Terdampar di Persimpangan


Rangkaian perubahan ke arah yang lebih baik belum tentu bisa berjalan dengan lancar. Kepentingan antara nahkoda dan anak buah kapalnya seringkali berbenturan dan menghasilkan keadaan yang stagnan. Kapal yang ingin dijalankan maju oleh nahkoda terpaksa tidak berubah satu jengkal pun ke arah yang diinginkan. Alhasil, kapal tersebut hanya akan terombang-ambing mengikuti arus yang entah akan membawa ke kejayaan atau kehancuran.

Tidak jauh berbeda dengan situasi pemilihan yang terjadi baik nasional maupun daerah. Gagasan-gagasan independen yang tidak berpihak ke kepentingan politik apapun seringkali berbenturan dengan kebutuhan hidup pendukungnya. Pertentangan ini perlu diluruskan dan disamakan visi dan misinya agar tidak terjadi lagi kondisi stagnan tanpa ada perubahan berarti.

Baca selanjutnya

Membedah Golput


Menarik sekali mendiskusikan Golput ini. Seakan tidak ada habisnya jua perbincangannya. Pemahaman mengenai Golput ini juga bermacam-macam. Mulai dari sama sekali tidak berangkat hingga pemahaman yang lebih jauh. Beberapa blog juga sudah mulai mengkampanyekan bahayanya Golput, sekarang boleh saja Golput asalkan pada waktu pemilihan memilih yang terbaik di antara yang terhancur, sambutan baik terhadap fatwa haram, serta yang mempertanyakan keharamannya.

Dari berbagai tulisan tersebut, semuanya mendorong pada pendidikan pemilih. Ya. Jika pada jaman orde batu pemilih diarahkan dan dipermainkan, sekarang pemilih diajak untuk berpikir kemajuan bangsa ini di masa yang akan datang. Kita tidak akan mau jika bangsa ini terpuruk dalam korupsi, kolusi dan nepotisme yang diawali dari calon yang membayar untuk menempatkan namanya, mendapatkan suara, lalu menjalankan metode kejar setoran untuk balik modal.

Logika KKN

Mencari Pegangan di Tengah Kebingungan


Berhari-hari mengamati blogosphere sepertinya tidak ada yang berminat untuk mengulas atau mengamati masalah Pemilu. Yah, sepertinya memang Pemilu bukanlah menjadi pestapora rakyat. Melainkan menjadi pestapora caleg dan partai. Sebagaimana layaknya pesta pernikahan yang melambangkan pasangan yang menikah, umbul-umbul dan bendera yang dipasang adalah mengandung lambang partai dan calegnya. Bukan lambang rakyat.

Mengamati Pemilu dengan tingkah polah caleg, partai dan orang-orang yang berupaya mendongkrak suara cukup membuat pusing. Mulai dari pemasangan baliho, bendera hingga iklan membuat semakin sulit untuk menentukan pilihan. Bahkan pemberitaan kadangkala sulit untuk dapat menjadi sumber yang obyektif.

Lalu, apakah Golput dapat menjadi pilihan?

Berpikir tentang yang tidak mungkin


Sudah kebiasaan bila berpikir mengenai hal-hal yang abstrak, yang mungkin tidak normal bagi orang kebanyakan. Bahkan seringkali pemikiran yang muncul jauh dari akal sehat. Selama pemikiran itu tidak untuk menyakiti. :mrgreen:

Salah satu pemikiran yang akhir-akhir ini mengacaukan konsentrasi yaitu mengenai pemilihan ketua kelas, wali kelas, hingga ketua negara-negara di dunia ini. Sejauh dari yang saya ketahui, tidak ada pemilihan yang berani mencantumkan kotak kosong sebagai salah atu calonnya. Sesuatu yang sederhana. Namun tidak memberikan fasilitas bagi mereka yang tidak menginginkan untuk memilih salah satu dari calon yang lolos verifikasi.

Apakah karena kotak kosong tidak dapat melakukan kampanye, hingga tidak dapat dicantumkan di kertas suara. Atau, sebentuk ketakutan kalah dengan kotak kosong dari para penguasa. Atau, kotak kosong menarik lebih banyak pemilih. Entahlah.

Logikanya, bila yang dinamakan Golput adalah mereka yang tidak memilih, maka kotak kosong akan menghilangkan golput. Karena Golput akan ikut memilih di kotak kosong.

Apakah ada pemikiran yang lebih aneh daripada pemikiran ini?

Rakyat Butuh Didengar


Banyak media telah memuat berbagai keluhan rakyat kecil. Baik itu media lokal maupun nasional. Sebuah komitmen yang bagus untuk menyebarluaskan kenyataan. Hanya saja mereka, rakyat kecil, tidak memiliki akses langsung untuk menulis di media. Opini dan keluhan mereka hanya berupa reportase wawancara saja.

Sudah sangat lama saya tidak mendengar ada dialog yang mengajak rakyat kecil. Jaman Orba yang lalu, sering saya menemui berita mengenai dialog dengan kelompok kecil manapun. Kalau sekarang sepertinya dialog hanya terjadi di kelompok atas. 👿

Tulisan ga jelas…

Independen yang independen dan independen


Pemilihan Ketua Kelas semakin dekat. Banyak calon mulai bermunculan. Yang menarik dari pemilihan kali ini adalah para calonnya yang independen. Menarik untuk dibahas karena baru kali ini bermunculan banyak calon yang mengaku independen. Beberapa diantaranya memang sungguh-sungguh independen dengan niat menjadikan kondisi yang lebih kondusif.

Keberhasilan calon independen ini sebagian besar ditentukan oleh calon independennya itu sendiri. Bagaimana kerja keras yang dilakukan dengan dukungan tim sukses yang minimal menjadi tantangan tersendiri. Bahkan ada diantara calon independen ini yang lebih banyak menyaring aspirasi masyarakat untuk direalisasikan. Tentu saja calon independen seperti ini yang tidak hanya mengumbar janji demi jabatan Ketua.

Tulisan yang asal ketik…

Akibat Golput


Fenomena Golput ini memang menarik untuk diulas dan digali. Selain dilihat sebab-sebabnya, kemudian digali perhitungannya, sekarang mencoba memikirkan akibat yang ditimbulkan oleh Golput. Bisa jadi akibatnya mengganggu masa depan bangsa atau bahkan merusaknya.

Bila menginginkan perubahan untuk menjadi lebih baik, perlu adanya penyaluran aspirasi. Namun bila aspirasi tidak disalurkan, kekecewaan yang besar akan muncul. Kekecewaan yang besar memicu ketidakpercayaan. Logis bukan?

Baca lanjutannya