Akibat Golput


Fenomena Golput ini memang menarik untuk diulas dan digali. Selain dilihat sebab-sebabnya, kemudian digali perhitungannya, sekarang mencoba memikirkan akibat yang ditimbulkan oleh Golput. Bisa jadi akibatnya mengganggu masa depan bangsa atau bahkan merusaknya.

Bila menginginkan perubahan untuk menjadi lebih baik, perlu adanya penyaluran aspirasi. Namun bila aspirasi tidak disalurkan, kekecewaan yang besar akan muncul. Kekecewaan yang besar memicu ketidakpercayaan. Logis bukan?

Golput dengan jumlah yang cukup besar dan tidak diperhitungkan dalam hasil pemilihan ternyata dapat menimbulkan banyak masalah. Penggalian akibat ini nantinya akan dimasukkan dalam posting berikutnya berkaitan dengan solusi.

Permasalahan yang pertama adalah, persentase suara Golput dimasukkan sebagai bagian suara sah atau dibagi menurut persentase pemilih sah. Maksudnya gimana kok mbulet? Blunder nih. Baik, dicontohkan begini. Suara tidak sah karena rusak sebanyak 126 dan tidak datang sebanyak 347 (dari Statistik Pilkadus) yang berarti 55,85% dari total 847 pemilih terdaftar.

Kemudian Salak menang dengan 35,83% pemilih sah. Ini juga berarti 35,83% suara Golput masuk dalam kemenangan Salak. Artinya 35,83% dari 473 suara Golput dimasukkan dalam kemenangan Salak. Salak mendapatkan sejumlah 169 suara Golput yang ‘dianggap’ sebagai pemilih Salak dan harus bertanggungjawab bila Salak menyimpang dari tanggungjawabnya.:mrgreen:

Permasalahan yang kedua, apakah Golput itu dapat mendorong untuk memperbaiki sistem? Sepertinya sistem akan adem ayem tanpa guncangan yang berarti dengan adanya Golput. Dalam Pilkadus tidak mengakomodasi suara Golput. Tidak disediakan pilihan ‘Golput’ dalam kertas suara.:mrgreen:

Permasalahan yang ketiga, Golput tidak mengajarkan untuk menganalisa masing-masing calon dan visinya. Mungkin perlu pendidikan memilih dengan analisa dan TOWS. Jadi kemungkinan terbaik yang nantinya dipilih.

Sementara tiga permasalahan ini yang ditemukan sebagai akibat Golput. Mungkin dari pembaca dapat memberikan masukan untuk hal ini.:mrgreen:

Bagaimana menurut Anda?

18 thoughts on “Akibat Golput

  1. menurutku golput tidak menimbulkan masalah. justru fenomena golput sendiri bisa menjadi tolok ukur sendiri bagi pemerintah mengenai kekecewaan dan ketidak puasan masyarakat terhada pemilu.

  2. @aura:
    Baik, kita lihat lagi tulisan di atas. Permasalahan pertama bukanlah masalah jika dilihat dari sisi pihak golput. “merasa tidak bersalah” mungkin lebih tepat. Mereka beralasan “saya tidak memilih, jadi jangan salahkan saya”. Tapi sistem kan tidak mengakomodasi golput. Jadi walaupun golput menang dalam sebuah pemilu, suara golput itu dianggap tidak ada. Jadi jika para golputers memilih salah satu calon, apakah pihak yang menang (golputers tidak memilih) akan tetap menang? Ceritanya akan lain jika golputers memilih calon yang lain bukan?
    Permasalahan kedua, sistem yang dibentuk pemerintah akan sulit berubah dengan adanya golputers. Karena mereka yakin, golputers bukanlah aktivis yang akan mengguncang mereka. Karena golputers tidak akan pernah dianggap ada dalam pemilu.
    Permasalahan ketiga, golput hanya ungkapan kekecewaan saja. Apakah ada sikap dewasa di dalamnya? apakah ada proses analisis didalamnya?

  3. akibat dari golput adalah nntinya akan terjadi sebuah pemutusan regenerasi atau ketika seseorang ingin sebuah perubahan maka seseorang itu harus ikut turut serta dalam gerkan, jadi ketika seseorang tidak ikut serta maka yang terjadi adlah sebuah rezim lama akan bangkit lagi. padahala alasan yang paling mendasar dalam golput adalah ketidakpercayaan terhadap pemimpin,

  4. {saya orang awam nih…} BAGI SAYA GOLPUT ADALAH PILIHAN JUGA, PERMISI SAYA MAU NANYA ; PEMILU BUAT RAKYAT ATAU PEMILIH APAKAH MERUPAKAN “HAK ATAU KEWAJIBAN ?” KALAU JAWABANNYA KEWAJIBAN BERARTI GOLPUT TIDAK BAIK, TAPI MENURUT SAYA ADALAH HAK, BERARTI BOLEH DIGUNAKAN BOLEH JUGA TIDAK.
    KALAU SAYA SALAH TOLONG DIBENARKAN.

  5. @bung one (kaya tokoh kartun yah):mrgreen:
    dalam pemilu, rakyat ‘WAJIB’ memilih…
    tapi apapun pilihannya adalah ‘HAK’…
    jadi rakyat wajib ke TPS, dan memilih apapun merupakan kebebasan si pemilih…
    pilihan yang ditawarkan terdapat di kertas suara yang diberikan… yang WAJIB dipilih itu yang berada di kertas suara… pemilih berhak mencontreng siapapun yang disukai merupakan HAK…

    terkait masalah golput atau tidak itu juga termasuk hak… namun apa alasan golput dan solusi agar tidak golput harus dimiliki…
    contohnya: misalnya saya golput, alasannya: calon yang ditawarkan tidak memiliki track record yang bersih, solusi agar tidak golput: tawarkan calon yang memiliki track record bersih dan mendukung kepentingan masyarakat banyak…
    hal yang seperti ini dapat mendorong kepada perbaikan…

    golput tidak baik jika alasannya malas, memboroskan waktu, tidak ada yang bayar, dsb yang merupakan dorongan kepentingan pribadi…

    ingat: kepentingan pribadi itu merusak sistem

    semoga bermanfaat:mrgreen:

  6. Makin bingung nih om… kalo wajib ke TPS kenapa tdk dibuat jd hari besar aja alias libur, soalnya resiko besar buat rakyat kecil untuk ninggalin kerjaan. Tapi buat yg dipilih gak ngaruh kali yeah ? oh yah.. kalo mau dibenahi mulai dari mana kira-2 yah ? dari rakyatnya dulu ? dari pemimpinnya dulu ? atau sistemnya dulu ? kayaknya yg kedua & ketiga kompak tuh…

    • super… klo makin bingung berarti Anda berusaha memahami penjelasannya…

      Klo ga salah kemarin diliburkan lho… ada peraturannya juga… karena ini hanya acara lima tahunan jadi ga mungkin dijadikan hari besar… karena hari besar dirayakan tiap tahun… ditambah lagi klo jelas hari besar mendingan piknik daripada nyontreng…

      dan dari pengamatan kemarin, sebagian besar buka usaha sekitar jam 11 siang… kalau yg buka jam 9 kebanyakan dijaga pemilik usaha sendiri, atau karyawan yg rumahnya dekat… perkantoran jelas2 libur…

      yg perlu dibenahi semuanya… karena ini seperti lingkaran setan… logikanya gini: pemimpin butuh rakyat memilihnya lalu melakukan berbagai cara termasuk membagikan uang… celakanya, rakyat yang kondisinya terhimpit membutuhkan lembaran tersebut utk menyambung hidup barang sehari… parahnya, sistem tidak menghalangi dengan keras dan tegas hal itu…

      klo sistem dibenahi dulu dengan pemimpin dan rakyat yg seperti itu, jelas sistem tidak jalan… klo pemimpinnya dulu, tapi sistem dan rakyat ga mendukung, apa pemimpin berikutnya bisa lebih baik??? klo rakyatnya dulu, sementara pemimpin dan sistem tidak sehati, ujung2nya golput diharamkan…:mrgreen:

      urusan kompak mah kompak semua ituh…:mrgreen:

      semoga bermanfaat…:mrgreen:

  7. Saya kutip kalimat om di atas ; “Apakah Golput itu dapat mendorong untuk memperbaiki sistem? Sepertinya sistem akan adem ayem tanpa guncangan yang berarti dengan adanya Golput.”
    Tapi saya masih optimis kalau golput bisa mendorong sistem yg lebih baik, contohnya jika golput berjumlah besar atau di atas 50% apa yg terjadi ? mungkin pemilu diulang atau apa saja yg jelas kedaulatan rakyat semakin pasti konsekwensinya paling biaya yg mahal tdk masalah itu semua kembali pada rakyat daripada dimanipulasi oleh segelintir elit & pejabat. Semua lapisan memang harus membayar harga untuk sistem yg lebih baik.

    • menurut pengalaman, golput itu bikin kebakaran jenggot ketika orde baru saja… kalau sekarang apakah ada tindakan berarti untuk mengubah sistem dengan banyaknya golput???

      great… berarati Anda memang bersemangat untuk perubahan… harusnya Anda yg jadi caleg…:mrgreen: sekarang penghitungan belum selesai, belum diketahui proporsi orang yang memilih dan yang tidak memilih… dengan sistem yang hanya mengitung perbandingan golput dengan DPT, belum ditambah dengan yang seharusnya memilih tetap tidak terdaftar… bisa diperkirakan jumlahnya??? kalau kira-kira saya kok lebih dari 50% sekarang ini… dan tidak ada tanda2 pemilu bakal diulang walaupun ada kesalahan pendataan DPT…

      kalau masalah manipulasi sih itu sudah terjadi semenjak jaman orde baru… sekarang saja jaman protes… lihat di televisi, baca di koran, dengar di radio bahwa parpol memprotes kpu karena diduga terjadi kecurangan penghitungan… kenapa parpol ga memprotes rakyatnya hayo…:mrgreen:

      semoga bermanfaat…:mrgreen:

  8. Kok saya melihat skrg malah parpol yg kyk kebakaran jengglot, golputnya malah aden ayem aje tuh… Yah udah kalo om melihatnya seperti lingkaran setan mending kita-2 dukung dgn doa ajalah, mungkin tinggal itu harapan yg tersisa, thank,s.

    • itu karena parpol yg menghitung-hitung kursinya jadi kalau kurang dengan target yang mereka tetapkan mereka ga bisa menentukan peraturan seenak perutnya sendiri… golput kan ga dapet kursi di dpr… jadi ga bakalan kebakaran jenggot…:mrgreen:

      yah, kita hanya bisa berdoa agar pemilu berikutnya bisa lebih baik… kalau memang ada rekan yang seide bisa masuk ke dalam sistem, selalu ingatkan dia dengan jalan yg benar…

      semoga bermanfaat…
      makasih banyak…:mrgreen:

  9. asslkm,lau menurut aqu golput tuh menunjukkan bahwa diri kita kurank berpendidikan c0z gag biza nentu’in pilihan yank pwalink qt anggp bener……
    te_qyU,

    • :mrgreen:
      padahal banyak mereka yang golput itu dari kalangan mahasiswa, sarjana, bahkan dengan pendidikan yang tinggi2 lho…

      sementara tidak sedikit pemilih yang dapat menentukan pilihan itu karena diselipi amplop, sumbangan, dan berbagai macam pemberian yang akhirnya ditarik kembali ketika tidak terpilih…:mrgreen:

      sesungguhnya tidak membutuhkan pendidikan yang tinggi untuk mengetahui mana calon yang pantas… pemilih hanya memerlukan informasi jangka panjang sebelum kampanye mengenai calon yang diunggulkan… tidak perduli dia keturunan siapa, tidak perduli dia menjanjikan apa selama kampanye… yang penting apakah sang calon merupakan pahlawan dalam sejarah kehidupannya, atau malah merupakan pengkhianat negara di masa lalu…

      semoga bermanfaat…:mrgreen:

  10. for: recha watson, u r so under estimate for our white class. Sebaiknya jgn keburu nafsu menyimpulkan sesuatu, GOLPUT jumlahnya sgt signifikan dan itu cermin dari kepribadian bangsa “saat ini” apakah anda ingin menyimpulkan “saat ini” rakyat sedang bodoh ?
    p.s: Excuse me Om Abasosay, mohon diluruskan.

    • diskusinya tambah menarik nih… disini boleh mendiskusikan apa saja selama bisa menyampaikan alasan-alasannya dan terbuka terhadap opini yang lain… oke…:mrgreen:

      ini bukan masalah siapa yang bodoh sesungguhnya… masalahnya adalah apa alasan masing-masing individu memilih…

      bagi mereka yang memilih (dari hasil pengamatan pribadi) ada berbagai alasan yang ditemukan… di antaranya karena saudara, tetangga satu kampung, berteman, dan hubungan lainnya… alasan lain yang ditemukan berkaitan dengan isi amplop yang dibagikan, sumbangan ke fasilitas umum (yang dengan menjijikkan ditarik kembali) dan pemberian-pemberian yang lain… alasan berikutnya adalah merasa cocok dengan program dan janji dari caleg yang mereka pilih (walaupun mereka tidak yakin jika setelah terpilih janji itu akan dilaksanakan), suka dengan tampangnya (caleg seleb), fanatik pada partai atau caleg (padahal tidak tahu apa yang difanatikkan), dan masih banyak lagi…

      mereka yang memilih golput memilki alasan tersendiri atas sikap mereka… ada yang sekedar ikut-ikutan karena malas, tidak suka orangnya, tidak suka partainya, tidak suka sistemnya, hingga yang paling ekstrim yang hanya memilih jika calonnya memiliki track record membela kepentingan rakyat dengan mengesampingkan kepentingan pribadi dan keluarga…

      dengan alasan-alasan di atas, dapat diambil pembedaan mana pemilih yang memikirkan kepentingan pribadi (cerdas minimal) dan mana pemilih yang memikirkan kepentingan negara (cerdas maksimal)… jadi tidak ada yang bodoh kan…

      semoga bermanfaat:mrgreen:

    • sebenarnya maunya rutin tapi prosesnya itu yg sulit disesuaikan… baru mau nulis malah ditimpa kerjaan segunung… apa mau dikata…

      yup… yang lebih mengena lagi adalah… gunakan surat suara… ^_^

  11. Ping balik: SURAT SUARA INDONESIA | rishantyroziana

Komentar ditutup.