Terdampar di Persimpangan


Rangkaian perubahan ke arah yang lebih baik belum tentu bisa berjalan dengan lancar. Kepentingan antara nahkoda dan anak buah kapalnya seringkali berbenturan dan menghasilkan keadaan yang stagnan. Kapal yang ingin dijalankan maju oleh nahkoda terpaksa tidak berubah satu jengkal pun ke arah yang diinginkan. Alhasil, kapal tersebut hanya akan terombang-ambing mengikuti arus yang entah akan membawa ke kejayaan atau kehancuran.

Tidak jauh berbeda dengan situasi pemilihan yang terjadi baik nasional maupun daerah. Gagasan-gagasan independen yang tidak berpihak ke kepentingan politik apapun seringkali berbenturan dengan kebutuhan hidup pendukungnya. Pertentangan ini perlu diluruskan dan disamakan visi dan misinya agar tidak terjadi lagi kondisi stagnan tanpa ada perubahan berarti.

Analisis ini berawal dari inovasi yang mendobrak pakem, diikuti dengan independen yang tidak berpihak, serta kompetisi selalu ada yang menang dan kalah. Kisah terakhir diwarnai dengan ketidakpuasan pendukungnya atas kebijakan yang tidak sesuai dengan visi dan misi dari calon nahkoda. Sekali lagi, benturan antar kepentingan serta perbedaan visi dan misinya.

Visi dan misi calon independen berupaya untuk meminimalisir kecurangan dalam pemilihan yang membawa ke arah penghapusan kejahatan-kejahatan seperti korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Visi dan misi yang baik ini dipegang dengan kuat oleh calon nahkoda. Bahkan seperti tidak menghiraukan perbedaan kepentingan yang muncul dari para awak kapalnya.

Sementara visi dan misi pendukung independen cenderung pada urusan dapur. Walaupun mengharapkan keadaan jangka panjang yang lebih baik, namun kebutuhan hidup selama mendukung juga perlu diperhitungkan. Selain itu curahan pemikiran dan tenaga yang mereka berikan juga perlu mendapatkan penghargaan. Perbedaan ini seringkali menghambat upaya-upaya perbaikan arah dan pergerakan.

Sesungguhnya perbedaan ini dapat diminimalisir kemunculannya jika terdapat keseragaman visi dan misi dari hulu hingga ke hilir. Semenjak awal kesamaan visi dan misi ini perlu diperhitungkan sebelum terjadi masalah. Guna menyamakan visi semenjak awal, perlu dilakukan langkah sebagai berikut:

  1. Melakukan sosialisasi internal kepada para pendukung. Hal ini dimaksudkan agar kesamaan visi dan misi dapat tercipta, dan terdapat kesepakatan bahwa perjuangan yang dilakukan membutuhkan pengorbanan dan kebersamaan.
  2. Membuat kesepakatan dengan pengikutnya. Kesepakatan ini untuk mengikat pendukung dan calonnya agar tidak berbalik arah ketika terjadi ketidak sepahaman di antara mereka.
  3. Menciptakan situasi kebersamaan dan kekompakan dalam perjalanan menuju posisi yang dikehendaki. Kebersamaan dan kekompakan dibutuhkan agar tidak ada yang merasa ditinggalkan atau dilupakan baik dalam situasi suka maupun duka.
  4. Mendiskusikan bersama mengenai rencana-rencana jangka panjang, menengah dan pendek. Perencanaan bersama ini mendorong para pendukung untuk mempunyai rasa memiliki dan bertanggungjawab dalam mencapai hasil akhir.
  5. Menempatkan diri sejajar dengan pendukung. Walaupun memiliki posisi sebagai pemimpin, posisi yang digambarkan sejajar dengan pendukungnya akan memberikan loyalitas yang tinggi dalam diri pendukungnya.

Langkah-langkah tersebut merupakan garis besarnya saja. Banyak variasi yang mungkin dilakukan untuk mendapatkan loyalitas pendukung yang tinggi. Proses untuk menumbuhkan loyalitas ini tidak dapat dilakukan secara instan dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Berfokuslah pada hasil akhir yang akan dicapai, maka proses ini akan terasa terlalu singkat.

Pada akhirnya, bukanlah posisi yang dicari. Namun penggalangan loyalitas dan kebersamaan lah yang lebih penting.

Semoga bermanfaat.:mrgreen: