Sampah di Negeri Sendiri Jadi Emas di Negeri Seberang


Sudah lama sekali tidak main di WP ini. Kasihan ditelantarkan hampir setahun (lagi). Keburu diklaim orang lain nih. Kondisinya sekarang berbahaya dengan klaim mengklaim. Kadang lucu juga melihat urusan klaim mengklaim ini. Banyak orang yang melakukan klaim jika terjadi kecelakaan. Ini tidak ada hujan, tidak ada angin, apalagi kecelakaan, tiba-tiba terjadi klaim. Dan yang diklaim yang diperhitungkan akan menguntungkan. Buktinya tidak ada yang melakukan klaim terhadap budaya korupsi. Atau ada upaya untuk melakukan klaim terhadap budaya korupsi juga ya.:mrgreen:

Ternyata kasus klaim ini tidak hanya dilakukan satu atau dua kali. Namun sudah ditemukan sebanyak 32 oleh Imbalo. Tidak disangka bahwa banyak sekali upaya untuk merampok bangsa Indonesia ini. Tidak hanya hutan yang digunduli dan dibakar oleh mereka yang menjual kayunya. Kekayaan laut tidak hanya satu atau dua kali juga angkatan laut atau kepolisian laut menangkap nelayan ilegal. Dan masih banyak lagi yang sudah ketahuan dan yang belum terungkap.

Bahkan mungkin juga dapat terjadi klaim ini berlanjut hingga, seperti ditulis EkoJuli dalam blognya, Bukan Tidak mungkin BAHASA JAWA JUGA DI KLAIM SEBAGAI BAHASA ASLI MALAYSIA. Bukan tidak mungkin prediksi tersebut bisa terjadi sungguh-sungguh. Terlebih negara kita yang kaya akan bahasa daerah, namun bahasa daerah tersebut tidak didorong untuk tumbuh, namun malah dibiarkan di ambang kepunahan. Sebagaimana dilansir oleh Tempointeraktif, ANTARANews, dan Kompas. Padahal, jika kita melihat dari prinsip ekonomi, sesuatu yang punah itu nantinya akan berharga sangat mahal. Nah, negeri seberang melihat peluang itu. Bangsa Indonesia tertimpa gajah di pelupuk mata, jadi tidak dapat melihat peluang tersebut.

Sebenarnya ada perasaan sakit mendengar terjadi kasus klaim seperti ini. Namun apa mau dikata. Jika tidak mereka klaim, kesenian kita yang harusnya menjadi satu kebanggaan hanya teronggok di sudut dan dilupakan, sementara budaya asing diagung-agungkan. Jika dilakukan klaim, budaya kita akan memiliki penerus. Dan kita hanya bisa melihat keuntungan yang dihasilkan oleh kesenian kita sendiri.

Kebudayaan kita yang sangat banyak ini telah diperkirakan akan menghilang. Tidak banyak lagi acara yang menampilkan kesenian. Sanggar-sanggar kesenian kini semakin berkurang. Tergantikan dengan mall dan tempat hiburan lainnya. Minat anak muda untuk belajar kesenian juga semakin minim. Hal ini diperparah dengan berkurangnya jam pelajaran untuk muatan lokal. Muatan lokal yang mengajari anak-anak berkesenian, berkebudayaan, melestarikan seni dan budaya semakin tersingkir. Apakah ini akibat dipisahkannya Kebudayaan dari Pendidikan di Departemen kita tercinta???

Yang pasti, semakin melihat ke arah sekarang, kebudayaan dan seni asli dari daerah tidak lagi disanjung-sanjung, ditonjolkan dan disiarkan lagi. Digantikan dengan sinetron bajakan yang menyita perhatian banyak orang.

Sekarang, mana yang Anda pilih. Hanya berteriak maling, atau mulai mempelajari kesenian daerah Indonesia.

Terbanglah Garudaku… Singkirkan kutu-kutu di sayapmu… Iwan Fals:mrgreen:

Sumber Ide:

Blognya Omiyan

14 thoughts on “Sampah di Negeri Sendiri Jadi Emas di Negeri Seberang

  1. jadikan sampah hijau menjadi pupuk kompos, supaya tidak ketergantungan sama urea perusahaan luar… pake kompos banyak manfaatnya selain tanahnya bagus juga hasilnya tidak mengandung resiko bagi kesehatan

    • sepertinya malaysia hanya berpikir bahwa masa depan harus lebih baik daripada hari ini…

      orang Indonesia terlalu dimanjakan dengan segala macam subsidi dan hutang… sampai akhirnya aset negara dijual…

      orang Indonesia terlena dengan segala kenyamanan yang diberikan pemerintah hingga menjadi lalai… hanya sedikit orang Indonesia yang berpikir masa depan harus lebih baik dari hari ini… hanya sedikit orang Indonesia yang mengambil kesempatan saat kesempatan itu lewat…

      walaupun banyak kejelekannya… Indonesia tetap Bangsaku…

      MERDEKA!!!…:mrgreen:

  2. Ping balik: Sampah di Negeri Sendiri Jadi Emas di Negeri Seberang

Komentar ditutup.