Menundukkan Pandangan


Seringkali aku dengar dari pak ustad dan kiai tentang perintah untuk menundukkan pandangan. Namun seringkali juga aku dibuat bingung dengan cara untuk melakukannya. Tidak sedikit diskusi aku lakukan dengan ustad, kiai, atau orang yang punya ilmu agama yang lebih tinggi daripadaku. Namun penjelasan mengenai istilah menundukkan pandangan itu masih kabur dalam benakku.

Beberapa minggu terakhir pikiranku terganggu dengan bayangan bahasan menundukkan pandangan yang sering didiskusikan. Padahal masih ada hutang tulisan lain yang belum dibuat. Setelah tulisan yang menjadi hutang itu sudah lunas diposting di sini, waktunya bikin tulisan ini.:mrgreen:

Proses kemunculan pemikiran itu tidak pernah dipicu oleh keinginanku sendiri. Seringkali ketika sedang mengerjakan sesuatu yang lain, mengendarai kendaraan, atau kegiatan lain yang membutuhkan konsentrasi, pemikiran akan sesuatu yang belum terjawab akan muncul dengan sendirinya. Mungkin itu yang namanya pangsit.:mrgreen:

Tulisan ini mungkin akan jauh sekali dari pembahasan tentang agama. Ya, bahasan yang aku lakukan lebih bersifat umum dan yang dilakukan sehari-hari. Kadang dilakukan dengan gaya ala motivator tenar sekelas MTGW.:mrgreen:

Jadi selama ini yang dipahami sebagai menundukkan pandangan itu adalah bila berbicara dengan yang bukan muhrim itu adalah dengan menundukkan kepala. Beberapa hari terakhir baru aku tahu bahwa bukan itu yang dimaksud dengan istilah tersebut. Bukan kepala yang ditundukkan, tapi pandangan yang ditundukkan. Malah bingung dengan pemahaman tadi?

Istilah menundukkan yang dipergunakan dalam perintah menundukkan pandangan itu bukanlah berarti menundukkan atau merundukkan karena ada sesuatu di atas yang harus dihindari. Namun menundukkan yang dimaksud adalah menundukkan seperti yang ditemui ketika terjadi peperangan atau pertarungan. Atau dengan istilah yang lebih jelasnya berarti mengalahkan atau mengungguli lawan. Dalam hal ini pandangan dianggap sebagai lawan yang harus dikalahkan.

Pandangan, sebagaimana darah yang dialiri oleh setan, merupakan tempat bertenggernya setan. Dari pandangan dapat terbersit niat jahat dalam hati seseorang seperti mengutil, mencuri, merebut, merampas, merampok, menjamah, korupsi, dan lain sebagainya. Hal-hal seperti itulah yang harus disingkirkan.

Pandangan, seperti organ tubuh yang lain, merupakan bagian yang mengikut pada manusia. Bukan sebaliknya atau manusianya yang mengikut pada pandangan. Dengan demikian, pandangan adalah alat bagi manusia untuk mengetahui keadaan sekitarnya. Berdasarkan konsep alat bagi manusia, pandangan seharusnya dikuasai oleh manusianya bukan sebaliknya, atau manusia yang dikuasai oleh pandangan. Bila manusianya yang dikalahkan oleh pandangan, maka dia akan silau dengan keduaniawian yang akhirnya dapat berbuat kejahatan seperti korupsi, menggunjing, merampok, membunuh, selingkuh, dan sebagainya.

Dengan pemahaman tersebut, kita manusia harus mengendalikan pandangan dan menunjukkan siapa tuannya. Ke mana pandangan menuju harus sepengetahuan dan atas perintah dari tuannya. Sehingga pandangan bisa diatur hanya untuk melihat yang halal saja dan tidak diperintahkan untuk memandang yang tidak halal. Selain itu, bila pandangan bisa dikuasai sepenuhnya, setan yang bertengger di sana tidak dapat merasuki hati untuk berbuat jahat.

Terkait dengan perintah menundukkan pandangan ketika melihat lawan jenis, maksudnya bahwa pandangan harus dikuasai dan dibatasi hanya boleh melihat bagian yang bukan aurat pada wanita yakni bagian muka dan telapak tangan saja. Bagian lainnya jangan dilihat kalau bukan muhrimnya.:mrgreen:

Tapi apa yang aku tuliskan di atas hanya sebatas pemikiranku saja sih. Kata orang, kepala boleh sama hitam tapi isinya bisa beda.

Mudah-mudahan bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s