Terjebak Peringkat


Dunia pendidikan jauh berbeda dengan dunia kerja yang akan dihadapi lulusannya. Berbeda dalam hal sistemnya. Bila dalam dunia pendidikan kebanggaan dirasakan oleh peserta didik yang memiliki prestasi berupa nilai, maka dalam dunia kerja kebanggaan dirasakan oleh pekerja yang berhasil menyelesaikan tugasnya dalam waktu yang ditentukan. Saya ketika pertama kali diberi kesempatan untuk menentukan target waktu kerja, sangat bangga ketika mengetahui bahwa pekerjaan telah selesai lebih cepat dari waktu yang ditentukan.

Dunia kampus perguruan tingi tidak luput dari pola peringkat ini. Banyak dari mahasiswa yang mengikuti mata kuliah mampu mendapatkan nilai yang cukup tinggi. Namun ketika saya bertemu kembali dengan mereka beberapa minggu kemudian, mereka malah menanyakan tentang salah satu penjelasan saya dalam kelas. Lho, sampeyan waktu di kelas dapat apa?

Kecenderungan ini mungkin disebabkan karena peserta didik lebih mengutamakan nilai yang tinggi. Apalagi bila mendapatkan predikat cum laude terlebih summa cum laude. Sebuah kebanggaan bukan? Namun ketika memasuki dunia kerja, semuanya berubah. Tidak ada lagi yang dapat dibanggakan dengan nilai dan peringkat. Yang sering terjadi kemudian adalah pandangan mengenai pekerjaan yang ditekuni.

Status pekerjaan yang kemudian dikejar. Namun, ini tidaklah lepas dari peringkat bukan? Terlebih peringkat pekerjaan yang ditekuni tidaklah lepas dari “peringkat” status yang secara tidak tertulis beredar di masyarakat dan disepakati bersama. Sungguh-sungguh terjebak dalam peringkat seumur hidup.

Semenjak bayi, berat kita ditimbang, dan menjadi peringkat bayi sehat. Memasuki SD, mulai mengenal ranking kelas hingga SMU. Memasuki dunia perguruan tinggi, peringkat dilihat (antar mahasiswa) melalui IPK. Ketika memasuki dunia kerja, status pekerjaan menjadi peringkat yang ditentukan sendiri. Setelah berhenti bekerja, mulai dibentuk peringkat melalui penampilan rumah dan kendaraan. Setelah itu? Silahkan diteruskan.

Namun kembali ke permasalahan sebelumnya, dengan peringkat tersebut, apakah yang dapat diperoleh dari perjalanan rentang waktu yang sedemikian panjang. Jangan hanya “I got A for nothing”.

Untuk menentukan kelulusan pun tidaklah mudah. UAS dibuat sedemikian rupa sesungguhnya untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman peserta didik mengenai apa yang diajarkan. Kekurangannya adalah pola ujian yang semacam itu terus menerus membuat peserta mencari berbagai macam cara (walaupun itu tidak jujur) agar lulus dalam ujian.

Apakah perlu pola ujian yang diubah menjadi essay?:mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s