Parkiran: The Beginning


Disclaimer:

  1. Kumpulan obrolan santai dikumpulkan dalam “Parkiran”.
  2. Obrolan santai ini mendiskusikan segala macam yang bisa didiskusikan.
  3. Tidak ada niat untuk memojokkan pihak manapun karena ini hanyalah obrolan santai.
  4. Tidak ada niat untuk mengajak pihak manapun untuk menyamakan ide bahkan menggalang massa sekalipun.
  5. Obrolan ini hanya ditujukan agar dapat menjadi renungan kita bersama.
  6. Bila memang dibutuhkan, silahkan berkomentar karena ini adalah “Parkiran”.
  7. Semua nama dalam obrolan ini adalah disamarkan. Bila ada kesamaan nama, tempat dan kejadian, itu hanyalah kebetulan belaka.


Parkiran di kantor saya tidak jauh berbeda dengan parkiran di tempat yang lain. Roda dua berjajar rapi dan tidak rapi, saling silang, bahkan seringkali acak-acakan ketika ada kuliah pengganti untuk program sarjana. Penjaga parkir roda dua tidak ambil pusing dengan keadaan itu. Saya sih maklum, karena memang lahan parkir yang sempit dipaksa untuk menampung sekitar seratus kendaraan. Mana tahaaaa……aannn.:mrgreen:

Tempat parkir kendaraan yang dulunya hanya untuk memarkir kendaraan roda dua, kini telah bertambah fungsinya. Menjadi sebuah Dilarang merokok bagi para perokok. Yang menjadi keluhan bagi petugas kebersihan lantai dasar adalah masalah puntung yang bertebaran di mana-mana. Maklum tidak disediakan asbak di tempat parkir.:mrgreen:

Semua bermula ketika suatu hari di akhir bulan Januari mendadak dipasang tanda “Dilarang Merokok” di lobby kantor. Seisi kantor menjadi gempar dengan kejadian itu. Kebetulan saat itu ruangan yang saya gunakan berada di lantai 3 yang lumayan melelahkan bila harus turun ke tempat parkir dan kemudian kembali ke ruangan di lantai 3.

Icang (OB lantai 3): Wah, sekarang kalau mau merokok susah mas. Harus turun ke bawah nih. Yang boleh jadi tempat merokok cuma di parkir roda dua.

Bagoes (a.k.a. abasosay): Ya turun aja mas. Lumayan ganggu kerjaan nih. Lha saya kalau lagi bundhet (Jawa, kusut – red) ya harus sebatang dulu mas. Kalau gak gitu bisa keterusan bundhetnya malah ga selesai-selesai.

Icang: Kalau gitu nanti turunnya bareng ya mas.

Bagoes: InsyaAllah mas.

Semenjak itu tempat parkir roda dua di kantor saya menjadi ramai dengan karyawan dan staf yang meluangkan waktu untuk menikmati sekedar sebatang. Waktunya bisa berbeda-beda. Namun ketika bertemu, pasti terjadi obrolan kecil yang kadangkala santai penuh dengan canda tawa, atau juga obrolan yang sedikit serius yang diselingi dengan canda tawa. Parkiran telah menjadi sebuah ruang sosialisasi bagi karyawan dan staf. Bila dulunya hanya bertemu dengan karyawan yang bertugas di lantai yang sama, sekarang perbincangan terjadi dengan siapapun yang kebetulan memiliki waktu luang yang sama.

Bagoes: Wah, gimana sih, bikin peraturan tapi tidak ada persiapan dan perencanaan yang matang. Seharusnya sebelum diterapkan larangan merokok itu dibuatkan terlebih dahulu smoking area-nya. Jadi peraturan itu memfasilitasi kedua pihak. Baik smokers maupun yang tidak.

Tatang (Driver big boss): Iya mas. Ini peraturannya tidak ada sosialisasi, persiapan, tahu-tahu diterapkan. Lha yang masuk kategori jadi blingsatan.

Sumali (Driver kantor): Lha ya gitu mas. Peraturannya disini dari sejak pergantian struktur selalu mendadak. Kalau yang dulu kan selalu direncana baik-baik. Sekarang serba mendadak. Siang ada tugas ya pemberitahuan diberikan pagi mas. Apa tidak pusing itu.

Bagoes: Ya harusnya ada sosialisasi terlebih dahulu, baru kemudian diujicobakan. Setelah itu baru dilaksanakan.

Sumali: Ya itu harusnya Tatang yang bilang sama bapaknya.

Tatang: Lha kalau saya yang bilang nanti bisa dikembalikan ke pusat.

Sumali: Kalau di pusat kan lebih makmur.

Tatang: Makmur gimana. Kalau disana malah diperas tenaganya.

Sumali: Tapi kan terjamin enak. Tugasnya gak seberat disini.

Tatang: Wah, gak cocok kalau disana.

Terpaksa obrolan ditinggalkan karena harus kembali ke pekerjaan utama. Naik-naik ke puncak gunung lantai 3.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s