Bukan Tips Memilih Imam


Siang hari, usai memaksimalkan fasilitas kantor serta meningkatkan imaging kantor. Iseng kursor berjalan menelusuri lekuk liku daftar blog terbaru. Terhenti jalan kursor pada sebuah artikel yang menggelitik rasa keingintahuan. Artikel yang berjudul 11 rasa 23 ini mengarahkan pemikiranku pada permasalahan Tarawih.

Rasa penasaran itu terjawab sudah ketika membukanya dan digantikan dengan rasa terkejut. Belum pernah mendapatkan atau menemukan sebuah pengamatan dan kesimpulan dari sudut pandang tersebut. Sebuah pesan yang terkandung di dalamnya, di bagian akhir ditemukan, “INGAT… imam dipilih untuk diikuti”.

Seketika pikiran melompat pada kejadian-kejadian yang sempat dihadapi, ataupun kejadian yang dialami oleh orang lain. Berbagai pengalaman bergulir silih berganti tanpa jeda yang menunjukkan pergantian antar kejadian. Mari kita lihat satu per satu kejadian yang terlintas dalam benak.

1. Tidak ikut memilih imam dan tidak mengikutinya

Beberapa kawan seringkali memilih untuk tidak berperan dalam pemilihan imam. Dan mereka menentukan imam mereka sendiri serta membariskan shaf mereka dalam satu masjid dengan imam yang lain. Salah satu gambaran masyarakat kita saat ini. Ada dua imam dalam satu masjid,  ada dua pemimpin dalam satu negara.

Satu pemimpin (imam) resmi ditetapkan, sementara pemimpin lain adalah informal. Informal di sini tidaklah berarti ilegal. Hanya saja memang tidak memiliki jabatan yang ditentukan jelas bahwa dia adalah pemimpin. Dia memimpin, memiliki pengikut, namun tidak ada yang pernah mengumumkan pada khalayak bahwa dia adalah pemimpin dan memiliki jabatan sebagai ketua.

2. Tidak ikut memilih imam tapi mengikutinya

Tidak jarang juga dalam sebuah masjid, beberapa orang tidak ikut memilih imam, namun secara sukarela mereka menjadi makmum. Hebatnya lagi, mereka mengikuti imam tanpa mengeluh. Jalani apa yang dilakukan imam mereka, apapun keputusan yang diambil juga diikuti dengan ikhlas.

Di negara kita pun tidak sedikit yang seperti ini. Seakan tidak peduli dengan bangsa ini, namun sesungguhnya mereka miris melihat keadaan kepemimpinan negara ini. Tetapi mereka tidak sanggup berbuat apa-apa dengan itu. Ketidak turut sertaan mereka ini berdasarkan pemikiran yang mendalam mengenai pemimpin yang seperti apa yang mereka butuhkan. Mereka menganggap, jika bentuk kepemimpinan seperti ini, turut serta memilihnya tidak akan mengubah apapun.

3. Ikut memilih imam tapi tidak mengikutinya

Nah, kalau ini seringkali terjadi ketika shalat Tarawih tiba. Menunjuk salah satu imam dan kemudian jika tidak sesuai dengan keinginannya, memilih untuk melakukan sendiri atau terpisah. Sangat mengesalkan memang. Tidak turut bertanggungjawab atas pilihannya.

Tidak sedikit warga negara Indonesia tercinta ini melakukan hal seperti itu. Pada masa pemilihan, mereka antusias mendukung dan memilih. Namun pada saat kebijakan atau keputusan tidak sesuai dengan keinginan, dengan ringan mereka melepaskan tanggungjawab dan segera beralih kepada calon pemimpin lain. Ular bermuka dua, demikian istilahnya. Di awal menyanjung, namun di akhirnya menjegal. Tipikal penghianat menurut saya.

4. Ikut memilih imam dan mengikutinya

Untuk yang ini, memang idealnya adalah seperti ini. Ikut memilih imam, dan lalu mengikuti langkahnya ke manapun dia pergi. Bahu membahu dalam suka maupun duka. Toh yang namanya pemimpin yang amanah tidak akan menjerumuskan ke dalam kemaksiatan atau bahkan ke dalam neraka.

Agak sulit menemukan tipikal seperti ini. Orang yang dengan gagah mengatakan mendukung baik dalam kondisi yang membahagiakan maupun dalam kondisi yang penuh tekanan. Seringkali hanya mereka yang ingin mendapatkan posisi dan penghasilan yang lumayan berupaya mendekati. Sudah itu, buang. Laksana kacang lupa akan kulitnya. Habis manis sepah dibuang.

Yah, begitulah kurang lebih beberapa pikiran yang melintas dalam benak. Mungkin tidak cukup jelas dalam menguraikannya. Maklum bukan tukang cerita.:mrgreen:

Semoga bermanfaat