Kedelai Dianalisis


Beberapa hari yang lalu baca berita kalau harga kedelai naik. Kirain cuma bentar aja naiknya trus kembali normal. Tapi ternyata sampai sekarang katanya belum normal. Lalu ada berita susulan bahwa tahu dan tempe jadi hilang dari pasaran. Dahsyat yah.

Beberapa hari yang lalu malah sempat baca kalau harga kedelai naik, tahu-tempe menghilang,  ekonomi kacau. Yang bilang gitu pengamat ekonomi tuh. Dan dia bilang bahwa gak nyangka kalau ekonomi bakalan kacau gara-gara kedelai.

Padahal kalau kta perhatikan lebih jauh yang namanya kedelai itu termasuk dalam bahan pokok. Baik industri maupun rumah tangga. Industri sudah mulai membuat susu dengan bahan baku kedelai. Sementara untuk rumah tangga baik langsung dimasak maupun diolah terlebih dahulu menjadi tahu atau tempe. Kalau tidak salah bahan kecap adalah kedelai. Sudah mulai bisa membayangkan apa jadinya bila harga kedelai terus menerus naik?

Ketika terjadi kenaikan harga bahan baku, umumnya yang terjadi adalah pengurangan produksi. Atau bahkan menghentikan produksi hingga kondisi pasar menjadi normal kembali. Secara ekonomi, ketika terjadi penurunan pesanan atas bahan baku, maka persediaan akan meningkat, kemudian harga akan turun karena pesanan berkurang. Bukan begitu?

Nah, ketika harga turun pembelian besar-besaran akan meningkat. Persediaan turun lagi. Harganya jadi naik lagi. Mbulet yah. Itulah ekonomi.

Dari sudut pandang AN, perlu diberlakukan suatu kebijakan untuk mengendalikan harga kedelai. Kebijakan ini cenderung reaktif, jadi harus cepat. Ini yang belum sempat terpikirkan. Mau menyalahkan pemerintah lagi jadinya.

Tapi bagaimana lagi. Yang pasti kebijakan ini harus segera diberlakukan karena bila masih tidak terkendali dan harga tahu, tempe, dan kecap membumbung tinggi, akan banyak usaha kecil yang harus gulung tikar. Karena pengrajin tahu dan tempe, dan pedagang kakilima menggunakan kedelai secara langsung maupun tidak.

Bila mau menghitung, berapa banyak penjual nasi goreng yang menggunakan kecap di seluruh Indonesia dikalikan dengan harga kecap per botol, dikalikan dengan jumlah botol per hari yang digunakan. Itu baru penjual nasi goreng dalam satu hari. Bagaimana dengan penjual oseng-oseng dan sejenisnya yang menggunakan kecap. Belum lagi dengan rumah tangga yang juga menggunakannya. Bagaimana juga dengan penjual sate?

Ada alternatif lain?

2 thoughts on “Kedelai Dianalisis

  1. ass…boleh dong mas dita gabung?
    kedele,memang seperti yang mas katakan merupakan urat nadi masyarakat menegah kebawah indonesia,mulai dari tempe,tahu,ampe kecap,bahan utamanya adalah kedele,apa jadinya penjual gorengan,massyarakat dan mahasiswa tampa kedele?ironis bangsa kita yangluas ini untuk pemenuhan kebutuhan kedele aja 60% lebih mengandalkan inpor,melihat kondisi mantan pemmimpin indonesia yang lagi sakit bapak suharto rasanya saya rindu dengan sebuah kata yang selama ini sudah lama kita semua tak dengar,yaitu Swasembada pangan,bangsa ini yang dikenal bahwa tongkat ditananm bisa tumbuh ternyata beras,kedele,masih harus inport,inilah akibat dari teory WTO tentang ketahanan pangan andalah kerersediyaan pangan di pasar internasional yang selama ini kita jadikan panutan(matakuliah OI)sebenarnya menurut saya pemerintah sekarang melihat kenapa kita sebegitu munafik dengan mengiginnkan ekspor bila keb dalam negeri yang paling urgen seperti pangan kita masih harus inpor,malu saya dengan bangsa ini,kenapa kita harus mengejar pertumbuhan teknologi canggih lain tapi teknologi pertanian kita abaikan,saran saya 1 dari sisi AN adalah kembali memberdayakan mas mencintai prodak pangan dalam negeri yang bebas pestisida yang menagndalkan kesuburan tanah kita,tumbuhkan lagi istil;ah Swasembada pangan,sehingga penuhi dulu keb pokok rakyat kecil,nanti urusan yang lain,,
    pentig buat PM melihat bahwa kep mas miskin yang harus diutamakan,ide ketersediayaan pangan di daerah perlu kita utamakan yaitu,mengerakkan segenap sumberdaya lokal sebagai pemenuhan pangan daerahnya ketimbang pemenuhan keb pangan oleh pasar internasional sangat realistis untuk kondisi sekarang ini.makasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s