klo bisa ya sambil menyelam tenggelam eehhh 2 ato 3 pulau terlampaui…….
    =…dah mas segini aja yang penting harus ada kebijakn baru untuk menggantikan UAN sebagai indikator pendidikan, ayo pak menteri segera bekerja??????!!!!!!!!

  18. hew,mw ikutan diskusi ney….

    tp bingung mw nulis apa….

    lg ngomongin uan yaa??

    hew,klo menurutku sih uan tuw ga perlu sebagai patokan kelulusan…
    uan tetep perlu tapi hanya sebagian kecil dari penilaian keseluruhan….

    perlu adanya penilaian dari proses belajar kita selama tiga tahun.
    jadi ga ditentuin cuma dalam 3 hari itu.
    kn qta sekolah ga cuma 3 hari??
    saya punya sedikit usul……
    sepertinya halnya kuliah, knapa kita g mencoba penilaian sesuai dengan sistem perkuliahan..dimana hasil ujian tidak menjadi penentu kelulusan kita dalam menyelesaikan mata kuliah..contoh di salah satu pelajaran sma, misalnya matematika..penilaian tidak berdasarkan pada hasil akhir berupa angka dari angka 1-10..tapi penilaian dapat didasarkan pada keaktifan kita dalam diskusi atau penyelesaian tugas dan macam2…jadi ada terdapat unsur guru yang ikut dalam penilaian ujian kita..

    hew,apa lagi yaa…
    bingung mw nulis apa….

    itu dulu aja yaa mas….
    bingung tenan jeh meh nulis opo…
    ;p

    tapi intinya ak ga setuju dengan adanya uan…

  19. Kebijakan tentang UAN ma ga mw harus diterima…la belum ada kebijakan baru soalnya….sudah lama UAN menjadi pro dan kontra,secara pribadi saya kontra dengan adanya UAN….UAN hanya sebagai evaluasi dan belum tentu menjadi lulusan yang baik atau berkualitas. menurut saya UAN hanya sebagai formalitas dan dijadikan satu syarat untuk kelulusan saja. karena bagaimanapun juga untuk mengetahui kualitas orang kan diperlukan bagaimana proses orang itu dalam mencapai hasil akhirnya. Kelulusan dengan UAN tidak semuanya murni karena kerja keras orangnya, sudah menjadi rahasia umum klo setiap UAN pasti ada jual beli soal, suap dan sebaginya,sebagainya…….oknum pendidikan saja terlibat dalam penentu kelulusan yang bisa dibilang cacat karena banyak pihak sekolah yang melakukan praktek jual beli soal apalagi sekarang kecanggihan teknologi sudah semakin pesat……saya berharap ada kebijakan uang lebih baik dimasa mendatang untuk melahirkan manusia yang potensial.

  20. Assalamu’alaikummm…..
    langsung wae ya mas………..
    Huuuh…..UAN ya…..mmmm gimana ya…..sebagai orang yang menyadari akan keterbatasan kemampuan di bidang akademik, halah….saya tidak setuju dengan adanya UAN!!! tapi untung udah lulus….^_^
    Masa’ kita sekolah 3 tahun plus dah bayar MAHAL nasibnya hanya ditentukan dalam BEBERAPA JAM!!!!terus apa dong gunanya evaluasi tiap semester…..
    Bicara masalah UAN dan kelulusan tidak lebas dari bicara soal keberuntungan!
    seperti kata pepatah “sak pinter2e wong isih kalah karo wong beja”hoho….lulus UAN kan bukan jaminan untuk mengukur kepandaian seseorang!!!Toh banyak kasus siswa yang ga lulus bukan berarti dia bodo. Bisa saja dia salah nomor waktu ngerjain soal atau…kondisinya lagi ga’ fit waktu ujian….masa’ gara-gara itu jadi ga’ lulus….kan kasian….
    Menurut saya UAN hanya sebagai budaya instan yang memudahkan pemerintah dalam menentukan kualitas SDM hanya berdasarkan hasil akhirnya saja tanpa melihat proses…Padahal untuk menilai kualitas seseorang kan tidak bisa seperti itu….masih ada bakat terpendam dan skill yang justru lebih menentukan masa depan yang dimiliki oleh seseorang….
    Boleh sih UAN diadain, tapi ya jangan terus mutlak menentukan kelulusan gitu dong…apalagi pake’ standar kelulusan yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Emang sih ada baiknya menentukan standar kelulusan sebagai motivasi bagi anak-anak yang masih sekolah,khususnya yang pengen lulus… agar terus berusaha menigkatkan kualitas dirinya…tapi dengan ditetapkannya standar kelulusan itu dan ternyata fakta membuktikan justru semakin banyak anak yang ga’ lulus,apa itu ga’ membuktikan bahwa kualitas SDM kita masih rendah????!!!!
    mungkin di Jawa pendidikannya sudah lebih maju dan jumlah ketidaklulusan relatif lebih rendah, lha di pelosok2 atau wilayah Indonesia Timur yang orang2nya masih belum menyadari arti pendidikan???!!! Kan justru banyak yang ga’ lulus to……
    Kan pendidikan di Indonesia belum merata….
    Ah….udahlah….dah kehabisan ide….^_^
    makasih dah boleh numpang berkomentar….
    wassalamu’alaikummmm……

  21. waduuuh,,,,
    kayaNa teLat ikut diskusi nij,,,
    tapi moga2 aja diterima dweh komen ini,,,AMIEN!!!!

    UAN y?
    laNgsung aja deH!!!
    menurut saya keberadaan UAN eMang penting diadakan,,tapi untuk hasil akhir dari UAN untuk meenentukan kelulusan itu yang saya kurang setuju,,,
    begini loh!!!kita belajar dalam suatu jenjang,misalnya SMA gitu kan tiga tahun,,nah masa hasil belajar kita dari KElas 1 pe 3 cuma ditentukan lulus atau tidaknya dengan hasil UAN itu!!!kan ga banget gitu!!!masih mending kalo waktu diadakan UAN kondisi kita sedang vit n prima(halah,,,)Lha kalo ga???ato malah kita lagi ga mood!!!kan bisa2 nilai kita jeblok n ga lulus,,,
    ya gimana ya?menurut saya sih lebih baik hasil kita belajar slama 3 taon itu janagn ditentuka slama 3 hari aja,,tapi dihitung berdasarkan hasil belajar kita dari klas 1 pe 3,,diitung pake rata-rata nilai gitu,,,jadi kan lumayan adil tuh!!hasil sekolah kita sLama 3 taon diperhitungkan buat menentukan kelulusan kita,,

    yaw dah trims aja,,,,

  22. Sory mas baru ikutan diskusi sekarang…
    Saya tau saya telat dalam menanggapi diskusi yang sangat menarik..apalagi tentang pendidikan..dari kemarin2 saya sebenarnya sudah melihat diskusi2 yang ada. Tapi terus terang saja kenapa bagi saya itu g menarik. Kenapa? Mungkin saya perlu melihat pemikiran2 teman dahulu sebelum saya memberikan komentar dalam diskusi ini. Harap menjadi maklum..oya sekarang saya akan masuk dalam diskusi..
    Soal UAN ya?hemmm… baik saya akan bercerita tentang UAN sesuai yang saya alami selama ini. Telah menjadi kontroversi selama ini dengan timbulnya pertanyaan “APAKAH UAN MASIH DIPERLUKAN”. Waktu dulu saat saya SMA, saya memiliki idealisme dimana UAN itu g perlu..jujur aja UAN itu menambah beban kami untuk berpikiran bebas. Saat saya SMA, saya berpikir UAN itu g penting di karenakan membuat kami dipaksa untuk tidak bisa memilih apa yang kami sukai. Idealisme saya waktu SMA terus terang saja lahir dari sifat dasar manusia untuk suka pada sesuatu dan itu membuat manusia itu nyaman dengan pilihannya. Manusia pada umumnya tidak senang akan suatu keadaan dimana manusia itu tertekan. Akhirnya manusia yang tertekan tersebut akan mengalami depresi dan tidak berkembang. Hal tersebut yang terjadi pada saya dan teman2 saya, dimana mereka walaupun tidak suka pada UAN tapi akhirnya karena pilihan mereka Cuma satu yaitu harus LULUS dengan berbagai alasan entah dari tekanan ortu dan lain sebagainya. Dengan tertekan merekanya maka yang terjadi mereka menjadi bersikap egois. Mungkin menurut saya ini yang menjadi yang menjadi latar belakang kenapa banyak penyimpangan2 dalam pelaksanaan UAN. Mereka tertekan, karena mereka belum dewasa dan berpikir untuk mengambil jalan pintas dengan membeli soal UAN atau bekerjasama dengan salah satu pihak sekolah untuk mendapatkan soal bocoran UAN. Inilah fenomena yang terjadi dari suatu sistem yang menuntut kualitas pendidikan yang berbasis pada orientasi nilai nilai dan nilai.
    Saat saya melihat komen dari anjar dan wahyu serta mas bagus, saya melihat kalian membahas suatu sistem yang membuat saya pusing. Memang dalam fenomena ini sya juga yakin bahwa sistem juga perlu patut dipersalahkan. Sistem yang terus berganti dalam implementasinya tanpa memperoleh keajegan yang pasti. Saya mengamati beberapa tahun ini banyak sisitem pendidikan yang terus berganti tanpa memperoleh hasil yang sekiranya diharapakn dapat memajukan kualitas pendidikan Indonesia. Saya CiNtA Indonesia, saya peduli dengan Indonesia. Tapi Manusia kadang menyalahkan tidak majunya Indonesia, itu karena sistem yang buruk,baik sistem politik,pendidikan dan lain sebagainya. Padahal sistem itu mereka buat sendiri dari hasil pemikiran mereka. Sistem yang baru dan direvisi diharapkan dapat lebih baik (itu menurut pemikiran mereka). Tapi kita lupa bahwa sebaik apa pun sistem itu dibuat maka selalu terdapat celah. Saya juga mengamati menganalisis dan menduga bahwa sistem pendidikan dengan UAN nya itu, menjadi komoditas bisnis gelap yang dilakukan oleh oknum2 dalm DEPDIKNAS. Mengapa? Kita lihat dari anggaran pendidikan untuk pelaksanaan UAN.cukup besar koq!!!..apalagi bisnis gelap dengan penjualan soal2 UAN ke sekolah, yang dujual dengan harga tinggi, menjadi santapan baru dalam merogoh kocek supaya dapat penghasilan tambahan. Oknum2 bisa dari lingkungan instansi pendidikan. Jelas pastinya. Maka dari itu, sebaik apa pun sistem itu dibuat, tetap saja sistem dibuat berdasarkan kepentingan2 terkait. Sistem yang paling baik sekalipun tapi jika tidak didukung oleh SDM yang menjunjung tinggi kejujuran, sama saja hasilnya nol. Saya mencoba mengamati bukan dari sistem saja, tapi coba melihat latar belakang sistem dibuat dan jika tingkat psikologis SDM Indonesia yang masih terkait dengan dunia KKN nya. SDM Indonesia masih belum dewasa dalam menghadapi era gobalisasi dan demokratisasi. Mereka seakan masih menikmati euphoria dari suatu kemenangan. Tapi saya yakin bangsa indonesia dan rakyatnya akan setahap demi setahap lebih maju dan mereka akan sadar bahwa dunia yang mereka hadapi besok akan sangat berat untuk dihadapi.
    Dari pendapat saya diatas merupakan suatu idealisme saya dlam menanggapi apa yang terjadi dengan fenomena pendidikan indonesia. Tapi saya sadar, dunia ini harus seimbang, kita tidak boleh menuntut idealisme kita tanpa melihat realitas yang ada. Realitas yang ada berkaitan dengan hal ini adalah ternyata UAN itu juga penting sebagai Quality kontrol terhadap kualitas pendidikan Indonesia. Kita perlu adanya standar yang jelas untuk melihat sampai dimana kualitas pendidikan kita berjalan selama ini. Tapi masalhnya, UAN dijadikan patokan utama dalam studi kita dalam penilaian proses belajar kita dalam beberapa tahun. Jadi timbulah persepsi masyarakt bahwa “untuk apa kita belajar selama beberapa tahun ini jika hanya ditentukan dalam beberapa hari dan bebrapa pelajaran”. “kemana penilaian kita dalam beberapa tahun ini kita belajar selama ini”. Jadi mereka berasumsi bahwa sia-sia dalam menjalani pendidikan. Langsung saja, saya tetap setuju UAN itu ada, tapi….ada tapinya, UAn tidak menjadi patokan utama dalam penyelesaian studi. Perlu adanya penilaian kelulusan lainnya, misalnya penilaian kita dalam proses kita belajar mengajar selam beberapa tahun terakhir.pelu adnya evaluasi menyeluruh dari kegiatan belajar kita. Dan peran guru sangat berperan dalam penilaian ini. Kenpa? Karena dengan gurulah kita belajar, yang mengerti sejauh mana kita meresapi peljaran adalah guru. Tapi, kembali lagi dengan kualitas SDM. Diharapkan guru mampu menilai secara objektif. Untuk mendukung agar penilaian guru objektif, maka kesejahteraan guru serta berbagai fasilitas sekolah dibenahi. Jadi menghindarkan terjadinya penyimpangan2 dalm proses belajar dalam peningkatan kualitas pendidikan. Tapi itu semua butuh waktu. Ya memang butuh waktu,namanya juga belajar..jadi intinya saya tetap setuju UAn ada kerana kita butuh parameter dalam mengetahui sejauh mana pendidikan ini berjalan tapi, patokan dalam kelulusan, saya tidak setuju…jadi..sukseslah dunia pendidikan saya berdoa dan berusaha juga, sama2 saling mendukung..percayalah kita akan membaik,kita belajar dan butuh waktu..hindari salng menylahkan..dan pikirkan solusi yang terbaik, jangan mengkritisi tanpa solusi. Benar kan mas? Maaf bila da kata2 yang salah..saya CINTA INDONEsIA..

  23. allow mas bagus….akhirnya rany ikut diskusi juga..maaf sebelumnya belum pernh ikut diskusi karena jarang ada waktu ngenet aja. Wah ngomongin tentang kualitas pendidikan ya…boleh juga…
    ok to the point aja yach mazzz!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    Memang betul, Indonesia sebagai negara berkembang harus melakukan beberapa untuk mengejar ketinggalan dari bangsa-bangsa lain yang sudah maju. Salah satunya yaitu dengan cara meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Pemerintah mempunya beberapa cara agar kualitas pendidikan di Indonesia bisa menciptakan SDM yang mempunyai daya saing dan daya tawar yang lebih baik di dunia kerja. Salah satu caranya yaitu dengan diwajibkannya pendidikan wajib belajar 6 tahun menjadi 9 tahun. Ditambah lagi dengan kebijakan sekolah gratis untuk tingkatan tertentu.
    Meskipun tidak ada wajib belajar 9 tahun, saya yakin semua masyarakat di Indonesia khususnya ingin mempunyai pendidikan yang lebih tinggi, tapi ada satu kendala yang membuat masyarakat membuat keputusan yang salah total, yaitu biaya pendidikan yang semakin lama semakin tinggi. Ini sangat membebankan masyarakat khususnya masyarakat menengah kebawah.
    Dengan adanya hal itu maka pemerintah membuat kebijakan adanya sekolah gratis untuk tingkatan tertentu. Setahu saya untuk sekolah gratis ini hany ada di beberapa daerah saja dan daerah lain yang bernasib sama juga belum bisa menikmati kebijakan tersebut, Tidak usah terlalu muluk-muluk sebenarnya, minimal pemerintah memberi bantuan untuk memperbaiki fasilitas sekolah yang sudah tidak memadai lagi.
    Oh y mas maaf kalo qbahas masalah ini dulu…mumpung unek2quw lagi keluar ne…boleh ya???????????????
    Qtahu dari temenku juga, tapi sebelumnya qjuga pernh tahu…pendidikan antara sumatra n jawa gak sama ya???kenapa bisa begitu…menurutku ne kalo setiap propinsi mungkin memakai kurikulum yang berbeda bagaimna bisa merata. Padahal banyak juga orang yang ingin meneruskan pendidikannya di luar daerahnya. Kalau berbeda orang itu akan merasa minder kan. Saranku lebih baik pemerintah menyamaratakan kurikulum yang dipakai. Aku tahu setiap orang mempunya tingkat berpikir yang berbeda, ada juga yang memang daerah itu dihuni oleh orang2 yang tingkat berpikirnya rendah. Lebih baik diawali dengan dipaksa memakai kurikulum itu, dan otomatis yang menjalankan merasa terpaksa kan?lha dari situlah kebiasaan akan timbul. Kalau sudah begitu kemungkinan kurikulum yang ada bisa dimengerti sama semua masyarakat Indonesia.
    Dalam pendidikan, untuk mengetahui tingat kualitas orang tersebut disamping diberi materi-materi juga pasti ada evaluasi belajar kan. Evaluasi ini berupa ujian memang yang banyak macam dan bentuknya, salah satunya adalah UAN. Qsudah menjalani yang namanya UAN/EBTANAS sudah 3x, SD, SMP, dan yang terakhir SMA. Evaluasi yang baik akan menunjukkan kualitas apabila memiliki standar tertentu. Begitu juga dengan UAN. UAN memiliki standar nasional. Menurut pendapat saya UAN itu masih diperlukan. Dan ini harus dicapai oleh para siswa yang akan lulus. Karena standar kualitas ini dibuat untuk menyeragamkan atau menyamakan persepsi orang dalam melihat hasil evaluasi. Selain, UAN juga bisa menjadi motivasi belajar. Setiap siswa yang akan menghadapi UAN pasti akan berusaha keras untuk bisa mencapai nilai standar. Ujian2 seperti semester, midtes, dsb kurang memacu siswa untuk mencapai nilai standar. Dengan adanya UAN yang semakin lama standar nilainya juga semakin tinggi diharapkan bisa meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
    Mungkin segitu aja mas…maaf kalau terlalu melenceng…ya ini unek2ku aja…saya harap bisa terima dan tidak terlalu salah…

  24. wah…
    diskusi 7..
    ya ampuuun setelah sekian lama ku meninggalkanmu mas bagus..
    maap ya…
    ati juga ga bisa kuliah coz kena cacar..hiks..
    ko jadi curhat..

    langsung aja ya…
    UAN…
    menurut saya seperti apapun sistem pendidikan kita saat ini, kita tetap membutuhkan sebuah parameter untuk mengukur tingkat pemerataan pendidikan di Indonesia.Dari hasil UAN yang ada harusnya pemerintah bisa ngaca..melihat gimana sih kualitas pendidikan indonesia..
    jadi ga seenaknya sendiri ganti2 sistem pendidikan dengan membuat sekolah2 “kepontalan”(ngerti artinya gak mas??) maksudnya tuh baru susah2 beradaptasi,mencoba ngejar ketertinggalan,eh kurikulum udah di ubah lg..kan jd ga ada guna… [keponthal-ponthal kali ya…-mods]
    ok..lgsg ke intinya..
    Jangan menyalahkan UANnya
    UAN tu sama seperti evaluasi belajar lain kaya MID, UAS, dll..
    sebagai parameter..
    sebelum kita menyelesaikan suatu jenjang studi, harusnya kita memang harus mengukur seberapa besar ilmu yang mampu kita dapatkan. masalah 3th cuma di uji 3hari..Gak masalah!! tiap hari selama 3tahun adalah proses dan kesempatan belajar buat kita. kecuali pada hari H kita sakit atau benar2 berhalangan, harusnya ada peraturan yang jelas dan dispensasi. bukannya harus dipaksa, diinfus sambil ngerjain UAN!! ga manusiawi bgt sih!!
    (ups..jadi emosi..)

    intinya saya setuju UAN,tapi…
    harus ada perubahan dan perbaikan, tapi bukan hanya sekedar nama!!
    1. sekolah kita udah diklasifikasikan(umum,kejuruan,ini itu..)
    kenapa UAN gak? (sebenarnya udah sih tapi belum spesifik)
    2. ada akreditasi perguruan tinggi,sekolah swasta, sekolah-sekolah negeri ada gak ya?jadi pemerintah bisa ngukur tingkat kompetensi guru+siswanya,sarana dan prasarana,dll. jadi bisa donk punya sebuah tolok ukur..ga asal menyamaratakan standar..nuntut yang muluk2…
    3. regulasi UAN yang perlu di reform(masalah dispensasi,pengawasan,dll..)
    karena berdasar pengalaman,sekolah asal cenderung membantu siswanya ngerjain soal2 UAN,coz kan malu klo ntar banyak yang gak lulus. jadi persepsi yang dangkal bgt itu yang sulit di ubah.
    4. udah berjuta2 tahun ada ebtanas,uan,dll…ganti2 kurikulum..tp apa respon pemerintah?bisa ngaca gak sih?atau hanya malu mengakui kegagalan?inovasi yang salah?hehe

    banyak sih..
    tapi permasalahan pokoknya,pemerintah kebanyakan urusan..(ciri dari administrator publik yang harus memenuhi tuntutan masyarakat yang super duper buanyak tapi SD nya sangat2 terbatas)
    katanya pendidikan tu prioritas..tapi nyatanya..???
    gimana donk?klo ujung2nya..”pembangunan dan perubahan tu perlu dana” hhhh,,,cape de…mulai sekarang tanya saja pada dirimu teman2..sudah punya SD yang memadai pa belum untuk terjun ke sektor publik nantinya yang tentu saja semakin ruwet??hehehehe

    aduh mas aku bingung,soalnya spontan sih,jadi gak sistematis..
    maap ya..
    makacihhhh

  25. wah coyi-coyi kalau baru ikutan nimbrung Mas Bagoes..??hitung-hitung amal mas…??heheheh

    udah Nyampe diskusi 7 ya( masalah uan)

    Kl menurut Aq sih lebih baik UAN di hapus aja gak ada efek buat kita khususnya pelajar-pelajar berotak pintar dan tidak begitu pintar,kerana semua hasil belajar kita disekolah hanya ditentukan oleh masa 3 hari mana lagi tiap tahun syarat kelulusan naik.itu sih bikin masalah tidak berujung.efeknya banyak pelajar akan berbuat apa saja buat lulus n mendapatkan nilai yang baik lewat cara-cara tidak lazim(nyontek waktu UAN,beli kunci jawaban) alangkah bobroknya kualitas pelajar kita nanti hanya untuk mencari nilai semata.Pelajar belajar untuk menimba ilmu dan akan diterapkan pada pemerintah dan masyarakat, efeknya bakalan terlihat SDM yang diciptakan tidak bermutu dan tidak bisa berbuat apa-apa..??

    paling-paling dari tindakan yang diambil pemerintah mengganti system pengajaran lagi..??kami bukan kelinci percobaan yang tiap tahun system pengajaran diganti khususnya UAN.Dari angkatan saya sudah main dirubah-rubah dari mata pelajaran 3 sesuai dengan jurusan(AQ IPS LHO) sekarang ditambah menjadi 6 buah itu sama saja pembunuhan secara perlahan.Para pendidik tidak mengetahui tingakatan stress para pelajar.seperti aq dulu stress berat karena harus lulus denga rata2 4,25 dan sekrang naik jari 5..??apakah karena pemerintah indonesia iri dengan standar keluluasan malaysia yang sudah 6..??

    kita tidak bisa begitu, negara kita itu sangat luas dan perkembangan pedidikan kita berada di Jawa saja,bagaimana dengan daerah yang tertinggal dan sangat jarang tersentuh dengan bantuan pemerintah itu harus dipikirkan juga(hey pemerintah jangan maen atur sendiri liat daerah yang tertinggal)

    Kl boleh sih yang dirubah sistem penilaian kelulusan jangan yang dirubah sytem pengajaran yang tiap tahun berubah terus
    1.lebih baik kelulusan seorang pelajar dilhat dari dia belajar selama 3 tahun(misal di SMA) dilihat nilai dia apakah sewaktu disekolah nilai yang didapat diatas rata-rata apa tidak
    2. Kalau mw meniru system pendidikan itu conth jepang,jangan negara tetangga khsusnya malaysia(ganyang malaysia)
    3. kualitas guru diperbaiki dengan standarisasi tingkat pendidikannya jangan mengambil guru bak beli kucing dalam karung(tidaktau kualitas sebernarbya)
    4. Pelajar juga diharapkan untuk belajar dengan sungguh apabla uan ditiadakan

  26. assalamualaikum mas bagus
    langsung aja bro secara idealis saya tidak setuju dengan UAN yang masih bertahan sampai saat ini. Karena secara fungsional UAN hanya menjadi semacam kunci kelulusan siswa bukan mengukur dan membuktikan kemampuan siswa dalam menguasai pendidikan dasar 9 tahun. sedangkan solusi untuk memecahkan permasalahan ini terletak pada tingkat profesiionalitas dari setiap pengajar dalam menguasai kelas dan memberikan pelajaran kepada siswa. Sedangkan sampai saat ini pendidikan di Indonesia terutama di pulau jawa pendidikan hanya dijadikan semacam kebutuhan dasar bagi setiap WNI untuk menentukan tingkatan sosial terutama dalam hal profesi, pekerjaan, dan organisasi. Untuk itu yang diperlukan adalah kebutuhan sekaligus kesadaran pentingnya pendidikan bagi setiap WNI, memang ini terlihat masih sangat abstrak tetapi jika kita mencoba untuk membreakdown keabstrakan tersebut menjadi beberapa solusi alternatif maka sesungguhnya kondisi problematis UAN dapat sedikit demi sedikit berubah secara positif, misalnya membuat kebijakan agar setiap sekolah menyediakan fasilitas perpustakaan dan koleksi buku yang lebih sekaligus membuat aturan yang lebih bisa membuat tekanan kepada siswa untuk membaca dan membaca karena dengan cara itu dapat diharapkan siswa harus terbiasa membaca bukan melanggar aturan. terima kasih. sekian saja.

  27. waduh dah sampe diskusi tujuh tha…

    wah jan parah bgd nii mas ak gag pernah ikutan diskusi hikz….
    mas nilai kku bs dikatrol kan hwakakakak…
    mas msh boleh ikutan diskusi yg sebelumny ga? hehehehe..
    waduh yg ngetik pd banyak2 y mas, mpe pusing ngliatnya..
    ok de mas mw nanggepin diskusi diatas nii…
    gini mas bagus klu menurut ak sich yg namanya UAN untuk tingkat SD, SMP dan SMA masih perlu diadakan, coz banyak jg skola2 yg ga ngadain ujian mid semster mas..nah klu gag ad ujian mid trs gag ad UAN gmn mw liat kualitas pendidikan masy. Ind. mas..
    trs UAN tu mbok y jgn malah jd momok bagi para siswa, masak tiap tahun rata-rata nilai lulusny tambah tinggi padahal tahun yg sebelumny belum brhasil buktinya msh byk yg ga lulus kan mas..setuju gag mas? hehehehe…
    dah gt skr ada isu klu bsk UAN tu 6 mapel n nilai tuntasny hrs 5 keatas buset dah yg bnr aj..yg ada malah tbh byk yg g lulus…tp mg2 aj pd lulus y mas…
    tw g mas ampe adek ku nangis denger kbr ky gt…
    jd menurutku sich UAN itu perlu tp sebaikny tu y melihat hsl yg sebelumny baru klu dah berhasil bs deh diubah jml mapel n nilai tuntasny…cip gag mas?

    okz de mas segitu aj ya mas bagus..

  28. ms bagus mw nambahin nii..
    dan jikalau bsk entah kpn pemerintah meniadakan UAN…
    sebenernya bnr jg sich..
    kualitas pendidikan orang tu jgn ditentuin cuma dengan waktu 3 hari doang..
    sp tw wkt it yg pinter pas sakit jd g maksimal grapny..jd g lulus deh..
    lgan wktu UAN byk jg tu yg jual soal bocoran entah dr pihak luar skola ato dalam skola..dah gitu para siswa byk jg yg contek2an..
    wah jd ga murni deh hasil UANny..
    jd apapun kebijakan dari pemerintah saat ini memang harus dilakukan (kok malah jd belibet sich?)

    wah warnetny rame tenan mas jd susah mikirny…
    hehehehehe..

  29. Ass Wr.Wb
    UAN y mas………??
    Menurut pendapat saya, dengan adanya UAN sebagai faktor utama penentu kelulusan di tingkat sekolah merupakan suatu hal yang tidak bisa dijadikan sebagai patokan akan tingkat kemampuan seorang pelajar. karena bisa kita lihat kemungkinan adanya kebocoran dalam distribusi soal, dan berbagai penyelewenganlainnya. selain itu kelulusan seorang pelajar tidak bisa hanya dengan melihat nilai yang di dapat dalam ujian yang hanya dilakukan beberapa ha ri saja, kemampuan seorang pelajar harus dilihat dari tindak kesehariannya di sekolah. sistem pendidikan yang ada saat ini haruslah banyak dilakukan koreksi untuk kedepanya agar lebih baik. penilaian seoran guru pengajar yang berhadpan langsung dengan para siswa haruslah mendpat porsi yang besar dalam penentuan kelulusan pelajar. mungkin UAN bisa saja dijadikan standar kelulusan tapi jangan hanya mengambil nilai 100% dari hasil nilai UAN.
    selain itu mas, perlu diadakannya suatu program pengganti bagi program WAJAR 9tahun, karena bisa kita lihat saat ini, sarjana saja banyak yang nganggur apalgi klo cm lulusan SMP?(mungkin juga perlu dilihat sich bagaimana kualitas sarjana tersebut tapi khan sekarang tingkat pendidikan khan dijadikan syarat yang utama dalam mendaftarkan kerja….kcwli tenaga kuli lho>………:)))))
    EHM……….apalagi klo biaya pendidikan bagi masyarakat GratiSSSSSSSS, pasti semakin banyak lagi muncul sarjana-sarjana baru di bumi pertiwi ini..
    kembali ke permasalahan diatas, intinya saya sich setuju-setuju sja dengan diadakanya UAN tp perlunya adanya regulasi-regulasi baru untuk menggantikannya..misal dgn memasukn nilai ulangan sehari-hari dlm pertimbangan kelulusan, perilaku, dll. sehingga kelulusan tidak 100% dr hasil UAN.
    makacih…
    Wass…WrWb

  30. selamat pagi sodara satu nusa satu bangsa satu bahasa….
    assalamu’alaikum…
    waduh…q udah telat banget ya maz….gpp wiz, daripada gak blaz…

    UAN y maz…mmm…susah banget kalo lihat nasib bangsa qt ini, apalagi masalah UAN…UAN kayaknya seh masih perlu, tapi kalo dipikir-pikir koq sistem penilaian kelulusan hanya dengan menggunakan UAN thok sebagai benchmark koq kurang pas y…bener pula yang diomongin ma temen-temen, udah repot-repot skul 3 tahun, lha koq klulusannya cuma ditentuin bberapa hari doank lewat UAN ntu…pasti banyak yng bilang gak adil..apalagi kalo ternyata ada anak yng gak luluz padahal sebelumnya dia termasuk anak yang pinter di skulnya, nilai rapornya aza juga bagus2..
    apalagi sekarang kan standar klulusan dinaikin +mata pelajaran yang diujikan ditambah jadi 6… 3 aza banyak yang protezz lha ini mlah jdi 6, standar kelulusan dinakikin pula..abiz 4..teruz 5..walah…jangan2 ntar beberapa tahun lagi jadi 7 ato 8…ha99x… jangan2 ini efek persaingan dengan negara tetangga lain truz Indonesia gak mau ketinggalan + maunya instan bin spontan….Truz jangan2 lagi standarnya doank yang naik tpi kualitasnya nothing…cuma covernya aza yang keliatan dari luar kalo standarnya tinggi + biar gak malu2in…..bubrah tho maz? apa kata dunia??? (mengutip dialog dari film nagabonar)
    Jadi, langsung ke intinya maz biar ngomongnya gak tambah gak jelaz +ngawur doank…UAN masih perlu.. tapi mutu pendidikan perlu dibenahi…standar gak perlu tinggi yang penting mutu memadai…truz UAN jangan dijadiin sbagai penentu kelulusan, yang dijadiin ntu hasil evaluasi smua nilai rapor selama skul biar ntar skulnya beneran & isinya gak cuma maen2..lagipula banyak siswa yang punya pikiran menganggap remeh skul dan yang penting bisa luluz jadi belajarnya cuma paz ujian doank….insyaAlloh dengan demikian akan menimbulkan iklim persaingan yang merata +adil di setiap skul di Indonesia…masalah penerimaan murid baru yang biasanya menggunakan nilai UAN diganti aza dengan test tulis…
    terima kasih + maaph yo maz baguz kalo tulisannya gak sistematis + gak jelaz blaz…setidaknya udah “urun rembug” di diskusi ini…
    wassalamu’alaikum wr.wb.

  31. duh, bahaya…tanpa tedeng aling-aling ternyata diskusi ini bisa ngaruh ke nilai…ckckck…dunia memang tempat yang kejam, bahaya, dan penuh intrik…jleb! kyanya gw kloter trakhir deh..tp gapapa lah telat juga,.daripada ga..,mendingan ga c..oia, ni muhammad rahmatullah mas bagus,..tapi cukup imat ajah…lebih catchy di kuping..yeeha

    ni masalah UAN ya??,.
    hmm..
    wah,.sbenarY banyak yg pengen saya komentarin..tp sayangnya rata-rata komentar saya udah disebut ma teman-teman yg lain..jd kurang lebih seperti itu lah..(g mau susah…)..hoho

    cma kyaY kita g perlu trlalu kasak-kusuk nyalahin pemerintah deh,..pemerintah itu kan kita sendiri yang milih,..kan kita rakyatnya..maksudnya rakyat Indonesia yang berasaskan demokrasi..
    lebih baik kita dukung dan awasi aja dulu niat n maksud baik kebijakan yang ada sekarang..
    dah jadi penyakit di Indonesia c, masalah satu belum kelar, dah mau mecahin masalah yang lain…jadiY keblenger..(ap y arti keblenger??)
    kita sukseskan aj dulu program BOS pemerintah, maksudnya kan yg pertama biar seluruh Indonesia sampe ke pelosok – pelosok daerah terisolir yg harus pake helikopter/kayak/jalan kaki/ojeg payung buat akses masukY sekalipun punya infrastruktur, ma sarana – prasarana pendidikan..masih sering kan liat di berita tv ato koran ato dimana lah,.banyak sekolah yang rubuh, bocor, ga layak pakai dsb, trus para siswaY pada belajar di tenda, kdg2 libur malah,ya gmana mau maju kualitas pendidikan?..nah,klo program ini sukses kan di Indonesia tuh sampe pelosok yg paling dalam kaya lembah baliem juga udh punya sarana-prasarana pendidikan yg layak.,lalu kita lanjutkan dengan mengsinergikan maksud yang kedua, yaitu agar tidak ada lagi usia sekolah yg putus sekolah ato ga sekolah sama sekali malah,.ini kan bahaya..makaY ad program BOS,.biar semua warga negara Indonesia punya hak untuk mengenyam pendidikan, terutama yg ga mampu..intinya memeratakan pendidikan di Indonesia lah..
    ya masyarakat juga c yg ikut bertanggung jawab utk mensukseskan program pemerintah tsb…
    nah, baru klo seluruh warga Indonesia usia sekolah udah bisa ikut wajib belajar,dan bisa belajar di tempat yang layak tanpa pengecualian apapun..baru kita godog/goreng masalah yg lain buat dicari solusiY..kya: knp g ad realisasi 20% dana APBN buat pendidikan?,UAN perlu ap g?,knpa c kurikulum pendidikan di Indonesia gonta-ganti?,kok bisa yah ad korupsi di tubuh pendidikan?,layak dipertimbangkan mana SMK ato SMA?,IPDN enaknya dibubarin ap ngga yah?,knpa marshanda putus sama baim wong??,ato knapa yah banyak sekolah-sekolah yg muridnya pada kesurupan??(red;makanya jam pelajaran agama ditambah😉..ato,knpa Indonesia ga meniru sistem pendidikan di finlandia aj yg kataY No.1 wahid di dunia?..

    udahlah mas segitu ajah,..otak saya mau meledak!,.hehe
    maaf lah klo ga nyambung..saya cuma memenuhi panggilan jiwa dan raga dengan tulus ikhlas untuk ikut diskusi ini…(sebenarnya saya berharap dapat nila AAA+++,.huhu)

    makasih deh mas..

  32. Assalamu’alaikum Wr.Wb
    Sory bgt ya mas, baru bisa gabung, tapi lebih baik telat dari pada gak sama sekali. Ok! mungkin langsung aja ketopik diskusi.

    Kalu menurut saya sich UAN masih tetap diperlukan Soalnya UAN yang selama ini kita denger juga belum lama kita alami sendiri dibuat bukan tanpa tujuan. Harapan pemerintah dengan adanya UAN akan digunakan sebagai kendali mutu atau tolak ukur pendidikan nasional dan juga untuk mengetahui sejauh mana kemajuan pendidikan secara umum di Indonesia. Ntar kalu gak ada yang bisa dijadikan tolak ukur, bagaimana pemerintah bisa tau berhasil tidaknya pendidikan yang selama ini berlangsung.

    Namun selama ini, kebijakan pemerintah mengenai UAN ini dihadapkan dengan berbagai kendala dan permasalahan yang muncul mulai dari teknis pelaksanaan sampai hasil yang dicapai. Masyarakat masih banyak yang pro-kontra terhadap UAN. Hal tersebut mungkin karena system yang dipakai dalam UAN masih terdapat kekurangan diantaranya: UAN yang hanya diberlakukan u/ beberapa mata pelajaran, belum dpt digunakan sebagai jaminan dan tolak ukur kualitas pendidikan di Indonesia secara umum. Soal – soal UAN masih didominasi pengembangan aspek kognitif saja, padahal sesungguhnya hasil dari suatu proses pendidikan tidak cukup jika hanya dilihat dari aspek kognitif semata. Belum lagi dalam prakteknya banyak kecurangan yang terjadi disana sini.

    Hal yang berkaitan erat dengan UAN adalah standar kelulusan, yang dari tahun ke tahun selalu mengalami kenaikan. Menurut saya itu hal yang wajar. Kebijakan pemerintah dengan menaikkan standar kelulusan merupakan upaya u/ meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia yang selama ini dianggap paling rendah dibanding negara2 tetangga, terlebih lagi jika dibandingkan dengan negara barat pati akan sangat jauh tertinggal. Tentunya sebelum memberlakukan kebijakan tersebut pemerintah sudah mengkaji dari berbagai aspek dan kemungkinan yang bakal terjadi. Misalnya saja mengantisipasi banyaknya siswa yang tidak lulus ujian pemerintah juga menyelenggarakan ujian kejar paket sesuai dengan tingkat pendidikan yang sudah ditempuh.

    Jadi, pada intinya saya tetap mendukung program UAN yang diselenggarakan oleh pemerintah. Begitu juga dengan standar kelulusan yang terus di tingkatkan dari tahun ke tahun, seharusnya bisa memotivasi siswa maupun guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah tidak hanya saat mendekati ujian saja, akan tetapi lebih kepada upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang ada.

    Mungkin itu aja mas, mudah – mudahan paham dengan bahasaku yang gak sistematis. Wassalamua’alaikum Wr. Wb

  33. Ping balik: Mengupas Diskusi Tujuh « Abasosay’s Weblog

  34. uan msh diperlukan sbg bhn alat evaluasi,ttp perlu sistem pelaksanaannya disedrhanakan lagi, tidak melibatkan aparat, ttp perlu dikondisikan para kasek hrs mmlk sikap,komitmen yg tegasdan klu bs mata ujinya semua matpel yg ada pd ktsp, sehingga menggambarkan kompetensi lulusan

Komentar ditutup.