Konversi Lalu Naik


Tadi pagi, bangun tidur, langsung ambil koran. Kedaulatan Rakyat jadi sarapan pagi. Hehehe. Seperti biasa, berita hanya dibrowsing dari judulnya aja. Tertegun, terkejut, segala perasaan campur aduk liat satu berita dengan judul “Harga Gas Akan Naik”. Ga lucu nih. Bukankah beberapa waktu yang lalu sedang ramai-ramainya konversi minah jadi gas. Kok sekarang gas dinaikkan harganya.

Bebebrapa waktu yang lalu, Pemerintah melakukan pembagian kompor gas dan tabung gas gratis walaupun tabung gas yang dibagikan tergolong kecil dan harganya diperkirakan terjangkau oleh masyarakat. Namun dalam jangka panjang dapat diperkirakan bahwa penggunaan bahan bakar gas elpiji akan meningkat. Sementara sumberdaya alam fosil semakin berkurang karena terus diambil dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memperbaruinya. Bisa jadi harus menunggu ribuan tahun untuk memperbaruinya. Hampir dapat dipastikan bahwa harganya akan meningkat. Apakah ini juga telah diperhitungkan oleh Pemerintah?

Penggunaan bahan bakar gas memang dapat dibilang lebih hemat karena gas dapat mengeluarkan api yang relatif lebih stabil dan lebih panas dibandingkan dengan minah. Akan tetapi penggunaan dengan kuantitas tabung yang semakin banyak secara bersamaan akan mengakibatkan permintaan bahan bakar gas melonjak cukup besar. Pengaruhnya akan kembali lagi pada sediaan dan harga. Seperti yang dikatakan oleh orang ekonomi bahwa harga akan dipengaruhi oleh besarnya permintaan dan penawaran. Itu masalahnya kembali ke laptop harga.

Sepertinya belum ada antisipasi yang dilakukan oleh Pemerintah dalam menangani permasalahan. Kecenderungan para pelaku Pemerintah adalah mengeluarkan kebijakan yang bersifat reaktif. Contohnya saja ketika kebijakan untuk menggantikan minah menjadi gas dikarenakan subsidi minah yang tidak dinikmati oleh  masyarakat kecil. Maka diupayakan untuk meningkatkan kesejahteraan dengan mengubah minah menjadi gas.

Kemudian ketika permintaan akan gas meningkat, maka Pemerintah menaikkan harga karena jumlah persediaan semakin menipis. Lalu apakah masyarakat harus kembali menggunakan kayu bakar untuk memasak? Hmmm, reaksi apa yang akan diambil oleh Pemerintah dalam menanggapi kenaikan harga gas ini?

Apakah dalam membuat kebijakan tidak melakukan prediksi dan menentukan skenario-skenario antisipasi dalam menangani resiko suatu kebijakan. Sepertinya Pemerintah perlu mendalami Manajemen Resiko. Atau bahkan perlu mempelajari TOWS agar memiliki sense of risk. Sepertinya perlu juga mempelajari teori bisnis agar dapat memperkaya pengetahuan, dan memberikan sedikit nilai tambah dalam hal pelayanan pelanggan dan konsumen. Berarti perlu mempelajari Manajemen Layanan.

Ternyata banyak yang harus dipelajari oleh Pemerintah. Apakah Pemerintah akan berbesar hati dan mulai mempelajari teori-teori tersebut? Hanya waktu yang dapat menjaab semua itu.

8 thoughts on “Konversi Lalu Naik

  1. hehehe…kok sepi ya,apa krn udah selesai kuliahnya jd sepi gini mas,???kasian…
    TOWS tuh kaya strategik matriknya SWOT bukan sih..???
    maybe,coiyo buat lebih bnyak lg nyari user di abasosay!!!apa perlu aku jd marketingnya mas…hehehe

  2. @wahyu; ya gini klo ga ada ancaman nilai…

    TOWS itu SWOT. Cuman dibalik aja. Kan liatnya lebih gampang dari Thread-nya duluan. Kalo liat dari Strength-nya dulu, Thread-nya ga bakalan keliatan. Coba dech.

    Kalo emang berminat sama marketing, mau ngikut di N21 ga?😀

  3. hehehe…iyaya!oh iya mas…di ilmu manajemen tuh ada yg namanya Basecord Balance,nah itu apaan ya mas tau enggak??sama enggak sih ma SWOT ini,dengan kata lain buat ngeliat diri ( dri segi kekuatan,kelemahan,dsb) dalam suatu organisasi??!!
    eh Mas Bagus…walau perkkuliahan udah selesai,saya mash boleh nanya2 abot perkuliahan kan mas??dari pada aku tanya ma orng yg salah hanyo???
    heheh…😀
    makasih Mas sebelumnya…

  4. asaslamualaiikum,mas sorry baru bisa gabung sekarang,karena kemerin ne situs tiap kali kirim komentar erormulu jadi kesel,ne…..tapi kayaknya sekarang dah bisa ne,,,mas sebenarya menurut saya permasalahan konversi minyak tanah ke gas sevbenarnya merupakan pelarian pemerintah sesaat,dimana dengan naiknya harga minyak dunia yang semakin meroket berarti tambah tercekiknya APBD negara ini pelarian ini dinilai untuk kondisi sekarang karena pm melihat harga gas jauh lebih murah untuk di subsidi dari pada minyak tanah,kenaikan yang mungkin nanti terjadi akibat kenaikan permintaan gas memang merupakan konsekkuensi logis namun untuk jangka pendek hal ini tidak terlalu mencekik PM dibanding jika tetap mengendalkan minyak tanah,memang sosusi jangka pendek ini soslusi yang paling baik,namun menurut saya pribadi ada satu kebijakan yang lebih urgen dan bersivat jangka panjang yang harus pM lakukan yaitu pemerintah mencari risorsis yang gak habis(dapat diperbaharui) untuk energi dengan segera,karena jika pm selalu lari dari satu energi yang lebih murah namun akan habis maka lambat laun kondisi yang sama akan selalu terjadi,disini PM sebaiknya sesegera mungkin memberdayakan mas untuk berlomban mencari energi baru yang dapat diperbaharui dan paraktis,dan apabila dah ketemu buru-buru dipatenkan sebelum di colong orang lain,dan menguntungkan kita karena orang yang memakai ide bangsa kita harus bayar royalti dan berarti menambah devisa,maaf agak sedikit melenceng dari teory mas namun menurut saya itu yang terpenting untuk kondisi sekarang,makasih mas atas diskusinya

  5. Ping balik: Gali Jurang, Tutup Lubang… « Abasosay’s Weblog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s