Membedah Golput


Menarik sekali mendiskusikan Golput ini. Seakan tidak ada habisnya jua perbincangannya. Pemahaman mengenai Golput ini juga bermacam-macam. Mulai dari sama sekali tidak berangkat hingga pemahaman yang lebih jauh. Beberapa blog juga sudah mulai mengkampanyekan bahayanya Golput, sekarang boleh saja Golput asalkan pada waktu pemilihan memilih yang terbaik di antara yang terhancur, sambutan baik terhadap fatwa haram, serta yang mempertanyakan keharamannya.

Dari berbagai tulisan tersebut, semuanya mendorong pada pendidikan pemilih. Ya. Jika pada jaman orde batu pemilih diarahkan dan dipermainkan, sekarang pemilih diajak untuk berpikir kemajuan bangsa ini di masa yang akan datang. Kita tidak akan mau jika bangsa ini terpuruk dalam korupsi, kolusi dan nepotisme yang diawali dari calon yang membayar untuk menempatkan namanya, mendapatkan suara, lalu menjalankan metode kejar setoran untuk balik modal.

Logika Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)

Diawali dari model pencalonan yang, lagi-lagi menilik sejarah (hiya… Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah), harus membayar sejumlah tertentu untuk menempati nomor tertentu. Lalu, kampanye dilakukan jelas harus pakai modal sampai harus jual tanah dan rumah agar bisa masuk dalam jajaran itu. Belum lagi kondisi masyarakat yang memanfaatkan suaranya untuk dapat menjaga asap dapur mengepul. Jelas semua itu membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Resiko yang harus ditanggung oleh masyarakat tidak kecil. Dengan pengeluaran yang demikian besar, maka mereka yang terpilih berupaya untuk mengembalikan modal mereka. Cara yang digunakan jelas dengan KKN.

KKN ini ternyata sulit dipilah-pilah dan harus diberantas sebagai satu kesatuan. Ketika orang menjabat ada rekan yang mengenalnya meminta bantuan untuk menyelesaikan suatu urusan dan orang menjabat itu meminta amplop (istilahnya administrasi), maka KKN telah terjadi. Kok bisa? Apakah itu tidak hanya salah satu saja?

Logikanya, Nepotisme jika mengutamakan yang dikenalnya, Kolusi karena telah bekerjasama dengan orang menjabat, dan Korupsi karena telah menerima amplopnya. Kalau korupsi dengan menggelapkan uang negara apakah hanya tindak korupsi saja? Ternyata logikanya, Korupsi karena telah menggelapkan uang tersebut, Kolusi karena bekerjasama dengan yang mengetahui, dan Nepotisme karena yang mengetahui telah mengutamakan yang dikenalnya tersebut mengambil uang dan membiarkannya. Tidak logis? Bagaimana logika Anda?

Logika Golput

Kondisi yang diuraikan di atas (ayo mendongak bareng) mendorong munculnya gerakan Golput. Memang pada awalnya sistem pemilihan yang tidak Jurdil mendorong gerakan ini. Namun seiring berjalannya waktu dan mekanisme semakin terkuak, maka gerakan ini mulai melebarkan sayapnya.

Mulai dari mereka yang mengaku Golput karena mereka tidak suka dengan calon-calonnya. Kelompok ini kemungkinan akan bisa dipengaruhi dengan iming-iming keuntungan jangka pendek. Yang penting bisa untuk beli rokok.:mrgreen:

Kelompok berikutnya memilih Golput karena sudah tidak percaya dengan sistem pemerintahan yang ada sekarang. Mereka tidak yakin bahwa pemilihan akan membuat semuanya bisa menjadi lebih baik. Dalam logika mereka, jika pemerintahannya masih seperti ini, maka pemilihan berapa kali pun tidak akan memberi perubahan yang berarti.

Berikutnya adalah kelompok yang memiliki logika bahwa yang perlu diperbaiki adalah sistem pemilu. Lebih khusus lagi adalah sistem pencalonannya. Jika sistem pencalonan masih seperti ini juga (pesan kapling) maka efek bola salju tetap akan terus bergulir.

Yang terakhir adalah Golput yang benar-benar Golongan Putih sebagai lawan dari Golongan Hitam. Golongan ini memandang bahwa pemerintahan harus bersih dari KKN terlebih dahulu, lalu partainya dibersihkan dari mekanisme pencalonan dagang kambing, kemudian orang-orang yang dicalonkan bersih dari berbagai macam kasus dan tidak memiliki ambisi untuk menjabat serta hanya memikirkan kemaslahatan ummat bukan untuk memperkaya diri sendiri. Mungkin Golput yang terakhir ini yang akan diharamkan oleh MUI. Jadi orang yang bersih dan amanah akan diharamkan untuk berada dalam jajaran penguasa.:mrgreen:

Pola Golput

Para penganut Golput ini menggunakan bermacam cara untuk menunjukkan keyakinan mereka. Mulai dari tidak mendatangi TPS, yang memiliki resiko tinggi karena surat suara menganggur bisa dimanfaatkan oleh pihak yang tidak mengaku bertanggungjawab. Hingga merusak surat suara sehingga suara tidak sah membengkak.

Akhirnya siapapun yang akan Anda pilih, cobalah untuk mempertimbangkan secara bijak.:mrgreen:

One thought on “Membedah Golput

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s