Apakah Kekerasan Itu Bakat?


Sudah hampir setahun pikiran saya diganggu dengan pertanyaan tersebut. Bila dulu saya melihat bahwa adanya kekerasan karena lingkungan (tapi jauh sebelum blog ini lahir). Sekarang gangguan pikiran ini berkaitan dengan pengamatan saya terhadap keponakan dan anak tetangga saya.

Kekerasan yang ingin saya tampilkan disini adalah berkaitan dengan ketidakpuasan. Atau bila lebih detil lagi adalah pemaksaan kehendak agar diikuti oleh yang lebih berwenang. Seorang bayi tidak akan dikatakan berdemonstrasi bila menangis dengan keras, memukul-mukul atau bahkan membanting mainannya hanya untuk sekedar meminta permen kepada orangtuanya.

Namun orangtuanya akan segera menuruti keinginan anaknya. Gambaran yang hiperbolis. Namun itu adalah fakta. Kita semua sudah pernah menjadi bayi. Apakah ada yang waktu bayi ketika ingin mainan dengan sopan meminta, dan bila tidak diberi akan bersabar dan diam saja?

Sejauh yang bisa saya ingat, semenjak saya bayi hingga sekarang, ada banyak kejadian kekerasan yang saya lakukan. Apakah semua orang sama? Pasti ada yang berbeda. Dan ketika dewasa, ada perbedaan dalam menangani ketidakpuasan dan keinginan yang meledak-ledak.

Bila mengamati pengalaman pribadi masing-masing, semenjak bayi tanpa ada yang mengajari atau memberitahu akan ditemukan riwayat melakukan kekerasan pada usia pra-sekolah. Hayo yang di belakang jujur aja. Pernah memukul, menendang, membanting, dan melempar mainannya kan.👿

Setelah memasuki SD hingga SMP juga ada pengalaman berkelahi dengan teman sekolah. Biasanya sih masih satu sekolah. Untung saja tidak ketahuan oleh guru. Jadi tidak sempat dikandangkan.:mrgreen: Di masa ini biasanya masih berani maju sendirian tidak main keroyok.

Meningkat di SMU, biasanya perkelahian pelajar berjamaah. Mulai takut untuk menghadapi sendirian. One on one. Single. Biasanya maju untuk menyerbu sekolah lain. Permasalahan yang memicunya tidak jelas.😈

Kalau sudah memasuki dunia perkuliahan kekerasan beralih di ruangan. Entah itu menggebrak meja, membentak, memukul pintu dan sebagainya. Kekerasan yang lebih besar secara berkelompok ditumpahkan kepada pihak yang berwenang. Ketidakpuasan ditunjukkan dengan ngambeg, beramai-ramai menuju kantor rektorat dan memukul, melempar, serta menendang. Kecuali bila jumlahnya sedikit. Kok jadi tambah penakut kalau semakin tua ya.😈

Memasuki dunia kerja, bagi yang langsung bekerja, ketidakpuasan dan pemaksaan kehendak terus dilakukan. Bila tidak puas atas gaji yang diterima atau keputusan dari atasan, mengajak teman-temannya untuk keluar dari ruangan dan hanya duduk-duduk di pinggir jalan. Kalau memang sudah tidak dapat diubah keputusannya mulai deh membanting, melempar, memukul dan sebagainya.:mrgreen:

Bagi yang melanjutkan ke jenjang berikutnya, kekerasan yang mirip dengan situasi kuliah ditunjukkan juga. Seringkali bila melakukan aksi sendirian memilih untuk tidak datang ke kuliah. Bagi yang sudah bekerja dan memiliki jabatan manager ke atas, kekerasan dan ketidakpuasan ditunjukkan dangan memukul meja, membanting daun pintu, menghardik, dan sebagainya termasuk memecat. Bila sudah berkeluarga, ketidakpuasan dan kekerasan itu juga ditunjukkan dan dilakukan terhadap istri dan juga anaknya.

Wah, panjang juga daftar kekerasan seumur hidup. Kalau begini, mungkinkan dikatakan bahwa kekerasan itu adalah bakat? Perlu psikolog untuk mengatakannya. Saya bukan psikolog. Bisa jadi penelitian bagi psikolog nih. Nagih royalti ah.:mrgreen:

Bila ada ketidakpuasan yang ditemui, akankan Anda akan seperti bayi yang tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya mengharapkan belas kasih dari orangtua?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s