Nostalgia Surat Berantai


Jauh sebelum internet merebak seperti sekarang ini kita berkomunikasi jarak jauh dengan menggunakan telepon atau surat. Tentu saja jika menggunakan surat, kita harus dengan setia menunggu hadirnya surat balasan dari rekan korespondensi dalam beberapa hari. Dengan menggunakan telepon tentu lebih cepat karena sambungan telepon tidak terbatas fisik.

Mekanisme Surat Berantai

Pada masa keemasan surat, ada beberapa orang yang sengaja menggunakan cara untuk mengembangkan jaringan dan mendapatkan keuntungan hanya dengan biaya rendah. Cara tersebut adalah surat berantai. Kita cukup memasukkan nama kita dalam urutan terakhir dan mengirimkan sejumlah uang kepada nomor pertama. Jangan coba-coba untuk dimasukkan langsung pada nomor pertama karena menjadikan perhitungan yang berbeda.

Surat lalu dikirimkan kepada beberapa orang target berikutnya. Lengkap dengan perintah yang sama, dan petunjuk yang sama pula. Bahkan dalam perkembangannya, karena tingkat keberhasilannya rendah, maka dilengkapi dengan beberapa ancaman. Misalnya saja jika tidak diteruskan akan mendapatkan kesialan selama beberapa tahun. Seperti dicontohkan dalam surat dari Masjid Nabawi.

Tentu saja dengan adanya ancaman tersebut, surat bisa berjalan terus menerus, namun kiriman uang belum tentu bisa diperoleh dengan mudah. Walaupun ada beberapa orang yang dengan yakin dan mantap tidak akan terjadi apapun walau tidak meneruskan surat tersebut. Dengan demikian ada rantai yang terputus dalam beberapa tingkat.

Rantai Surat Hanya Melalui Surat

Proses rantai surat tersebut dapat berjalan sebagaimana mestinya jika dilakukan melalui surat saja. Alasannya karena, surat akan disampaikan secara personal dan bukan kelompok. Dengan demikian, maka hanya orang yang dikirimi surat yang akan membalasnya, bukan banyak orang secara bersama-sama.

Alasan itu juga yang membuat surat berantai tidak mungkin dimuat dalam koran. Apabila surat berantai tersebut dimuat dalam koran atau media cetak lain, dan ada banyak orang yang tertarik, maka kemungkinan besar yang meraup keuntungan hanya orang pertama saja. Apakah orang yang berikutnya dapat mendapatkan sedikit keuntungan darinya?

Sekarang ini, setelah merebaknya internet, tidak sedikit mereka yang mencoba cara-cara sebagaimana jaman keemasan surat. Dalam internet terdapat surat elektronik yang memiliki mekanisme sebagaimana surat. Yakni selalu diterima secara personal.

Rantai Berurutan Bukan Menyebar

Syarat rantai dapat tercipta dengan baik adalah jika diterima secara personal. Jika dilakukan dengan melalui forum, minimal user akan banyak yang diblokir karena dapat ditengarai melakukan repost. Hal ini juga sedikit repot dilakukan jika diposting dalam blog. Karena pembaca dan yang berminat selalu berharap memperoleh yang tertinggi.

Kadangkala, alih-alih menaikkan urutan, tapi mengganti link awal dengan mengubah link terakhirnya saja. Bukan traffic yang diperoleh, namun bisa jadi mendapatkan hujatan dari pemilik trik awal. Cara ini harus dicermati dan hati-hati penggunaannya. Mungkin akan lebih baik jika dalam tulisan diselipkan link tersendiri dan tidak dapat dihindari untuk tidak tersalin.

Kemarin sempat menemukan pula cara seperti ini yang ada dalam blog Thomas Andrianto. Sebelumnya dia mengambil tulisan dari Samudro. Mekanisme surat berantai tapi dalam blog. Apakah cara ini akan berhasil? Mungkin beberapa minggu lagi perlu meminta laporan peningkatan traffic dari mereka.:mrgreen:

4 thoughts on “Nostalgia Surat Berantai

  1. Cuma cara itu bisa gak tuh meningkatkan traffic? Kayaknya cara BW dan berkomentar di blog yang dikunjungi lebih maknyusss…

    • kalau backlinknya atau memasang link ke blog yang masuk BOTD akan lebih efektif meningkatkan traffic… karena jika ada link dalam comment yang menarik nantinya pembaca akan melakukan klik kunjungan… 25% dari pengunjung keseluruhan sudah lumayan kan… backlink atau memasang link secara tidak langsung akan memasukkan komentar di tulisan yang ditaut lho… BW agar bisa menambah link kan pak…

Komentar ditutup.