Mencari Pegangan di Tengah Kebingungan


Berhari-hari mengamati blogosphere sepertinya tidak ada yang berminat untuk mengulas atau mengamati masalah Pemilu. Yah, sepertinya memang Pemilu bukanlah menjadi pestapora rakyat. Melainkan menjadi pestapora caleg dan partai. Sebagaimana layaknya pesta pernikahan yang melambangkan pasangan yang menikah, umbul-umbul dan bendera yang dipasang adalah mengandung lambang partai dan calegnya. Bukan lambang rakyat.

Mengamati Pemilu dengan tingkah polah caleg, partai dan orang-orang yang berupaya mendongkrak suara cukup membuat pusing. Mulai dari pemasangan baliho, bendera hingga iklan membuat semakin sulit untuk menentukan pilihan. Bahkan pemberitaan kadangkala sulit untuk dapat menjadi sumber yang obyektif.

Lalu, apakah Golput dapat menjadi pilihan?

Terjebak Peringkat


Dunia pendidikan jauh berbeda dengan dunia kerja yang akan dihadapi lulusannya. Berbeda dalam hal sistemnya. Bila dalam dunia pendidikan kebanggaan dirasakan oleh peserta didik yang memiliki prestasi berupa nilai, maka dalam dunia kerja kebanggaan dirasakan oleh pekerja yang berhasil menyelesaikan tugasnya dalam waktu yang ditentukan. Saya ketika pertama kali diberi kesempatan untuk menentukan target waktu kerja, sangat bangga ketika mengetahui bahwa pekerjaan telah selesai lebih cepat dari waktu yang ditentukan.

Dunia kampus perguruan tingi tidak luput dari pola peringkat ini. Banyak dari mahasiswa yang mengikuti mata kuliah mampu mendapatkan nilai yang cukup tinggi. Namun ketika saya bertemu kembali dengan mereka beberapa minggu kemudian, mereka malah menanyakan tentang salah satu penjelasan saya dalam kelas. Lho, sampeyan waktu di kelas dapat apa?

Kecenderungan ini apa sih sebabnya?

Diskusi Tujuh


Diskusi kelihatannya semakin memanas nih. Baik, sedikit warning bagi yang tidak memberikan komen untuk diskusi online, karena pembagi nilai total untuk menghasilkan nilai akhir adalah sama termasuk diskusi online. Jadi mohon maaf sebelumnya bila nanti setelah terjadi pembagian nilainya tidak mencukupi karena tidak aktif dalam diskusi

Memasuki diskusi ketujuh untuk periode kuliah ini. Dalam diskusi ini akan mengambil tema “Kualitas Pendidikan”.

Latar Belakang

Bangsa Indonesia dikenal secara luas di seluruh dunia sebagai negara yang berkembang. Sebagai negara yang sedang berkembang, Indonesia terus menerus berupaya untuk memajukan dan menyejahterakan kehidupan masyarakatnya. Salah satunya adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikan.

Upaya meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia melalui dunia pendidikan dimaksudkan agar masyarakat Indonesia khususnya generasi muda memiliki daya saing dan daya tawar yang lebih baik di dunia kerja. Salah satu cara untuk memperluas masyarakat berpendidikan adalah dengan mengeluarkan kebijakan tentang wajib belajar yang dahulu enam tahun menjadi sembilan tahun. Ditambah lagi dengan kebijakan mengenai sekolah gratis untuk tingkatan tertentu.

Sekolah gratis tentu saja tidak menunjukkan adanya peningkatan kualitas secara otomatis. Cara untuk mengetahui kualitas siswa adalah dengan evaluasi belajar berupa ujian baik di tengah semester maupun akhir semester. Bila perlu adalah dengan ditambah tugas-tugas atau kuis.

Sebuah evaluasi yang baik akan dapat menunjukkan kualitas apabila memiliki standar tertentu. Standar kualitas ini haruslah dicapai agar dapat dikatakan bahwa yang dievaluasi memiliki kualitas. Sebuah bidang baru dapat dikatakan berkualitas baik apabila standar kualitas tersebut berlaku secara universal. Tentu saja, standar kualitas ini dibuat untuk menyeragamkan atau menyamakan persepsi orang dalam melihat hasil evaluasi.

Permasalahan

Evaluasi dalam bidang pendidikan biasa dikenal dengan ujian. Ujian sekolah yang memiliki standar secara universal adalah Ujian Akhir Nasional. Berdasarkan uraian di atas, permasalahan diskusi kita kali ini adalah “Apakah UAN masih diperlukan?