Penampilan penting?


Hampir tiap hari saya menerima kripik kritik. Hampir semuanya melihat penampilan.😈 Padahal saya tidak pernah melihat orang dari penampilannya. Penampilan sehari-hari saya memang seperti ini karena memang tuntutan kantor lebih nyaman seperti ini.

Apalagi orang lain malah lebih menghormati dengan penampilan seperti ini. Bukan karena saya gila hormat. Tapi, salahnya mereka sendiri yang menghormati saya karena sisi luar saya.πŸ˜†

Ulasan kritik diawali dari atas. Rambut. Potongan cepak gaya kotak. Bertahun-tahun ga ganti potongan rambut. Rekan-rekan bilang ‘mbok sekali-kali ganti potongan rambut’. Saya jawab ‘diganti gundul?’.πŸ˜† Lha rambut saya ini termasuk ikal, keriting, mengombak hawai mau diapain lagi.

Kritik berikutnya biasanya turun ke daerah sekitar mata. Kebetulan saya dihinggapi rabun jauh sehingga bila melihat tanpa kacamata seperti edit foto blur menggunakan sotosop. ‘Pakai soplen kayanya lebih bagus deh’. Saya jawab langsung ‘pake atau ga pake saya tetap bagus kok’. ‘Lah iya, namanya aja Bagus’. Ya maaf aja, tapi saya sudah terbiasa dengan kacamata sih.:mrgreen:

Mengalir turun ke wilayah dagu. ‘Mas, waktu Idul Adha ga ikut tereliminasi apa?’. Biasanya saya jawab ‘lha sampeyan keluar dari kandang kirain mau belanja jadinya ngikut’.πŸ˜† Jenggot kambing setia menemani saya kemana-mana. Sudah mulai jadi ciri khas di manapun. Malas motongnya. Paling cuma dirapiin. Gini aja bagus kok.:mrgreen:

Lanjut ke pakaian. Kemeja lengan panjang, yang selalu digulung lengannya. Gerah, tapi tidak terbiasa dengan lengan pendek. Pasti kemejanya selalu dimasukkan, lengkap dengan celana formal. Ini mah tuntutan pekerjaan. Tapi nyaman juga pakai baju formal gini. Kalau yang lain bilang terlalu kaku, saya bilang bikin laku. Terlihat sudah mapan.πŸ˜†

Kritik penampilan berikutnya biasanya berkisar di sekitar pinggang. Maklum saja, dengan tinggi 170 dan berat 80 sesungguhnya sudah overload.πŸ˜† Apa ga berusaha ngurangin? Biasa aja lah. Rejekinya adalah mudah mengubah makanan dan minuman menjadi lemak. Ya disyukuri aja.

Wis, cuma itu kritikan yang bisa diingat. Kacamata, pakaian kemeja rapih dimasukkan, jenggot, rambut, lalu overload. Tidak jadi masalah untuk saya mendapatkan kritik semacam itu. Itu tandanya mereka perhatian sama saya.

Masalahnya, mereka siap dikritik atau tidak. Kalau tidak ingin dikritik, ya jangan memulai dengan kritik.

Pernah terjadi, saya dikritik habis-habisan oleh rekan saya. Saya hanya tersenyum dan tertawa saja mendengar kritikannya. Pada waktu dia kehabisan bahan kritik, saya balas kritik ringan yang saya sendiri menganggap kritik tersebut tidak pedas. Sampai berhari-hari dia tidak mau bicara dengan saya.πŸ˜†

So, kalau tidak mau dikritik, ya jangan mengkritik.

Kembali ke masalah penampilan. Bagi saya sendiri, yang namanya penampilan itu dari luar. Penampilan luar itu tidak dapat dijadikan acuan untuk menentukan kualitas. Yang namanya kualitas itu ditunjukkan dari kemampuan diskusi, cara berbicara, cara bekerja, kalau memang ada tulisan yang dibuat.

Dalam membuat laporan kuliah pun, saya tidak pernah menentukan berapa halaman. Untuk menghindari basa-basi yang tidak diperlukan. Bahkan kalau memang bisa, laporan hanya satu lembar namun memiliki kedalaman yang melampaui tingkat kedalaman laporan satu rim, akan mendapatkan nilai yang lebih tinggi.

Ada yang berani membuat laporan satu lembar?:mrgreen:

2 thoughts on “Penampilan penting?

  1. Halo Mas….

    Saya Dedy, senang bisa berkenalan dengan Anda yang pernah dikritik penampilannya sama seperti saya.

    Saya juga mengalaminya di tempat kerja saya. Dalam seminggu pasti ada saja yang mengkritik penampilan saya. Kalau sekali2 sih nggak apa2, tapi yang sering2 mengkritik ini nih yang harus dikasih pelajaran.

    Urusan penampilan-kan urusan pribadi masing2, prinsip saya dalam hal penampilan yang penting rapi, bersih dan sopan. Jadi apa urusan orang lain mengkritik penampilan saya. Mendinglah kalau yang meng-kritik, orangnya sudah kaya, sukses, dan cara penampilan juga oke, masih mending lah. Ini yang mengkritik orangnya masih miskin, motor masih kredit, wah… wah… wah…

    Memang betul Mas orang seperti itu perlu dikasih pelajaran Mas sekali-sekali.

    Malam Mas Pamit dulu nih..πŸ™‚

    Dedy

    • memang di jaman teknologi maju seperti ini masih banyak juga yang hanya melihat dari sisi luarnya saja… kalau ingin membalas dengan halus, tingkatkan kemampuan yang tidak dimiliki pengkritik… tunjukkan prestasi dalam bidang yang menjadi kelemahan pengkritik, lalu cari kesempatan yang tepat untuk melemparkannya… misalnya setelah dikritik habis2an, lempar kritik ringan… kalau mukanya menjadi merah padam, tinggalkan dan kembali ke pekerjaan…:mrgreen:

      btw, orang kalau sudah sukses biasanya malah tidak ambil pusing dengan penampilan… kalau kita ke tempat orang sukses, mereka pakai baju santai, tapi kita harus berpakaian rapi formal… dan kebanyakan yang lihat penampilan itu susah suksesnya lho… hehehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s