Kebetulan yang Aneh


Sekitar satu jam sebelum shalat Jum’ah, muncul IM dari boss. “Ke tempatku sekarang” begitu isinya. “Ya pak” jawabku santai. Padahal yang dipikirkan hanya masalah revisi kuesioner. Pasti salah banyak.😈

Begitu sampai di hadapan boss, langsung saja boss menyampaikan uneg-unegnya. “Gus, ini harusnya didiskusikan lebih dalam lagi” kata boss. “Iya pak. Pasti itu. Ya tidak mungkin kan yang saya buat sendirian bisa langsung digunakan” jawab saya mencoba menjelaskan.

“Ini kan harusnya tidak digunakan disini. Kamu cuma copy paste ya?” tanya boss. “Bukan kopi paste pak, tapi hanya diganti bidangnya saja” jawab saya santai. “Yang ini kan juga tidak dipakai, tapi memang saya belum hapus. Untuk memancing diskusi” jawab saya mencoba berkilah. “Lho, kamu sempat baca to?” tanya boss sedikit terkejut. “Ya bagaimana saya tidak membacanya pak. Ini saja manual satu per satu. Makanya ada yang kelewatan kan pak” saya menjawab dengan sangat santai.

“Ya sudah kalau begitu. Ini harus didiskusikan lebih dalam sama yang lain. Nanti detilnya lebih diperhatikan ya” kata boss sambil tersenyum. “Siap pak” saya menjawab dengan senyum juga.:mrgreen:

Begitu kembali ke laptop (saya kerjanya pakai laptop kantor), langsung edit sedikit. Namun ketika melihat jam di monitor sudah menunjukkan 11.36, edit dicukupkan, lalu blogwalking. Buka-buka selancar blog, lihat-lihat tulisan yang baru dibuat. Ternyata ada yang menarik perhatian saya.

Ada tulisan yang lumayan menggelitik dari Marsini. Bercerita tentang memperhatikan hal-hal yang kecil. Apa bedanya dengan detil? Waktu postingnya juga kurang lebih sama dengan ketika saya berada di ruangan boss dan berbincang tentang detil. Kebetulan yang biasa saja sepertinya. Toh hanya satu.

Ketika membuka lembaran selancar blog lagi, menemukan tulisan yang menarik dari Oemar Bakrie. Berbicara tentang yang kecil bila dkumpulkan menjadi sesuatu yang besar. Sebelum dikumpulkan, bila detil yang akan dikumpulkan diperhatikan maka hasil kumpulannya adalah sesuatu yang besar. Kebetulan yang aneh.

Kedua tulisan itu ditulis dalam waktu yang hampir bersamaan. Kejadian yang saya alami juga dalam waktu yang hampir bersamaan. Kebetulan atau memang kebetulan?

Bagaikan diingatkan sekilas, bahwa segala sesuatu memang harus dimulai dari yang kecil. Setiap keping rupiah yang dikumpulkan akan menjadi jutaan rupiah. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Sebiji Zahrah bila dikumpulkan pasti juga akan menggunung.

Shalat dalam satu waktu shalat, bila digabungkan dengan shalat dalam waktu shalat yang lain juga akan menjadi besar. Zakat, sekeping demi sekeping, pada akhirnya di hari perhitungan juga akan dikumpulkan. Puasa, sehari demi sehari, nantinya akan dikumpulkan juga. Dan masih banyak lagi detil-detil yang mungkin saya lewatkan.

Mulai sekarang berusaha memperhatikan detil, dan sempurnakan detil sebaik mungkin. Detil yang kosong mungkin akan berakhir menjadi gentong berisi air seperti yang dikisahkan Oemar Bakrie.

One thought on “Kebetulan yang Aneh

  1. betul-betul kebetulan…
    melakukan pemikiran yang sama dalam waktu sama, tapi di belahan tempat yang berbeda.
    pengamatan yang unik nih..

    Mungkin ada benang merah yang menghubungkan pemikiran. Atau memang ada ‘sesuatu’ di balik itu semua. Wallahua’lam bishshawwab.

Komentar ditutup.