Ang Kring Lum: Menggugat “Taksi Online”


Disclaimer:

  1. Tulisan berikut ini hanyalah fiktif belaka, kesamaan nama, tempat, hari, bulan, tahun, jam, menit, detik hanyalah kebetulan belaka.
  2. Tulisan ini tidak dapat dipergunakan untuk mendiskreditkan, mengunggulkan, menuntut, atau menistakan pihak manapun.
  3. Pengambilan atau pengutipan harus dilakukan secara keseluruhan, tidak dapat dilakukan sebagian walaupun dengan seijin penulis.

Malam masih belum larut ketika aku sampai di lahan parkir belakang terminal. Masih ramai lalu lalang orang yang ingin bepergian ke luar kota dengan kendaraan bus ataupun yang baru datang dari luar kota. Di kejauhan tampak tukang parkir

Razia Serang Warung Makan


Bulan puasa itu bulan yang penuh barakah. Bulan yang penuh limpahan rahmat. Bulan di mana setan dibelenggu. Bulan yang penuh ampunan. Bulan di mana banyak orang keliling dini hari dan berteriak “sahuuuurrr… sahuuuuuuuuuuurrrrr… sahuuuuuuuuuuuuuurrrrrr”. Bulan di mana banyak bertebaran minuman segar dan makanan ringan untuk berbuka puasa. Ngeces. :mrgreen:

Beberapa hari yang lalu,

Ga Pake Judul


Beberapa bulan lalu pas rame-ramenya BBM akan naik, sempat terlintas untuk menulis. Namun tulisan terhambat dengan satu hal saja, yakni masalah judul. Share ke kawan-kawan di beragam jarsos, ada yang mengusulkan untuk menulis saja tapi tidak usah pakai judul. Tapi ‘ngganjel’ kalau tidak pakai judul. Tapi pada akhirnya terpaksa harus ditulis juga karena banyak sekali ide tulisan yang sudah antri di belakangnya. Malah tambah ngganjel kalau tidak segera ditulis. :mrgreen:

Permasalahan pokok yang jadi tema tulisan ini adalah kenaikan BBM. Pemerintah memaksa untuk menaikkan BBM karena banyak alasan. Walaupun tulisan ini tidak akan membahas alasan-alasan pemerintah menaikkan harga BBM, namun tulisan ini ingin membagikan pemikiran tentang efek jangka panjang kenaikan BBM. Efek bola salju yang tidak akan pernah berhenti, serta gunung es di tengah lautan asumsi. Asumsi itu berbahaya kawan. :mrgreen:

Baca lebih lanjut

Money Politic Gaya Baru


Membaca berita di mana-mana tentang kenaikan bbm membuat gerah juga. Perdebatan mengenai naik harga atau tidak, menjadikan aku semakin malas untuk membaca berita. Bukan karena aku tidak perduli, namun ocehan yang aku keluarkan seakan membentur batu karang. Jadi mendingan bikin desain saja. :mrgreen:

Sekarang tahun 2013. Kabarnya pemilu akan diadakan tahun 2014. Kampanye seperti apa sih yang akan efektif menjaring suara? Kalau pengalaman yang sudah-sudah, dengan membagikan uang akan mendorong perolehan suara dalam pemilu. Tapi, kalau yang dibagikan itu adalah uang dari kantong pribadi, dapat dipastikan wilayah cakupannya akan sangat terbatas dikarenakan keterbatasan dalamnya kantong. :mrgreen:
Lalu, bagaimana cara yang terbaik mendapatkan uang yang banyak, kemudian bisa dihamburkan secara semena-mena, agar terlihat sebagai kelompok yang baik hati, memikirkan rakyat, sehingga akan menang dalam pemilu berikutnya? Caranya, letakkan antek atau oknum partai sebagai pengambil kebijakan, lalu perintahkan pada antek tersebut untuk membagikan uang pada masyarakat miskin dengan legal dan uang milik negara. Lumayan mengurangi pengeluaran partai bukan? Tapi jangan lupa, bila ada yang bertanya, katakan ‘memang kewajiban negara untuk membantu rakyat miskin.’
Bila memang pemerintah serius dalam mengatasi kemiskinan, maka yang akan dilakukan adalah mempermudah investasi, menjamin keamanan dan kelancaran investasi, memberikan jaminan bahan produksi dan sebagainya yang berkaitan dengan investasi. Karena semakin banyak investasi, akan semakin banyak juga lapangan kerja yang tersedia. Selain itu, pemerintah juga bisa menambah kursus keterampilan agar tenaga kerja yang tersedia memiliki keterampilan yang dibutuhkan.
Udah dulu ah. Capek ngetik pakai tab. Jarinya jadi kaku. :mrgreen: Kesimpulannya, money politik berkembang dari yang bernama upeti, administrasi, amplop, sogokan, pelicin, bagian, share, uang dengar, koper, pustun, tali kasih, serangan fajar, buka bersama, parcel, sedekah, hibah, hadiah, hingga ucapan terimakasih. Sumber dananya bila dulu dari dompet pribadi, hingga banyak yang gila karena harta habis, lalu berkembang menjadi dana bersama milik partai, dan akhirnya disistemkan menjadi uang negara. Uang negara yang seharusnya dipergunakan untuk pelayanan dan pembangunan, dihamburkan untuk kepentingan golongan yang ingin berkuasa. Untuk pelakunya, jangan pernah akui semua ini. :mrgreen:

Tanya Ke Mana?


Aku masih penasaran dengan search engine yang mengarahkan ke blogku ini. Di sana disebutkan bahwa kata kunci pencarian paling banyak yang mengarahkan ke blogku adalah perumusan masalah. Memang beberapa tulisanku ada yang menyinggung tentang perumusan masalah. Maklum ada beberapa tugas kuliah dan tips dalam penelitian.

Rasa penasaran mendorongku untuk melakukan pencarian dengan kata kunci rumusan masalah. Awalnya hanya ingin mencari ada berapa kali blogku ini dimunculkan dalam pencarian. Alhamdulillah blogku muncul di halaman pertama pencarian. Bahkan tidak hanya satu, namun hingga tiga kali. :mrgreen:

Lanjut deh…

AHO… Smart or Idiot?


Automatic Headlamp On (AHO) akhir-akhir ini sering aku lihat bersliweran di blogosphere. Ada apa sebenarnya dengan AHO? Mengapa banyak bikers yang mempermasalahkannya?

Dari artinya sih menurutku AHO ini berarti lampu akan menyala selama mesin menyala. Jadi bila memutar kunci kontak pada posisi ON saja tidak akan membuat lampu utama menyala. Tentu saja hal ini tidak akan membuat aki menjadi tekor. Satu hal yang smart menurutku. Hanya saja biasanya lampu depan motorku tidak akan kuat menerima listrik yang muncul pada saat menyalakan mesin. Ini yang harusnya bisa dijelaskan lebih teknis oleh pihak bengkel.

Produsen motor sendiri lebih memfokuskan manfaat AHO pada UU 22/2009. Yup, yang menyatakan bahwa pengendara kendaraan bermotor wajib menyalakan lampu utama di siang hari maupun malam hari. Jadi menurut mereka, tidak ada yang akan melanggar peraturan. Lha kalau lampunya yang mati dianggap melanggar atau dilepas? :mrgreen: Yup, ini bisa diterima juga. Tidak ada yang salah dengan AHO ini kan?

Lanjut…

Qurban Bila Mampu, Dagingnya Untuk Siapa?


Terhenti ketenangan berselancarku di jagad blog ketika membaca tulisan Soemarlien tentang qurban yang jadi pesta. Awalnya aku berpikir bahwa mungkin mereka memperoleh daging itu karena mereka sendiri berqurban dan mendapatkan bagian. Namun di akhirnya muncul kebingungan karena tidak ditemukan kejelasan tentang ke mana daging qurban itu seharusnya diberikan.

Selama ini, pemahamanku tentang qurban adalah dikeluarkan bila mampu. Artinya, bila sudah mampu berkurban dari sisi keuangan maka wajib untuk mengeluarkannya. Dagingnya nanti diberikan pada yang berqurban, yang tidak mampu berqurban, dan pengurus qurban sesuai dengan proporsinya. Di sisi lain, mampu berqurban itu berarti mampu untuk ikhlas mengeluarkannya dan tidak lagi meminta tambahan timbangan.

Hadirnya tulisan itu…