Bukan Tips Memilih Imam


Siang hari, usai memaksimalkan fasilitas kantor serta meningkatkan imaging kantor. Iseng kursor berjalan menelusuri lekuk liku daftar blog terbaru. Terhenti jalan kursor pada sebuah artikel yang menggelitik rasa keingintahuan. Artikel yang berjudul 11 rasa 23 ini mengarahkan pemikiranku pada permasalahan Tarawih.

Rasa penasaran itu terjawab sudah ketika membukanya dan digantikan dengan rasa terkejut. Belum pernah mendapatkan atau menemukan sebuah pengamatan dan kesimpulan dari sudut pandang tersebut. Sebuah pesan yang terkandung di dalamnya, di bagian akhir ditemukan, “INGAT… imam dipilih untuk diikuti”.

Seketika pikiran…

Iklan

Membedah Golput


Menarik sekali mendiskusikan Golput ini. Seakan tidak ada habisnya jua perbincangannya. Pemahaman mengenai Golput ini juga bermacam-macam. Mulai dari sama sekali tidak berangkat hingga pemahaman yang lebih jauh. Beberapa blog juga sudah mulai mengkampanyekan bahayanya Golput, sekarang boleh saja Golput asalkan pada waktu pemilihan memilih yang terbaik di antara yang terhancur, sambutan baik terhadap fatwa haram, serta yang mempertanyakan keharamannya.

Dari berbagai tulisan tersebut, semuanya mendorong pada pendidikan pemilih. Ya. Jika pada jaman orde batu pemilih diarahkan dan dipermainkan, sekarang pemilih diajak untuk berpikir kemajuan bangsa ini di masa yang akan datang. Kita tidak akan mau jika bangsa ini terpuruk dalam korupsi, kolusi dan nepotisme yang diawali dari calon yang membayar untuk menempatkan namanya, mendapatkan suara, lalu menjalankan metode kejar setoran untuk balik modal.

Logika KKN

Sisi Lain Kenaikan BBM 02


Menyambung diskusi yang ditumpahkan dalam sisi lain kenaikan BBM episode 1 kemarin. Pemikiran untuk menyambung tulisan tersebut mengganggu pekerjaan utama. Setiap saat selalu muncul. Hanya kata-kata untuk memulainya saja yang masih sulit keluar.

Kemarin malah menemukan sebuah software untuk membuat banner dan segala macamnya dalam bentuk gambar bergerak. Tergelitik untuk mencoba dan berhasil membuat berbagai macam bentuk yang aneh. đŸ˜ˆ Yup, sekarang saatnya membahas lagi kenaikan BBM.

Baca selanjutnya…

Konversi Lalu Naik


Tadi pagi, bangun tidur, langsung ambil koran. Kedaulatan Rakyat jadi sarapan pagi. Hehehe. Seperti biasa, berita hanya dibrowsing dari judulnya aja. Tertegun, terkejut, segala perasaan campur aduk liat satu berita dengan judul “Harga Gas Akan Naik”. Ga lucu nih. Bukankah beberapa waktu yang lalu sedang ramai-ramainya konversi minah jadi gas. Kok sekarang gas dinaikkan harganya.

Bebebrapa waktu yang lalu, Pemerintah melakukan pembagian kompor gas dan tabung gas gratis walaupun tabung gas yang dibagikan tergolong kecil dan harganya diperkirakan terjangkau oleh masyarakat. Namun dalam jangka panjang dapat diperkirakan bahwa penggunaan bahan bakar gas elpiji akan meningkat. Sementara sumberdaya alam fosil semakin berkurang karena terus diambil dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memperbaruinya. Bisa jadi harus menunggu ribuan tahun untuk memperbaruinya. Hampir dapat dipastikan bahwa harganya akan meningkat. Apakah ini juga telah diperhitungkan oleh Pemerintah?

Penggunaan bahan bakar gas memang dapat dibilang lebih hemat karena gas dapat mengeluarkan api yang relatif lebih stabil dan lebih panas dibandingkan dengan minah. Akan tetapi penggunaan dengan kuantitas tabung yang semakin banyak secara bersamaan akan mengakibatkan permintaan bahan bakar gas melonjak cukup besar. Pengaruhnya akan kembali lagi pada sediaan dan harga. Seperti yang dikatakan oleh orang ekonomi bahwa harga akan dipengaruhi oleh besarnya permintaan dan penawaran. Itu masalahnya kembali ke laptop harga.

Sepertinya belum ada antisipasi yang dilakukan oleh Pemerintah dalam menangani permasalahan. Kecenderungan para pelaku Pemerintah adalah mengeluarkan kebijakan yang bersifat reaktif. Contohnya saja ketika kebijakan untuk menggantikan minah menjadi gas dikarenakan subsidi minah yang tidak dinikmati oleh  masyarakat kecil. Maka diupayakan untuk meningkatkan kesejahteraan dengan mengubah minah menjadi gas.

Kemudian ketika permintaan akan gas meningkat, maka Pemerintah menaikkan harga karena jumlah persediaan semakin menipis. Lalu apakah masyarakat harus kembali menggunakan kayu bakar untuk memasak? Hmmm, reaksi apa yang akan diambil oleh Pemerintah dalam menanggapi kenaikan harga gas ini?

Apakah dalam membuat kebijakan tidak melakukan prediksi dan menentukan skenario-skenario antisipasi dalam menangani resiko suatu kebijakan. Sepertinya Pemerintah perlu mendalami Manajemen Resiko. Atau bahkan perlu mempelajari TOWS agar memiliki sense of risk. Sepertinya perlu juga mempelajari teori bisnis agar dapat memperkaya pengetahuan, dan memberikan sedikit nilai tambah dalam hal pelayanan pelanggan dan konsumen. Berarti perlu mempelajari Manajemen Layanan.

Ternyata banyak yang harus dipelajari oleh Pemerintah. Apakah Pemerintah akan berbesar hati dan mulai mempelajari teori-teori tersebut? Hanya waktu yang dapat menjaab semua itu.