Ga Pake Judul


Beberapa bulan lalu pas rame-ramenya BBM akan naik, sempat terlintas untuk menulis. Namun tulisan terhambat dengan satu hal saja, yakni masalah judul. Share ke kawan-kawan di beragam jarsos, ada yang mengusulkan untuk menulis saja tapi tidak usah pakai judul. Tapi ‘ngganjel’ kalau tidak pakai judul. Tapi pada akhirnya terpaksa harus ditulis juga karena banyak sekali ide tulisan yang sudah antri di belakangnya. Malah tambah ngganjel kalau tidak segera ditulis.:mrgreen:

Permasalahan pokok yang jadi tema tulisan ini adalah kenaikan BBM. Pemerintah memaksa untuk menaikkan BBM karena banyak alasan. Walaupun tulisan ini tidak akan membahas alasan-alasan pemerintah menaikkan harga BBM, namun tulisan ini ingin membagikan pemikiran tentang efek jangka panjang kenaikan BBM. Efek bola salju yang tidak akan pernah berhenti, serta gunung es di tengah lautan asumsi. Asumsi itu berbahaya kawan.:mrgreen:

Permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat, terkait dengan BBM, adalah jaringan distribusi barang yang mengandalkan transportasi darat. Kendaraan yang dipergunakan untuk distribusi barang melalui darat adalah transportasi jalan raya yang simpel, kecil, dan ringan. Bentuk transportasi yang memiliki karakteristik tersebut sebagian besarnya mempergunakan bahan bakar bensin premium untuk mengoperasikannya. Karena itu jaringan distribusi tersebut mengalami imbas kenaikan BBM yang besar.

Imbas kenaikan BBM yang terasa adalah pada kebutuhan harga beli yang mengalami peningkatan yang lumayan. Misalnya, sebelum kenaikan BBM, uang sembilan ribu rupiah dapat dipergunakan untuk membeli dua liter premium. Sementara, setelah kenaikan BBM, jumlah liter yang sama harus mengeluarkan uang yang lebih banyak sekira tiga belas ribu rupiah. Memang daya beli terlihat meningkat, namun itu semu. Sepertinya mampu mengeluarkan uang yang lebih banyak, tapi jumlah yang peroleh adalah sama. Sementara, peningkatan daya beli terjadi bila peningkatan pengeluaran diiringi dengan meningkatnya jumlah yang diterima. Misalnya, dulu hanya bisa membeli premium sebanyak dua liter sehari, dengan meningkatnya daya beli, premium yang dibeli per hari pun meningkat menjadi empat liter dalam satu hari. Jadi, kalau hanya harganya yang naik tidak mungkin disebut sebagai daya beli yang meningkat.

Guliran berikutnya dari bola salju kenaikan BBM ini adalah harga yang meningkat. Harga yang naik ini akibat dari kebutuhan BBM distribusi barang. Jadi barang keluar dari pabrik membutuhkan transportasi untuk mendistribusikan ke toko. Tapi, antara pabrik dan toko masih ada agen dan distributor. Lalu bagaimana? Harga dari pabrik dinaikkan sekian persen untuk mendistribusikan ke agen, kemudian dari agen dinaikkan sekian persen untuk transportasi ke distributor, lalu dinaikkan lagi sekian persen untuk pengangkutan ke toko atau retailer. Lalu, apakah orang yang akan membeli barang tersebut tidak membutuhkan transportasi? Haruskah pembeli atau konsumen berjalan kaki saja agar sehat? Eh, karyawan pabrik, agen, distributor, dan toko itu membutuhkan transportasi ke tempat kerjanya atau tidak ya? Mengapa perhitungannya bisa menjadi sangat kompleks seperti ini?:mrgreen:

Bola salju masih terus bergulir pada transportasi umum. Transportasi umum jaman sekarang tidak lagi menggunakan kuda atau manusia sebagai tenaga penggeraknya. Semua kendaraan umum menggunakan mesin yang juga membutuhkan BBM. Otomatis dengan adanya kenaikan BBM memicu kenaikan ongkos transportasi. Belum terhitung kebutuhan sopir dan kondektur transportasi umum untuk berangkat dan pulang ke pool. Bila semua imbas kenaikan BBM tadi digabungkan, bukan kenaikan daya beli masyarakat yang akan diperoleh, namun keterpurukan yang ditemui. Kenaikan pengeluaran yang terjadi pasca kenaikan BBM tidak dapat diakui sebagai kenaikan daya beli, karena bertambahnya pengeluaran yang terjadi tidak meningkatkan kesejahteraan, namun malah menurunkan kesejahteraan.

Penurunan kesejahteraan dan berkurangnya daya beli tersebut diakibatkan karena untuk membeli komoditas dengan jumlah yang sama harus mengeluarkan biaya yang lebih besar. Dengan penghasilan yang tidak meningkat, mengakibatkan berkurangnya komoditas sekunder atau bahkan komoditas primer yang dikonsumsi. Bila ada peningkatan penghasilan, sifatnya juga hanya menyesuaikan dengan kenaikan BBM yang biasa dimasukkan dalam tunjangan transportasi. Jadi secara umum dengan adanya kenaikan BBM bukan meningkatkan daya beli, namun malah menurunkan daya beli. Seperti itu kesimpulannya.:mrgreen:

One thought on “Ga Pake Judul

  1. Ping balik: Menundukkan Pandangan | Abasosay's Weblog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s