Gali Jurang, Tutup Lubang…


Jengah melihat perkembangan kebijakan yang semakin tidak masuk dalam logika. Di satu sisi merasa bahwa itu perlu dilakukan. Namun di sisi lain, bila itu tetap dilakukan maka yang terjadi hanyalah kehancuran dan kebobrokan saja. Logika bola salju tidak digunakan dalam banyak kebijakan. Disinilah kesalahan penggunaan asumsi. Maka dari itu dalam pembuatan kebijakan, asumsi adalah berbahaya.

Bagaikan tambal sulam saja yang bisa diamati dari kebijakan-kebijakan yang bermunculan selama ini. Satu kebijakan dibuat untuk menutup kekurangan dari kebijakan yang sebelumnya. Namun efek dari kebijakan tersebut tidak diantisipasi di dalamnya. Efek yang timbul kemudian ditutup lagi dengan kebijakan yang baru walaupun kebijakan yang baru itu bersinggungan atau bahkan berlawanan dengan kebijakan yang sebelumnya. Yang penting ada kebijakan keluar yang artinya ada yang dikerjakan. Jadi tidak dianggap hanya rapat tanpa hasil.😈

Tapi ini bukan jaga stand bung. Dimana digaji berdasarkan presensi. Tapi yang diharapkan adalah digaji berdasar prestasi. Karena yang dibayar adalah otak, bukan sekedar presensi saja. Bagaikan koki masakan, yang digaji berdasar enak atau tidaknya masakannya. Yang menilai itu konsumen yang beli masakannya, alias rakyat.

Gali Jurang, Tutup Lubang

Begitulah pengamatan atas kebijakan yang dibuat. Semakin banyak kebijakan muncul, semakin dalam jurang yang dibuat. Jurang kemiskinan dan jurang ketidakpercayaan terhadap pemerintah semakin besar. Semakin banyak kebijakan muncul, semakin miskin dan tidak percaya terhadap pemerintah.

Konyolnya, untuk mengatasi hal itu (kemiskinan dan ketidak percayaan), maka dibuat kebijakan baru. Dimana kebijakan baru tersebut malah menambah dalam jurang yang telah dibuat. Bagaimana tidak, kebijakan kenaikan harga misalnya, memicu kenaikan harga barang lain. Untuk mengatasi kenaikan harga barang lain maka gaji dinaikan yang apabila dinaikkan pasti memicu kenaikan harga barang. Kenaikan harga barang adalah jurangnya. Untuk menutupi jurang tersebut, dikeluarkan kebijakan tutup lubang yang ternyata malah menambah dalam jurangnya.

Asumsi-asumsi Berbahaya

Pembuatan kebijakan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dalam bidang publik, jelas sekali perbedaan kebijakan dibandingkan dengan bidang yang lebih privat. Maksudnya, kebijakan negara berbeda dengan kebijakan yang dibuat swasta.

Jika swasta lebih menitikberatkan pada profit, maka pemerintah lebih menitikberatkan pada publik. Kalau dalam swasta dibutuhkan tenaga manajemen dari administrasi bisnis, maka pemerintah membutuhkan tenaga manajemen dari administrasi publik.😈

Asumsi yang biasa digunakan dalam bisnis harus disingkirkan. Dalam negara, tidak mudah menggunakan asumsi. Asumsi bahwa harga lain tetap adalah konyol. Sama saja dengan mengasumsikan bahwa musuh tidak akan menembak, dan dengan pongahnya berdiri tanpa ada pelindung yang menutupi. Kebijakan apapun yang dibuat selalu akan mempengaruhi harga kebutuhan pokok.

Kita lihat ketika kebijakan kenaikan BBM, harga barang lain selalu ikut menanjak. Karena BBM ini seperti lingkaran setan yang selalu berputar dalam segala macam aspek kehidupan. Semua membutuhkan BBM. Seperti yang pernah diulas dalam Mbuletnya Kenaikan BBM.

Kasus lainnya adalah ketika pemerintah berusaha menggantikan minyak tanah dengan gas. Asumsi yang melatarbelakangi, pengguna gas tetap dan tidak bertambah. Konyol. Seharusnya adalah, karena minyak tanah digantikan gas maka penggunaan gas melonjak drastis. Hal ini yang memaksa pemerintah ‘mengingkari’ janjinya untuk tidak menaikkan harga gas. Ini juga pernah diprediksi dalam Konversi Lalu Naik.

Lalu kebijakan seperti apa lagi yang akan diterbitkan pemerintah untuk semakin jauh menjajah bangsa Indonesia ini. Ataukah ini sejenis penjajahan model baru. Entah, oh, entah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s