Penjual Kipas Itu


Sekitar satu bulan sebelum Idul Adha, kala itu waktu telah menunjukkan pukul 20:00. Kubelokkan si hejo ke arah warung di bilangan Kotagede dan kuparkir sejajar dengan jalan. Tak ada yang aneh dengan keadaan itu. Kusimpan helm di setang dan kulangkahkan kakiku ke dalam warung. Senyum kulayangkan pada bapak tua penjaga warung yang sepertinya hanya beberapa orang termasuk aku yang masih berlangganan dengan beliau.

Pesanan kusampaikan dan beliau dengan sigap mencari barang yang kupesan. Sedikit agak lama memang, tapi aku lebih suka membeli di sana. Masih ada yang harus dilakukan sebelum pesanan aku terima. Bapak tua itu mulai menimbang dengan timbangan yang mungkin sudah seumuran beliau. Sejenak pikiranku melayang ke mana-mana sambil mataku mengawasi jalan raya. Pesanan masih butuh banyak proses dan aku berusaha untuk membuang waktu sedikit.

Tiba-tiba di kejauhan aku melihat seorang yang sudah renta memanggul dua ikat kipas dari anyaman bambu. Satu kipas yang biasa digunakan untuk mensuply angin ke anglo, dan satu lagi kipas hias yang biasa digunakan untuk mendinginkan badan. Yang menarik perhatianku adalah beliau membawa tongkat. Ya. Tongkat yang digunakannya bukanlah tongkat untuk menopang tubuhnya. Tapi tongkat itu membantunya mencari jalan dan menghindari benturan dengan sesuatu yang di hadapannya.

Segera aku melompat mendatanginya dan mengarahkannya sedikit ke tengah agar tidak terbentur motor yang kuparkir di pinggir jalan. Itu kulakukan hanya agar bapak tua itu tidak terbentur box yang memang terpasang sedikit menjorok ke belakang. Sekaligus kuberitahu bahwa sedikit ke depan ada mobil yang parkir di pinggir jalan. Yah, hanya agar beliau lebih waspada.

Kupandangi punggungnya yang tertutup ikatan kipas itu. Mudah-mudahan laris kataku dalam hati. “Kasihan ya mas. Ga bisa liat masih jualan kipas” kata istriku yang juga melihatnya. “Kalau kasihan ya dibeli aja kipasnya” kataku santai. “Tapi kan udah jalan” tukasnya. “Ya dikejar” kataku lagi.

Sekitar duapuluh langkah dari tempatku berdiri, dua pasangan muda menghentikan langkah bapak tua itu. “Jadi beli gak?” tanyaku tanpa melepas pandangan ke penjual kipas itu. Tanpa menunggu jawaban, kulangkahkan kakiku menuju tempat penjual kipas itu berada.

Kuberjongkok di hadapannya dan bertanya “berapa harga kipasnya pak?” Beliau menjawab “duaribu mas.” Terhenyak aku mendengar jawabannya. Kipas yang di pasar bisa mencapai lima atau enamribu dijualnya duaribu rupiah.

Sambil memilih kipas, aku bertanya tentang asal beliau, tempatnya beristirahat, dan sebagainya. Dari beliau aku tahu bahwa beliau dari Purworejo dan dia selalu beristirahat malam di pasar untuk tidur. Beliau juga terbiasa berjalan ke arah yang tak pasti sambil menggendong kipasnya yang kira-kira sebanyak duaratus buah hingga beliau merasakan lelah dan beristirahat. Dagangannya pun bukan beliau yang membuatnya. Beliau hanya membelinya dari orang lain untuk dia jual kembali.

Kupilih dua kipas yang sekiranya nyaman digunakan, lalu kubayar dengan sedikit kelebihan. Kukatakan untuk tambah beli makan malam ini. Setelah mengucapkan terimakasih banyak pada bapak itu, aku langkahkan lagi kakiku menuju warung sebelumnya.

Usai menerima pesananku, membayar dan mengucapkan terimakasih, aku pun menjalankan motorku kembali ke rumah. Bapak itu belum juga beranjak dari tempatnya duduk. Mungkin sekaligus beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan panjangnya.

Di belakang masih kudengar istriku mengungkapkan perasaan kasihan pada bapak itu. Aku tak menjawabnya. Harusnya aku memberi lebih, kataku dalam hati. Yah, mungkin lain kali bila berjumpa lagi bisa aku beli satu ikat kipasnya. Mudah-mudahan dagangannya laris di era kompor gas ini.

Sumber inspirasi:

Bapak tua penjual amplop itu

One thought on “Penjual Kipas Itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s