Ang Kring Lum: Menggugat “Taksi Online”


Disclaimer:

  1. Tulisan berikut ini hanyalah fiktif belaka, kesamaan nama, tempat, hari, bulan, tahun, jam, menit, detik hanyalah kebetulan belaka.
  2. Tulisan ini tidak dapat dipergunakan untuk mendiskreditkan, mengunggulkan, menuntut, atau menistakan pihak manapun.
  3. Pengambilan atau pengutipan harus dilakukan secara keseluruhan, tidak dapat dilakukan sebagian walaupun dengan seijin penulis.

Malam masih belum larut ketika aku sampai di lahan parkir belakang terminal. Masih ramai lalu lalang orang yang ingin bepergian ke luar kota dengan kendaraan bus ataupun yang baru datang dari luar kota. Di kejauhan tampak tukang parkir sibuk mengatur kendaraan yang keluar masuk untuk menjemput atau mengantar penumpang. Di sebelah kanan gerbang keluar, berbaris tukang ojek dan tukang becak menawarkan jasa kepada penumpang yang baru datang. Sementara di sebelah kiri gerbang duduk berjajar para supir taksi menunggu penumpang yang membutuhkan jasanya.

Pandanganku terhenti pada sosok yang sedang berjalan di kejauhan. Seakan ditimpa sinar terang yang menyilaukanku, membuatku tak mampu berkedip saat menatapnya. Sepatu sport warna cerah dan celana jeans sporty warna gelap serasi dengan kaos pink yang dikenakannya. Jilbab hitam yang menutup rapat mahkotanya seakan menambah kecantikannya. Batinku meronta, menggeliat, seakan berdiri dengan garang dan meneriakkan, siapa gerangan bidadari yang turun dari bus ini?

“Baru pulang mas?” suara Kang Lum membuyarkan lamunanku.

“Iya mas.” jawabku. “Tadi sowan ke tempat bapak.”

“Biasa mas?” tanyanya.

“Iya, yang biasa saja.” aku menjawab sambil celingukan mencari bidadari tadi. “Esnya banyakan ya.”

“OK. Siap.” sahutnya. “Nyari yang jilbaban tadi mas?” tanyanya.

“Hooh.” jawabku singkat.

“Udah dijemput mas. Sama cowoknya pake Vixion.” sahutnya santai.

“Wo. Ya sudah klo gitu.” jawabku.

Segera aku menyelinap ke pojok belakang gerobag yang digunakan berjualan oleh Kang Lum. Tempat favoritku karena bisa bersandar dan dekat untuk ambil apa yang aku inginkan. Selain itu, pemandangan dari posisi ini sangat luas. Sehingga terminal dapat terlihat dari ujung hingga ke ujung.

Nasi sambel teri di sini, favoritku, walau aku rasa kurang mengenyangkan, rasanya lumayan memuaskan. Gorengan seperti tempe atau tahu bacem kesukaanku di tempat Kang Lum. Walau di tempat lain aku lebih suka bakwan atau tahu gorengnya, aku belum berminat pada gorengan lain di tempat ini. Setelah cukup kenyang, waktunya santai ngobrol dengan Kang Lum sambil menghabiskan minum dan sebatang tembakau.

“Aku tadi dikabari mas,” suara Kang Lum memecah kesunyian. “Ada demo di kota X. Demo masalah taksi dan ojek online.”

Arrggh. Batinku. Masalah lama yang pernah kubahas muncul lagi. Sebetulnya penggunaan istilah saja yang tidak pada tempatnya serta kecenderungan untuk memunculkan konflik yang membuat tidak ada solusi bagi mereka.

“Emang kenapa mereka mas?” tanyaku pelan.

“Mereka itu ngerusak mobil yg lewat.” katanya.

“Kalau yang seperti itu salah mas. Demo gapapa, tapi klo ngerusak barang orang lain ya ga boleh.” sahutku malas.

“Sebenernya yang didemo apa to, kaya gitu itu?”

“Mereka itu lho mas, ra cetha, ga jelas. Kalau ditelaah dari bahasa, taksi online, ojek online, itu kan istilah taksi yang memanfaatkan fasilitas internet untuk mencari penumpang. Makanya kalau aku lebih suka menyebutnya ‘taksi komunitas’ daripada ‘taksi online'” jelasku.

“Bedanya apa itu mas?” tanyanya.

“Kalau ‘taksi online’, istilahnya lebih cocok digunakan untuk mobil taksi yang ada tulisan taksinya punya fasilitas cari penumpang secara online. Sampeyan mau cari penumpang keliling2 kota jaman sekarang ya jelas ga ada penumpang yang mau berpanasan nunggu di pinggir jalan. Apalagi tujuan mereka ke mana to? Bandara, stasiun, terminal, kampus sama mall. Ya konyol kalau ngotot nunggu orang melambaikan tangan di pinggir jalan. Ada teknologi kok ga mau pakai.” jelasku sambil mengangkat gelas minumku yang tinggal seperempat.

“Kalau ‘taksi komunitas’,” sambungku setelah saksruputan “mereka tidak pakai tulisan taksi di mobilnya, kantornya ga jelas di mana, namanya apa ya ra cetha, mereka bayar pajak yo enggak. Paling bayar pajak kendaraan aja. Rata-rata kalau di kota besar mereka ambil penumpang yang searah dengan tujuannya. Yo prinsipnya biar efektif dan efisien, sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui, siapa tahu nasib awak lagi mujur dapet jodoh penumpangnya. Kan.”

“Asem. Bisa sampai situ to?” tanyanya.

“Yo segala kemungkinan itu bisa.” sahutku. “Gimana, udah dong?”

“Wo, jadi cuman masalah istilah saja to? Lha kok sampai jotos-jotosan gitu yo?”

“Ya gitu mas. Mereka asal pakai istilah, trus ada kompornya, ya kobong.” jelasku.

“Woh, kalau gitu beritane salah ini mas?”

“Bukan beritanya yang salah. Istilahnya yang dipakai sama media itu harus diubah atau diganti dari ‘taksi online’ jadi ‘taksi komunitas’ atau ‘taksi plat hitam berjejaring’. Hla wong angkot plat hitam bisa ditindak, taksi plat hitam harusnya juga bisa dikenai. Hanya saja, nanti bisa salah sasaran seperti yang mobilnya remuk itu.” pungkasku.

“Berarti media beritanya ini harus digugat karena sudah pakai istilah yang menyesatkan.” sahutnya.

“Rasah nggugat mas, dodolan we penak. Wis, tambah bengi tambah ra karu-karuan obrolane. Sega loro, gorengan loro, sate usus siji, es k*****x.” sambil aku mengenakan ranselku.

“Sangangewu.” sahutnya.

“Maturnuwun kang.” aku pun berpamitan.

Selama perjalanan pulang, terbayang sosok bidadari yang turun dari bus tadi. “Huss. Ra bakal ketemu meneh.”

Yogyakarta 12032017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s