Rakyat Butuh Didengar


Banyak media telah memuat berbagai keluhan rakyat kecil. Baik itu media lokal maupun nasional. Sebuah komitmen yang bagus untuk menyebarluaskan kenyataan. Hanya saja mereka, rakyat kecil, tidak memiliki akses langsung untuk menulis di media. Opini dan keluhan mereka hanya berupa reportase wawancara saja.

Sudah sangat lama saya tidak mendengar ada dialog yang mengajak rakyat kecil. Jaman Orba yang lalu, sering saya menemui berita mengenai dialog dengan kelompok kecil manapun. Kalau sekarang sepertinya dialog hanya terjadi di kelompok atas.πŸ‘Ώ

Kebanyakan dialog berjalan dengan pengaturan terlebih dahulu. Siapa nanti yang harus bertanya, pertanyaan apa yang harus diajukan, dan di mana dia harus duduk. Ini guna memudahkan sang pembicara untuk menjawabnya. Bayangkan bila ternyata pembicaranya tidak menguasai hal yang ditanyakan.😈

Sesungguhnya rakyat sendiri senang dengan acara dialog tersebut. Mereka merasa lebih dekat dengan pembicara. Makanya demonstrasi itu selalu menuju kantor kepala atau wakil. Karena mereka ingin didengar. Buat apa demonstrasi kalau hanya bertemu dengan aparat, dan dilakukan di lapangan bola? *ga nyambung*😈

Namun tidak sedikit yang terjebak dalam pemahaman singkat dialog. Mereka mengadakan acara dengan nama dialog, namun keseluruhan acara hanya berisi presentasi (bila tidak ingin dikatakan indoktrinasi). Kemudian setelah dialog berakhir, tidak ditemui tindak lanjut dari acara dialog tersebut.

Lebih mendalam lagi dalam masalah dialog adalah pembicara-pendengar. Jadi, pembicara yang menjadi sentral dialog seharusnya adalah pendengar yang baik. Apa yang menjadi aspirasi masyarakat (walaupun acaranya hanya keakraban) ditampung untuk menjadi masukan ketika kembali ke kantor.

Hati-hati dengan dialog. Kadangkala ketika tenggelam dalam dialog yang mengasyikkan, dengan tidak sengaja mengucapkan janji. Janji ini yang dapat ditagih oleh siapapun yang mengetahuinya.

Berkaitan dengan masalah pencalonan ketua kelas kemarin. Cakeke (Calon Ketua Kelas) harus bisa menahan diri. Dialog memang dapat dipancing dari para calon pemilih. Namun di balik itu terdapat jebakan yang dalam dan menghancurkan. Sebaiknya sekarang hanya membuka jalur khusus melalui sms atau telepon atau surat atau lapor ke alamat tertentu. Bukan untuk membatasi kedekatan dengan anggota kelas. Namun ini berkaitan dengan masalah Jadual Iklan. Jujur, saya tidak mengetahui jadual iklannya. Bagi ketua kelas yang lain yang ingin berhati-hati dan tidak ingin dikatakan pemilihnya “Mau mimpin kok melanggar aturan” silahkan komen atau msg atau email.:mrgreen:

Sumber celoteh:

Masyarakat Bawah Berharap Banyak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s