Baru rame-rame urusan klaim belum tuntas, muncul urusan baru yang mengejutkan banyak pihak. Urusan yang tampak sepele, namun sangat mendasar. Urusan yang bagi sementara orang tampak sangat sederhana, namun di sisi lain merupakan penghinaan yang sangat besar. Sementara orang menganggap bahwa hal ini tidak perlu dibesar-besarkan, namun jika dianggap kecil maka seutuhnya akan dianggap angin lalu.

Jika seorang wanita akan berteriak, menyerang, melabrak wanita lain yang merusak suaminya. Jika seorang ibu akan berteriak, menyerang, menyerbu mereka yang mencoba merusak anaknya. Jika seorang suami akan berusaha sekuat tenaga, mempertaruhkan nyawa demi membela keluarganya. Jika sebuah bangsa akan berupaya sekuat tenaga, mempertaruhkan nyawa demi membela bangsa dan mempertahankan semua yang ada di dalamnya. Jika seorang penghianat, dia akan diam saja ketika kebanggaan bangsanya, identitas bangsanya, harga diri bangsanya diinjak-injak oleh bangsa lain, dan jika perlu berubah kebangsaan.

Saudaraku sebangsa dan setanah air…

Sudah lama sekali tidak main di WP ini. Kasihan ditelantarkan hampir setahun (lagi). Keburu diklaim orang lain nih. Kondisinya sekarang berbahaya dengan klaim mengklaim. Kadang lucu juga melihat urusan klaim mengklaim ini. Banyak orang yang melakukan klaim jika terjadi kecelakaan. Ini tidak ada hujan, tidak ada angin, apalagi kecelakaan, tiba-tiba terjadi klaim. Dan yang diklaim yang diperhitungkan akan menguntungkan. Buktinya tidak ada yang melakukan klaim terhadap budaya korupsi. Atau ada upaya untuk melakukan klaim terhadap budaya korupsi juga ya. :mrgreen:

Ternyata kasus klaim ini tidak hanya dilakukan satu atau dua kali. Namun sudah ditemukan sebanyak 32 oleh Imbalo. Tidak disangka bahwa banyak sekali upaya untuk merampok bangsa Indonesia ini. Tidak hanya hutan yang digunduli dan dibakar oleh mereka yang menjual kayunya. Kekayaan laut tidak hanya satu atau dua kali juga angkatan laut atau kepolisian laut menangkap nelayan ilegal. Dan masih banyak lagi yang sudah ketahuan dan yang belum terungkap.

Lanjut…

Menarik sekali mendiskusikan Golput ini. Seakan tidak ada habisnya jua perbincangannya. Pemahaman mengenai Golput ini juga bermacam-macam. Mulai dari sama sekali tidak berangkat hingga pemahaman yang lebih jauh. Beberapa blog juga sudah mulai mengkampanyekan bahayanya Golput, sekarang boleh saja Golput asalkan pada waktu pemilihan memilih yang terbaik di antara yang terhancur, sambutan baik terhadap fatwa haram, serta yang mempertanyakan keharamannya.

Dari berbagai tulisan tersebut, semuanya mendorong pada pendidikan pemilih. Ya. Jika pada jaman orde batu pemilih diarahkan dan dipermainkan, sekarang pemilih diajak untuk berpikir kemajuan bangsa ini di masa yang akan datang. Kita tidak akan mau jika bangsa ini terpuruk dalam korupsi, kolusi dan nepotisme yang diawali dari calon yang membayar untuk menempatkan namanya, mendapatkan suara, lalu menjalankan metode kejar setoran untuk balik modal.

Logika KKN

Berhari-hari mengamati blogosphere sepertinya tidak ada yang berminat untuk mengulas atau mengamati masalah Pemilu. Yah, sepertinya memang Pemilu bukanlah menjadi pestapora rakyat. Melainkan menjadi pestapora caleg dan partai. Sebagaimana layaknya pesta pernikahan yang melambangkan pasangan yang menikah, umbul-umbul dan bendera yang dipasang adalah mengandung lambang partai dan calegnya. Bukan lambang rakyat.

Mengamati Pemilu dengan tingkah polah caleg, partai dan orang-orang yang berupaya mendongkrak suara cukup membuat pusing. Mulai dari pemasangan baliho, bendera hingga iklan membuat semakin sulit untuk menentukan pilihan. Bahkan pemberitaan kadangkala sulit untuk dapat menjadi sumber yang obyektif.

Lalu, apakah Golput dapat menjadi pilihan?

Berhari-hari berjuang mengalahkan kemalasan, akhirnya hari ini masih malas juga. :mrgreen: Tapi ada dorongan yang sangat kuat untuk memberi tips dan trik pada pemilih. Akan tetapi tidak ingin memberi tips dan trik ini sebelum masa kampanye selesai. :mrgreen:

Kok bisa mbulet gitu? Yah, seperti itulah kondisinya. Saat ini saya sedang berada di antara dua sisi. Di satu sisi, ingin memberikan pendidikan bagi pemilih agar tidak golput. Di sisi lain, tidak ingin memberikan pendidikan bagi para calonnya.

Diperkirakan jika diungkapkan pada saat ini, para calon akan cari muka dengan membenahi semua cara kampanye mereka. Pemilih mulai saat ini harus mencemati bagaimana cara calon berkampanye. Mulai dari bentuk kampanye, tempatnya, ketertibannya, kerapiannya, dan sebagainya. Untuk bendera, poster, spanduk dan pamflet, ditempatkan di mana, bagaimana penempatannya dan sebagainya harus juga dicermati.

Selamat mencermati. :mrgreen:

Kaget juga liat dashboard WP kali ini. Sudah lama sekali tidak membuka WP. Dan mendadak melihat dashboardnya sudah berubah lagi. Hehehe. Sampai tidak tahu kabarnya juga. Belum terbiasa dengan yang kemarin, sekarang sudah berubah lagi. Belum juga browsing beritanya. Hehehe.

Jadi membiasakan diri lagi ah.

Sudah lama sekali tidak melakukan update di blog ini. Bukan karena kesibukan yang padat. Namun lebih karena sudah kehabisan cara untuk mendapatkan ide tulisan. Alasan yang klise. :) )

Namun beberapa waktu yang lalu sempat membuat tulisan di sini yang pada intinya menanti adanya flatline dalam statistik blog ini. Namun dalam kenyataannya statistik tetap saja meningkat. Entah apa sebabnya. :D

Baru…

Tutor-Kuliah Metode Kuantitatif sudah berjalan selama dua minggu. Ketua kelasnya kok minim kontak sama tutor ya? Ga masalah sih. Lha ppt-nya aja belum terkumpul semua. Jadi mungkin baru minggu depan sempat dibagikan ppt-nya.

Kembali ke laptop masalah kuliah. Kuliah hari Jumat, 19 September 2008 karena satu dan lain hal tidak jadi diadakan di MAP. Kuliah dikembalikan ke Ruang 4 Fisipol jam 08.00. Kuliah tersebut akan sekaligus dibuat dua sesi seperti yang telah disepakati Jumat kemarin.

Jadi jangan terlambat ya. :mrgreen:

Kisah ini berawal kemarin. Ya, kemarin. Kemarin lihat2 belok op de dei trus nyasar ke sini, sini, dan sini. Lalu hari ini berburu berita di sini dan sini. Trus tadi sudah download lalu install.

Masalahnya hanya belum familiar sama tampilan browsernya. Tidak terbiasa dengan tampilan menu bar yang minimalis. Option juga ternyata disembunyikan di ujung kanan browser. Perlu pembiasaan lagi nih.

Oke, klo gitu gw siapin dulu skrinsutnya ah. Klo sempat ya. :twisted:

Ada kebiasaan baru selama beberapa hari terakhir ini. Yaitu berkendara dengan anggun. Hus, anggun bukan nama cewek. Tapi anggun itu adalah elegan, berkesan memiliki kelas. Yah, kalau tidak berkelas, paling tidak, berbudaya. :twisted:

Kalau masih susah untuk membayangkan anggun, ada contoh yang lebih nyata untuk kata anggun. Dari dunia binatang ada binatang yang dikatakan memiliki penampilan yang anggun. Binatang itu adalah angsa. Jadi anggun disini digambarkan sebagai angsa. :D

Berkendara seperti angsa

Halaman Berikutnya »