There Was Something Called “Ngajeni”


Pada jaman dahulu kala, di tanah Jawa, terdapat suatu budaya yakni “ngajeni”. Setiap orang muda memiliki tata krama dalam berhubungan dengan orang yang lebih tua. Tidak hanya itu, setiap anak muda di negeri itu juga menggunakan tata krama baik di dalam maupun di luar rumah, orang yang sudah dikenal maupun belum dikenal, bahkan tidak hanya kepada yang tua namun juga kepada yang lebih muda dengan tujuan mengajarkan kepada generasi berikutnya mengenai “ngajeni”.

Kebudayaan “ngajeni” ini, pada masa jayanya, juga berlaku ketika berada di jalan raya. Tidak ditemukan seorangpun yang semena-mena terhadap pengguna jalan yang lain. Tidak ada saling serobot, tidak dijumpai kendaraan yang ngebut, bahkan tidak ditemukan pengendara yang berjalan melampaui marka. Hal ini membuat peraturan masih sangat fleksibel.

Perkembangan lalu lintas pengguna jalan yang semakin cepat, membuat peraturan yang fleksibel tersebut menjadi mandul. Saling menghormati dan menghargai pengguna jalan yang lain semakin hilang. Tidak jarang dijumpai kendaraan menyerobot jalan, jika tidak mendapatkan jalan untuk melintas maka mengambil seluruh badan jalan tidak perduli kendaraan dari arah berlawanan cukup padat.

Jika akhirnya sang penyerobot itu tidak mendapatkan jalan, umpatan akan keluar secara otomatis dari mulutnya. Seakan pengguna jalan yang lain tidak lebih baik dari dirinya. Sungguh tingkah laku yang tidak berbudaya.

Tidak jarang perilaku menghormati dan menghargai pengguna jalan yang lain sesungguhnya membawa manfaat kepada diri sendiri. Ketika memberi kesempatan kepada penyeberang untuk melintas, sesungguhnya kita memberikan kesempatan kepada jalan untuk meluangkan sejenak kepadatannya. Alhasil perjalanan kita sendiri yang menjadi lebih lancar.

Perlakukan pengguna jalan lain seperti diri sendiri ingin diperlakukan

Perilaku yang tidak menganggap pengguna jalan lain memiliki kepentingan yang sama dengan diri sendiri merupakan perilaku egois dan arogan. Apakah hanya diri sendiri yang terburu-buru sementara pengguna jalan lain memiliki waktu yang panjang? Ataukah hanya diri sendiri yang tidak memiliki rem, sementara pengguna jalan yang lain memiliki rem yang sangat pakem?

Pernahkah terpikir bahwa diri sendiri merasa sebal jika menjumpai dari arah berlawanan sebuah kendaraan nekat mendahului padahal sudah dekat dengan kita? Lalu jika diri sendiri melakukan hal yang seperti itu juga apakah pengguna jalan yang lain tidak merasa sebal? Lumayan untuk direnungkan sembari menanti pertandingan bola.:mrgreen:

Menghormati pengguna jalan yang lain akan membuat diri sendiri dihormati di jalan. Bukan dihormati seperti bendera.:mrgreen: Tetapi paling tidak, perjalanan akan lebih nyaman, tidak macet walaupun padat, serta lebih hemat bahan bakar.

Tidak jarang pernyataan “mereka saja seperti itu, mengapa kita tidak” mengalir begitu saja tanpa ada rasa bersalah. Lalu apa bedanya dengan mereka? Apakah dengan itu menjadi lebih berbudaya? Apakah dengan seperti itu berarti memiliki pendirian yang kuat?

Menghormati dan menghargai pengguna jalan yang lain tidak perlu ikut-ikutan. Mulai dari diri sendiri untuk menghargai pengguna jalan yang lain yang hasilnya akan kita petik kemudian. Berpeganglah dengan kuat pada pendirian untuk menghargai pengguna jalan yang lain. Lalu lihat apa yang akan terjadi.:mrgreen:

2 thoughts on “There Was Something Called “Ngajeni”

  1. salam..
    betul sekali, sekarang banyak orang yang memakai jalan seenaknya seolah tidak ada pengendara atau pemakai jalan yang lain.
    disiplin memang harus di awali dari diri sendiri dulu..

    • salam kenal…
      memang harus bersabar untuk bertahan disiplin… mari kita mulai disiplin untuk lalulintas yang labih baik…

      terimakasih sudah mampir…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s