Bukan Tips Memilih Imam


Siang hari, usai memaksimalkan fasilitas kantor serta meningkatkan imaging kantor. Iseng kursor berjalan menelusuri lekuk liku daftar blog terbaru. Terhenti jalan kursor pada sebuah artikel yang menggelitik rasa keingintahuan. Artikel yang berjudul 11 rasa 23 ini mengarahkan pemikiranku pada permasalahan Tarawih.

Rasa penasaran itu terjawab sudah ketika membukanya dan digantikan dengan rasa terkejut. Belum pernah mendapatkan atau menemukan sebuah pengamatan dan kesimpulan dari sudut pandang tersebut. Sebuah pesan yang terkandung di dalamnya, di bagian akhir ditemukan, “INGAT… imam dipilih untuk diikuti”.

Seketika pikiran…

Iklan

Membedah Golput


Menarik sekali mendiskusikan Golput ini. Seakan tidak ada habisnya jua perbincangannya. Pemahaman mengenai Golput ini juga bermacam-macam. Mulai dari sama sekali tidak berangkat hingga pemahaman yang lebih jauh. Beberapa blog juga sudah mulai mengkampanyekan bahayanya Golput, sekarang boleh saja Golput asalkan pada waktu pemilihan memilih yang terbaik di antara yang terhancur, sambutan baik terhadap fatwa haram, serta yang mempertanyakan keharamannya.

Dari berbagai tulisan tersebut, semuanya mendorong pada pendidikan pemilih. Ya. Jika pada jaman orde batu pemilih diarahkan dan dipermainkan, sekarang pemilih diajak untuk berpikir kemajuan bangsa ini di masa yang akan datang. Kita tidak akan mau jika bangsa ini terpuruk dalam korupsi, kolusi dan nepotisme yang diawali dari calon yang membayar untuk menempatkan namanya, mendapatkan suara, lalu menjalankan metode kejar setoran untuk balik modal.

Logika KKN

Mencari Pegangan di Tengah Kebingungan


Berhari-hari mengamati blogosphere sepertinya tidak ada yang berminat untuk mengulas atau mengamati masalah Pemilu. Yah, sepertinya memang Pemilu bukanlah menjadi pestapora rakyat. Melainkan menjadi pestapora caleg dan partai. Sebagaimana layaknya pesta pernikahan yang melambangkan pasangan yang menikah, umbul-umbul dan bendera yang dipasang adalah mengandung lambang partai dan calegnya. Bukan lambang rakyat.

Mengamati Pemilu dengan tingkah polah caleg, partai dan orang-orang yang berupaya mendongkrak suara cukup membuat pusing. Mulai dari pemasangan baliho, bendera hingga iklan membuat semakin sulit untuk menentukan pilihan. Bahkan pemberitaan kadangkala sulit untuk dapat menjadi sumber yang obyektif.

Lalu, apakah Golput dapat menjadi pilihan?

Pingin Nulis Kampanye


Berhari-hari berjuang mengalahkan kemalasan, akhirnya hari ini masih malas juga. :mrgreen: Tapi ada dorongan yang sangat kuat untuk memberi tips dan trik pada pemilih. Akan tetapi tidak ingin memberi tips dan trik ini sebelum masa kampanye selesai. :mrgreen:

Kok bisa mbulet gitu? Yah, seperti itulah kondisinya. Saat ini saya sedang berada di antara dua sisi. Di satu sisi, ingin memberikan pendidikan bagi pemilih agar tidak golput. Di sisi lain, tidak ingin memberikan pendidikan bagi para calonnya.

Diperkirakan jika diungkapkan pada saat ini, para calon akan cari muka dengan membenahi semua cara kampanye mereka. Pemilih mulai saat ini harus mencemati bagaimana cara calon berkampanye. Mulai dari bentuk kampanye, tempatnya, ketertibannya, kerapiannya, dan sebagainya. Untuk bendera, poster, spanduk dan pamflet, ditempatkan di mana, bagaimana penempatannya dan sebagainya harus juga dicermati.

Selamat mencermati. :mrgreen:

Berpikir tentang yang tidak mungkin


Sudah kebiasaan bila berpikir mengenai hal-hal yang abstrak, yang mungkin tidak normal bagi orang kebanyakan. Bahkan seringkali pemikiran yang muncul jauh dari akal sehat. Selama pemikiran itu tidak untuk menyakiti. :mrgreen:

Salah satu pemikiran yang akhir-akhir ini mengacaukan konsentrasi yaitu mengenai pemilihan ketua kelas, wali kelas, hingga ketua negara-negara di dunia ini. Sejauh dari yang saya ketahui, tidak ada pemilihan yang berani mencantumkan kotak kosong sebagai salah atu calonnya. Sesuatu yang sederhana. Namun tidak memberikan fasilitas bagi mereka yang tidak menginginkan untuk memilih salah satu dari calon yang lolos verifikasi.

Apakah karena kotak kosong tidak dapat melakukan kampanye, hingga tidak dapat dicantumkan di kertas suara. Atau, sebentuk ketakutan kalah dengan kotak kosong dari para penguasa. Atau, kotak kosong menarik lebih banyak pemilih. Entahlah.

Logikanya, bila yang dinamakan Golput adalah mereka yang tidak memilih, maka kotak kosong akan menghilangkan golput. Karena Golput akan ikut memilih di kotak kosong.

Apakah ada pemikiran yang lebih aneh daripada pemikiran ini?

Tips menentukan pilihan


Setelah mengulas Golput dari sisi sebab, statistik serta akibatnya, masih ada hutang yang belum dilunasi. Dalam posting yang berkaitan dengan Golput, sempat disampaikan mengenai solusi agar terhindar dari Golput. Pada kesempatan kali ini akan disampaikan tips memilih dalam Pilkadus.

Seperti pernah diulas, Golput ini sesungguhnya bukanlah bentuk pendidikan politik. Namun lebih kepada pelarian atas ketidakpuasan terhadap sistem maupun calonnya. Kemungkinan besar, pada Pilkadus mendatang akan lebih banyak lagi yang memilih untuk Golput. Disebabkan kecewa dengan sistem yang ada sekarang.

Ulasan tips