Pilihan yang sulit


Sebenarnya mau bikin posting masalah situs yang diblokir. Namun sepertinya nanti atau besok pagi saja ah. Biar ada kegiatan. Biar telat asal basi, eh, udah telat basi lagi. Gapapa. Yang penting datanya harus dikumpulkan terlebih dahulu sebelum dipublikasikan. (Ah elu alasan aja):mrgreen:

Hari ini nulis yang simple-simple, pengalaman pribadi saja. Bila ada kejadian yang sama, mirip, bahkan yang sama sekali ga ada hubungannya, itu hanya kebetulan belaka.

Selama beberapa minggu terakhir, sibuk dengan proposal dan laporan hingga tidak mencermati dan mengamati fenomena yang terjadi di sekitar. Salah satunya adalah yang terjadi dengan rekan kerja yang kebetulan sering bekerja bersama-sama. Terlebih ternyata di kantor tinggal satu ruang saja yang bisa ditempati, dan ruang tersebut dijadikan mabes bagi kami. Waduh, satu ruangan dengan bukan muhrim. Bahaya tuh.

Ruangan kami sesungguhnya dilalui oleh banyak orang. Saya hanya merasa tidak nyaman saja satu ruangan bersama dia. Kadang saya ingin rekan itu mengundurkan diri. Berbagai tingkah yang menyebalkan hingga taraf annoying dilakukan. Tapi tetap saja betah. Malah parahnya, teman sekantor yang lain malah mengatakan “Kalian mesra banget, kapan nikah?” What???

Saya senang memanggilnya dengan panggilan yang tidak dia sukai. Harapannya, dia marah, lalu menjauh, bahkan mengundurkan diri. Tapi, dia tetap bertahan dan tidak terpengaruh. Bahkan, sepertinya dia menikmati dipanggil dengan nama itu. Malah jadi panggilan kesayangan. What???

Seringkali tingkah annoying dilakukan saling berbalasan. Namun sudah sekitar tiga minggu saya hanya memanggilnya dengan nama yang tidak dia sukai saja, sementara saya menjauh dari sekitarnya. Karena ruang yang disiapkan untuk kami berada di lantai dua, saya sering melarikan diri ke lantai tiga atau ke lab komputer yang berada di lantai satu.

Tingkah annoying yang biasa dilakukannya adalah menjelek-jelekkan saya di muka umum. Awalnya saya tidak memperhatikan hal ini. Saya anggap biasa saja. Namun beberapa hari ini sebuah pemikiran mengusik ketenangan saya. Ada apa sebenarnya di balik ejekan-ejekan dan cemoohan dari dirinya itu?

Akhirnya saya teringat bahwa di jaman saya muda dulu (sekarang sudah tua nih… ) setiap ejekan bisa menjadi pemicu bagi saya untuk tampil lebih baik dan menunjukkan bahwa saya tidak seperti yang diejekkan itu. Tapi sekarang ejekan tidak memiliki pengaruh yang signifikan bagi semangat berkompetisi saya. Kata orang sih saya sekarang lebih low profile.:mrgreen:

Ada beberapa alternatif jawaban mengenai tingkah lakunya itu, menurut pendapat saya:

  1. Mencari perhatian saya.
  2. Mencoba mengubah saya menjadi lebih baik sesuai dengan standar yang dia tentukan.
  3. Memang tidak suka dengan saya.

Sulit untuk menentukan sikapnya masuk di pilihan mana. Bagaimana menurut Anda?

One thought on “Pilihan yang sulit

  1. Ping balik: St Louis Personal Injury

Komentar ditutup.