Motor Jantan Tanpa Senggolan


Beberapa hari yang lalu, saya nyasar ke salah satu blog yang menyebutkan kalau motor jantan itu sebenarnya matik. Argumen utama yang diberikan adalah matik cenderung rawan senggolan stang sehingga punya alasan untuk kejar-kejaran dan balas dendam. Bila hidup di hutan bersama kera mungkin kejantanan kera selalu ditunjukkan dengan perkelahian dan fisik. Tapi kita hidup di peradaban bro. Di mana kejantanan tidak lagi berdasarkan kekerasannya saja. Namun jantan juga diartikan macho, gagah, dan tidak semua orang bisa. 😈

Sesungguhnya saat itu juga ingin segera memberikan balasan. Namun saat itu ada postingan lain yang ngantri bahkan ada ketikan yang belum selesai. :mrgreen: Dalam blog itu juga dikatakan bahwa pemasang stiker “Lelaki Sejati Oper Gigi” mungkin belum pernah pakai matik. Hadeuh… saya sudah coba motor semenjak RS100S, Grand, SupraFit, Alfa, AlfaII, AlfaIIR, Bravo, RC100, RGR, Kharisma, Supra, Vario, Mio, Jupiter, GL Max, Binter Mercy, GL Pro, JupiterZ, Minthi, C70, Jupiter MX, jangan lupakan vespa, dan yang selalu saya gunakan sekarang adalah Tiger 2000. Dan kesimpulan saya selama menggunakan beragam jenis motor itu adalah tetap jantan si Hejo. :mrgreen:

Klik aja klo mau liat penampakan si hejo

Caution!!! A Driver Biker… Mixed Habit


Rasanya memang terlihat menyenangkan bila mampu menguasai dua jenis kendaraan yakni roda dua dan roda empat. Banyak juga yang ingin bisa menguasai roda empat karena ingin beralih dari roda duanya. Sesungguhnya ada suka dan ada juga dukanya mampu menguasai dua jenis kendaraan itu.

Sesungguhnya, walau aku mampu mengendarai roda dua atau roda empat, aku lebih senang menggunakan roda dua. Ada sensasi kebanggaan tersendiri bia mengendarai roda dua. :mrgreen: Maklum si hejo adalah motor lambang kejantanan yang gagah, bukan sebuah motor alay.

Terus bacanya…

Riding Gak Cuma Putar Gas


Belum ada yang mampu mengalahkan sensasi berkendara roda dua yang satu ini. Memang, berkendara dengan merasakan hempasan angin, getaran mesin, dan liukan di tikungan merupakan kenikmatan tersendiri. Bahkan beberapa rider merasakan ada yang kurang bila tidak berkendara satu hari saja. :mrgreen:

Tidak sedikit dari rider itu adalah penyuka kecepatan. Ada yang mau memacu gasnya di jalan yang sepi dan lapang, namun ada juga yang tidak memperdulikan padatnya jalan di hadapannya. Yang penting pacu sekuat motornya. :mrgreen:

Lanjutkan…

AHO… Smart or Idiot?


Automatic Headlamp On (AHO) akhir-akhir ini sering aku lihat bersliweran di blogosphere. Ada apa sebenarnya dengan AHO? Mengapa banyak bikers yang mempermasalahkannya?

Dari artinya sih menurutku AHO ini berarti lampu akan menyala selama mesin menyala. Jadi bila memutar kunci kontak pada posisi ON saja tidak akan membuat lampu utama menyala. Tentu saja hal ini tidak akan membuat aki menjadi tekor. Satu hal yang smart menurutku. Hanya saja biasanya lampu depan motorku tidak akan kuat menerima listrik yang muncul pada saat menyalakan mesin. Ini yang harusnya bisa dijelaskan lebih teknis oleh pihak bengkel.

Produsen motor sendiri lebih memfokuskan manfaat AHO pada UU 22/2009. Yup, yang menyatakan bahwa pengendara kendaraan bermotor wajib menyalakan lampu utama di siang hari maupun malam hari. Jadi menurut mereka, tidak ada yang akan melanggar peraturan. Lha kalau lampunya yang mati dianggap melanggar atau dilepas? :mrgreen: Yup, ini bisa diterima juga. Tidak ada yang salah dengan AHO ini kan?

Lanjut…

There Was Something Called “Ngajeni”


Pada jaman dahulu kala, di tanah Jawa, terdapat suatu budaya yakni “ngajeni”. Setiap orang muda memiliki tata krama dalam berhubungan dengan orang yang lebih tua. Tidak hanya itu, setiap anak muda di negeri itu juga menggunakan tata krama baik di dalam maupun di luar rumah, orang yang sudah dikenal maupun belum dikenal, bahkan tidak hanya kepada yang tua namun juga kepada yang lebih muda dengan tujuan mengajarkan kepada generasi berikutnya mengenai “ngajeni”.

Kebudayaan “ngajeni” ini, pada masa jayanya, juga berlaku ketika berada di jalan raya. Tidak ditemukan seorangpun yang semena-mena terhadap pengguna jalan yang lain. Tidak ada saling serobot, tidak dijumpai kendaraan yang ngebut, bahkan tidak ditemukan pengendara yang berjalan melampaui marka. Hal ini membuat peraturan masih sangat fleksibel.

Mari baca selanjutnya

Berkendara dengan Anggun


Ada kebiasaan baru selama beberapa hari terakhir ini. Yaitu berkendara dengan anggun. Hus, anggun bukan nama cewek. Tapi anggun itu adalah elegan, berkesan memiliki kelas. Yah, kalau tidak berkelas, paling tidak, berbudaya. 😈

Kalau masih susah untuk membayangkan anggun, ada contoh yang lebih nyata untuk kata anggun. Dari dunia binatang ada binatang yang dikatakan memiliki penampilan yang anggun. Binatang itu adalah angsa. Jadi anggun disini digambarkan sebagai angsa. 😀

Berkendara seperti angsa

Etika Berkendara


Bertahun-tahun yang lalu saya sempat membaca buku Panduan Berlalulintas. Entah sekarang masih ada atau tidak. Saya membaca buku itu kebetulan ketika saya masih SD. 😈 Sudah terlalu lama sepertinya. Sekarang saya sudah berkepala tiga. :mrgreen:

Dalam buku tersebut dijelaskan secara panjang lebar mengenai cara-cara berkendara yang baik. Mulai dari jalan lurus, parkir, berbelok, berhenti dan sebagainya. Masih ada beberapa yang teringat. Walaupun tidak semuanya. Ingatan saya terbatas. Bahkan sekarang lebih sering lupa daripada ingatnya. Apakah mungkin karena pernah terjatuh di tangga dari lantai dua yang menjadikan saya mudah kehilangan ingatan jangka pendek.

Hubungannya dengan etika berkendara